
Hari ibu dirayakan di seluruh Indonesia pada tanggal 22 Desember 2021. Ibu menjadi primadona yang disanjung dan dielu-elukan satu hari itu.
Meskipun sejarah hari ibu dijadikan sebagai hari nasional tidak ada hubungannya dengan kasih sayang ibu kepada anaknya, tetap saja makna hari ibu membias ke segala bentuk kasih sayangnya sebagai sosok ibu bagi anak-anaknya.
Hari ibu sebenarnya ditujukan pada pertemuan kongres 30 organisasi perempuan yang berkumpul di Jogjakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. Pertemuan tersebut menjadi tombak semangat para perempuan Indonesia dalam memajukan bangsa. Seiring berkembangnya jaman, hari ibu bergeser ke nilai-nilai individu dari seorang ibu untuk keluarganya.
Daftar Isi
Hari Ibu Untuk Para Ibu yang Baik Hati

Setiap tahun di tanggal 22 Desember kita selalu disuguhi pemandangan indah mengenai perayaan hari ibu yang spesial.
Anak-anak menceritakan bagaimana ibu mereka memberikan kasih sayang berlimpah, seberapa hebat ibu mereka dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya tanpa pamrih dan penuh cinta kasih, serta cerita hebat lainnya mengenai ibu yang baik hati.
Masalahnya bagaimana dengan para ibu yang tidak baik hati, ibu yang menelantarkan anaknya, ibu yang membuang anaknya di jalanan atau meninggalkannya saat bayi di panti asuhan. Apa ibu yang seperti ini masih pantas diberikan perayaan hari ibu yang penuh kasih sayang?
Saya kok melihat perayaan hari ibu selama ini ini hanya ditujukan untuk para ibu yang baik hati ya. Lalu dimana para ibu yang memberikan luka membekas bagi anak-anaknya. Ibu yang memberikan pendidikan buruk kepada anak-anaknya, sehingga anak-anak menjadi sosok yang membenci ibunya.
Iya, tidak semua anak menyanyangi ibunya. Ada yang juga membencinya bahkan membunuhnya. Bagaimana mungkin hal sekeji itu bisa terjadi. Saya sendiri masih belajar menjadi ibu dari anak-anak. Belajar mendidiknya agar menjadi anak yang baik dan sayang kepada orang lain dan hormat kepada orang tua. Kalau terjadi kesalahan, itu wajar.
Sebagai orang luar yang tidak tahu permasalahan apa yang terjadi antara ibu dan anak, kita seringkali menuduh terlalu cepat kepada si anak. Menganggapnya sebagai anak durhaka karena sudah tega melukai ibunya.
Lalu bagaimana dengan ibu yang memberikan traumatic kepada anaknya, sehingga anaknya terluka terlalu dalam hingga menjadi pemberontak, bahkan mengalami gangguan kejiwaan. Apakah tetap anak yang disalahkan?
Ingat, ada anak yang durhaka kepada orang tua. Tapi ada juga orang tua yang durhaka kepada anaknya. Sebagai orang tua, kita juga dituntut untuk memberikan hak-hak anak untuk disayangi dan diberikan perhatian penuh. Jika kita berbuat tidak baik kepada anak, pertanggung jawaban di akherat kelak akan berat.
Bercermin dari Kisah Isabela Guzman
Ingat tidak dengan peristiwa yang pernah viral beberapa tahun lalu. Seorang anak berusia 18 tahun tega menusuk ibu kandungnya sendiri di wajah dan leher berulang kali sampai meninggal dunia. Ironisnya, tak ada perasaan bersalah sama sekali di wajah si anak atas tindakan yang sudah dilakukannya kepada ibunya.
Adalah Isabela Guzman. Gadis cantik berusia 18 tahun yang tinggal bersama ibunya di Colorado, Amerika Serikat itu ditangkap polisi 16 jam setelah aksinya menghabisi nyawa ibunya dengan keji. Yaitu dengan menusuk wajah dan lehernya sebanyak 79 kali.
Ironisnya, setelah melakukan perbuatan tersebut, Isabella pergi ke minimarket untuk membersihkan diri. Isabella juga berbohong kepada pemilik minimarket bahwa dirinya baru saja diperkosa dan minta tolong untuk diijinkan membersihkan diri di toilet minimarket. Anehnya, Isabella menolak diantar pulang dan melarang pemilik minimarket untuk menelpon polisi.
Saat ditangkap pun, Isabella terlihat sangat tenang. Bahkan gadis yang berwajah cantik itu tersenyum saat berada di pengadilan. Ada perasaan lega dan senang atas apa yang sudah dilakukannya. Atas sikapnya yang tenang itulah, banyak yang menudingnya sebagai psikopat cantik.

Apa yang salah dengan Isabella. Kenapa remaja 18 tahun itu tega membunuh ibunya sendiri. Segala macam hujatan dilayangkan kepada gadis yang kini sudah berusia 25 tahun. Anak durhaka, pembunuh, priskopat, dan berbagai julukan yang menusuk lainnya.
Oke baik, dari kacamata orang luar kita bisa saja menghujatnya dan membela sang ibu yang malang. Mati di tangan anaknya sendiri. Tapi coba kita ubah sudut pandang kita dengan melihat dari sisi Isabella. Kenapa dia bisa melakukan hal sekeji itu kepada ibunya. Tidak mungkin kan ada asap kalau tidak ada apinya.
Setelah saya telusuri ke beberapa sumber, penyebabnya ternyata adalah :
Isabella Tak Pernah Akur Dengan Ibunya
Hubungan Isabella dengan ibunya rupanya tak pernah akur sebelum kejadian pembunuhan itu. Isabella kerap bertengkar dengan sang ibu, hingga membuat Isabella sulit mengendalikan diri.
Keterangan yang didapat dari dokter yang merawat Isabella setelah gadis cantik itu divonis bersalah, menjelaskan bahwa Isabella menderita gangguan jiwa akut yaitu Schizophrenia. Isabella kerap menatap kosong ke ruangan, bicara sendiri dengan sosok yang tak terlihat dan tertawa sendiri.
Isabella bahkan dengan penuh keyakinan bilang kalau ibu yang dibunuhnya bukanlah ibu kandungnya. Gadis itu selalu menganggap bahwa ibu kandungnya adalah seorang perempuan bernama Cecela. Isabella bahkan berpendapat bahwa ibunya harus dibunuh untuk menyelamatkan dunia.
Itulah kenapa ekspresi wajah Isabella nampak senang saat di pengadilan. Seolah gadis itu lega karena sudah berhasil menyelamatkan dunia dengan cara membunuh ibunya. Benar-benar gangguan jiwa yang parah.
Apa yang sudah dilakukan sang ibu sampai Isabella menderita gangguan jiwa tersebut. Pertengkaran bertahun-tahun tentunya membuat luka yang mendalam di hati gadis yang berambut panjang itu, sehingga lukanya mengakar dan akhirnya memberontak.
Pantas saja dokter yang menangani Isabella membelanya, karena menganggap Isabella tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Isabella hanya mengikuti apa yang didengarnya dari pikirannya yang berkelana kemana-mana. Mental gadis itu sedang hancur dan ibunya yang sudah menghancurkannya.
Isabella Dijadikan Percobaan Softlens Ilegal Oleh Ibunya
Sumber lain mengatakan bahwa Isabella rupanya dijadikan bahan percobaan softlens illegal oleh ibunya. Isabella tidak mau karena matanya menjadi sakit. Tapi ibunya memaksa demi kepentingannya sendiri.
Kejadian seperti ini pasti berlangsung sudah lama, sampai Isabella memendam kebencian yang mendalam kepada ibunya. Gadis cantik itu dilukai secara fisik dan psikis oleh ibunya sendiri. Pertanyaannya sekarang dibalik. Kenapa ibunya tega melakukan semua itu kepada Isabella, anaknya sendiri.
Dari sumber lain bahkan menyebutkan bahwa sebelum kejadian pembunuhan itu, Isabella sempat mengirim pesan email kepada ibunya berisi ancaman. Tulisanya berbunyi “ Anda akan membayar.” Yun-Mi Hoy tentu saja ketakutan dengan pesan tersebut dan merasa bahwa anaknya sedang tidak main-main.
Ibu Isabella Menikah Lagi
Yun-Mi Hoy, ibunya Isabella menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Ryan Hoy. Isabella sepertinya tidak menyetujui pernikahan itu, tapi ibunya tetap menikahi lelaki pujaan hatinya. Bisa jadi disinilah puncak kemarahan Isabella tertuju pada ibunya.
Isabella yang dilaporkan mengidap gangguan jiwa itu, dilaporkan bersikap santai sebelum membunuh ibunya. Bahkan Isabella berada di dalam kamarnya seolah menunggu waktu. Tak pernah ada yang tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Bisa jadi ada suara-suara yang menyuruhnya untuk segera bertindak.
Saat mendengar ibunya pulang kerja dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat itulah Isabella mengambil pisau dan langsung masuk ke kamar mandi untuk menikam ibunya tanpa ampun.
Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Kisah Isabella Guzman
Apa yang terjadi dengan Isabella bisa saja terjadi dengan para gadis di sekitar kita. Bertengkar dengan sang ibu hingga pergi dari rumah. Bahkan membenci ibu dan tidak mau mengakuinya.
Memang benar, sebagai seorang anak kita tidak boleh membenci ibu. Bagaimanapun juga, ibu adalah sosok yang melahirkan dan membesarkan kita. Apapun yang dilakukan ibu kita, wajib bagi kita untuk menghormatinya.
Lalu bagaimana dengan sosok ibu yang melukai anaknya, membentaknya, menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak disukai anak dan memaksanya, memukulinya dan melakukan tindakan yang membuat anak jadi traumatis.
Apakah anak tetap jadi pihak yang salah dan ibu selalu benar. Jika anak sampai traumatis dan menderita gangguan jiwa, pastilah luka batin yang dideritanya sangat dalam. Miris sekali jika justru ibunya sendiri yang sudah melukai anaknya sampai sakit jiwa. Berarti ibunya lebih kejam kepada anaknya.
Efek Buruk Bersikap Kasar Kepada Anak

Mendidik anak adalah tugas orang tua, baik ayah ataupun ibu. Jika ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, maka ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Baik anak perempuan maupun anak laki-laki.
Artinya bagaimana sifat dan sikap anak terbentuk dari cara mendidik orang tua kepada anaknya. Berikan kasih sayang yang tulus kepada mereka dan jangan sekali-kali membentaknya. Kalaupun sudah terlanjur membentak anak, pastikan orang tua untuk meminta maaf. Hal seperti ini sama dengan mengajarkan anak untuk selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan.
Marah itu manusiawi. Saya pun kadang membentak anak, ketika anak saya melakukan hal yang membuat saya marah. Seperti malas belajar, terus menerus main hp atau bertengkar dengan adiknya. Tapi setelah itu, saya pasti langsung menyesal dan meminta maaf kepada anak saya.
Bisa jadi anak malas belajar karena jenuh di rumah saja, anak mainan hp karena bosan dan tidak ada yang bisa dikerjakan di rumah. Sementara bertengkar dengan adik karena ingin menarik perhatian ibunya yang sibuk sendiri. Bahkan ada anak yang sakit parah seperti pneumonia anak, sehingga ibu menjadi panik dan menyesal belakangan.
Semuanya kembali kepada ibunya dan itulah yang akhirnya saya sadari. Terbukti ketika anak saya sibuk main hp, dan saya mengalihkannya dengan menemani bermain mobil-mobilan dan boneka, anak saya bisa meletakkan hpnya. Atau saya ajak membantu papanya berkebun, anak saya tidak menyentuh hp. Bahkan ketika saya menemani anak-anak bermain, kakak dan adik bisa sangat akur.
Anak-anak belum tahu mana yang baik dan mana yang benar. Orang tualah yang harus mengarahkannya dan memberitahunya dengan sabar. Jika emosi yang didahulukan, maka beberapa efek buruk seperti ini bisa saja terjadi pada anak kita:
Tumbuh Jadi Sosok Pemarah
Orang tua yang sering membentak anaknya, akan melukai perasaannya dan membekas hingga dewasa sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Bisa jadi perasaan luka itu hilang, tapi bisa jadi tak bisa hilang dan menjadi dendam berkepanjangan yang tak tahu kapan berakhirnya.
Secara tidak langsung pola asuh orang tua yang suka membentak ini akan terbawa pada kepribadian anak, sehingga anak mencontoh sikap orang tuanya. Akibatnya ketika berada di lingkungan sosial, anak pun seirng membentak saat marah. Karena itulah yang dilakukan orangtuanya ketika marah.
Sikap Percaya Diri Jadi Berkurang
Membentak anak di tempat umum bisa membuat rasa percaya diri anak berkurang loh. Anak jadi malu dan tidak berani berbuat sesuatu di depan umum, karena takut salah. Jika keadaan seperti ini diteruskan, anak bisa tumbuh menjadi pemalu dan tidak punya rasa percaya diri yang tinggi.
Kasihan anaknya, jadi minderan dan tidak pede ketika bergaul dengan teman-temannya. Kalau di sekolah, anak yang seperti ini sukanya menyendiri dan tidak berani berbuat salah di depan teman-temannya. Karena takut dimarahi seperti apa yang dilakukan orangtuanya.
Perasaan dipermalukan di depan banyak orang ini pun bisa membekas di dalam hati anak sampai dewasa. Jika dibiarkan begitu saja, bisa berdampak buruk pada perkembangan pemikirannya.
Sulit Diatur
Jika orang tua sudah sering melukai hati anak, bisa jadi anak merasa tidak nyaman dengan perlakuan orangtuanya dan memilih berada di luar rumah selama mungkin. Anak pun tumbuh menjadi sosok pemberontak.
Hal seperti ini bisa terjadi jika perlakuan tidak nyaman orang tua diterima anak hampir setiap hari. Anak tidak mendapatkan lagi rasa nyaman ketika bersama orangtuanya dan mencari kenyamanannya sendri di luar rumah.
Takut Bereksplorasi
Sikap kasar dan bentakan orang tua kepada anaknya, akan membuat anak menjadi pribadi yang tertutup dan takut melakukan hal-hal baru. Orangtua akan menyalahkannya jika si anak melakukan kesalahan. Padahal berbuat salah itu perlu untuk mendidik anak mengenal mana perbuatan salah dan mana yang benar.
Biarkan saja anak melakukan kesalahan. Orangtua yang meluruskannya dan memberitahunya bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan segera meluruskannya. Dengan begitu, anak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
Jika apa-apa dilarang dan dimarahi, anak tidak bisa apa-apa karena tidak bisa bereksplorasi diri. Padahal usia anak-anak adalah saat rasa ingin tahu anak tumbuh dengan besar. Kesempatan emas bagi anak mengenal lingkungan dengan mencoba hal baru, tapi tetap dengan pengawasan orang tua ya.
Membentuk Keluarga yang Kurang Harmonis
Anak yang sering dimarahi dan diperlakukan tidak baik oleh orang tuanya terutama ibunya, akan merasa dirinya tidak dicintai lagi. Anak pun jadi membenci ibunya dan menganggap dirinya anak yang tak berguna.
Hubungan ibu dan anak pun jadi tidak harmonis, sehingga suasana rumah jadi tidak nyaman. Kalau keadaan seperti ini dibiarkan terus menerus, ikatan cinta anak ke ibu bisa hilang dan rasa hormat anak ke ibu pun tak akan ada lagi. Anak merasa ibunya membencinya, sehingga anak pun akan membenci ibunya.
Sayang banget kan. Makanya buat para ibu, kurangi membentak dan memarahi anak. Berikan kasih sayang berlebih kepada anak tanpa pamrih, karena apa yang kita tanam itu pula yang kita tuai.
Kalaupun anak membenci ibunya karena pengaruh lingkungan yang buruk, sebagai sosok ibu harus bisa mengarahkan anaknya dan tetap mencintainya tanpa batas. Cinta ibu menguatkan anaknya. Kalau ibu sudah tidak memberikan cintanya untuk sang buah hati, anak pun tumbuh tanpa cinta. Kasihan kan.
Prestasi Di Sekolah Menurun
Perlakuan kasar dan tidak menyenangkan yang diterima anak dari orangtuanya, akan berdampak pada mental anak. Hal ini bisa terbawa terus bahkan sampai ke lingkungan sekolahnya. Anak jadi tidak bisa konsentrasi belajar karena trauma dengan perlakuan orang tuanya.
Bisa jadi anak takut pulang ke rumah dan memikirkan banyak hal tentang orangtunya. Takut dimarahi dan ketakutan-ketakutan yang lain. Jika dibiarkan terus menerus, prestasi anak di sekolah pun jadi memburuk. Kasihan bunda.
Rentan Mengalami Gangguan Jiwa
Puncak dari segala tindakan kekerasan dan perlakuan kasar orang tua kepada anaknya adalah gangguan jiwa yang dialami oleh anak. Bentakan dan perkataan kasar orangtua, terutama ibu bisa membekas lama di dalam hati anak, bahkan ada yang tidak bisa hilang.
Perasaan terluka ini jika dibiarkan terlalu lama, akan merusak mental anak. Sehingga anak menjadi pendiam, penakut, bahkan penyendiri. Tak jarang anak jadi merasa mendengar sesuatu seperti suara yang berputar di kepalanya.
Suara-suara delusi seperti itu muncul akibat tekanan batin yang terlalu berat. Sehingga lama kelamaan suara-suara itu menguasai si anak, sehingga anak pun mengalami schizophrenia.
Anak Tanggung Jawab Orang Tuanya
Saya bisa melihat bahwa Isabella Guzman sebenarnya adalah korban. Rasa kasihan seharusnya ditujukan kepada Isabella, bukan ibunya. Gadis manis itu sampai mengalami gangguan jiwa saat membunuh ibunya. Artinya luka batin yang dideritanya sudah sangat kronis.
Pengadilan pun tidak bisa memenjarakan Isabella karena terbukti gadis manis itu sedang sakit jiwa. Isabella tidak tahu bahwa tindakannya membunuh ibunya adalah sebuah kesalahan. Bahkan Isabella merasa tindakannya benar karena sudah menyelamatkan dunia, seperti suara-suara yang terngiang di kepalanya.
Kalau sudah seperti itu, siapa yang seharusnya disalahkan.
Anak adalah tanggung jawab orangtuanya. Menemukan karakter anak sejak dini menjadi bagian dari tugas orang tua. Apa yang terjadi pada anak, sepenuhnya karena cerminan perbuatan orangtuanya. Dalam hal ini ibunya, karena biasanya ibu yang memiliki perasaan dekat dengan anaknya.
Sebuah tamparan keras bagi saya, karena saya juga ibu dari dua anak yang masih kecil. Umur 8 tahun dan 5 tahun. Saya juga kerap membentak anak ketika saya marah. Tapi buru-buru saya minta maaf, bahkan saya sering menangis kalau sudah memarahi anak sampai anak saya menangis.
Saya tidak ingin perasaan anak saya terluka dan membekas di hatinya sampai dewasa. Saya pun sering memeluk anak saya dan mengatakan bahwa saya sangat mencintai mereka.
Lalu bagaimana dengan ibu saya?
Saya menganggap ibu saya tidak tahu ketika perasaan saya dilukai sampai membekas hingga sekarang. Kalaupun tahu, ibu saya sudah minta maaf kepada saya dan pastinya sudah saya maafkan.
Saya memeluk ibu saya yang saya panggil “mama” dan berharap bisa selalu membuatnya tersenyum. Meskipun sering saya dan adik – adik saya melukai hati mama, tetap saja mama yang meminta maaf lebih dulu.
Sikap mama yang mengajari saya untuk minta maaf kepada siapapun termasuk anak, mengajarkan saya bahwa orangtua juga bisa punya salah dan harus meminta maaf kepada anak, meskipun pada dasarnya anak yang bersalah. Permintaan maaf tersebut meruntuhkan dosa-dosa ibu kepada anaknya dan insyaAllah menjadi bekal di akherat kelak.
Saya sendiri sekarang belajar untuk mengontrol emosi dan memahami anak. Ketika anak melakukan kesalahan, saya harus berkaca pada diri sendiri. Mungkin saya yang salah, sampai anak saya membuat saya marah.
Seperti ketika anak merengek terus minta jalan-jalan karena ternyata anak bosan di rumah dan saya sedang sibuk dengan pekerjaan. Anak sengaja mencari perhatian agar dirinya juga punya waktu bersama mamanya.
Ketika saya menyadari hal tersebut, saya berhenti bekerja dan menutup laptop. Lalu merangkul anak saya dan mengajaknya bermain bersama. Saya juga mematikan hp ketika mengajaknya jalan-jalan, lalu menggandengnya sepanjang jalan seolah waktu milik kita bersama.
Selamat hari ibu mama-mama, bunda-bunda, ibu – ibu yang hebat. Tetap temani anak dalam suka dan duka ya. Tanamkan perlakuan baik kepada anak karena itulah yang akan anak-anak berikan kepada kita nanti. Kurangi bersikap kasar dan lembutkan hati.
Ingat, doa ibu itu mudah dikabulkan. Maka doakan yang baik-baik untuk anak kita. Kalaupun anak kita nakal, doakan agar anak kita menjadi anak yang berguna. Karena pada dasarnya tidak ada anak nakal, yang ada adalah anak yang kurang perhatian.
Selamat hari ibu.
**
Referensi :


16 Comments. Leave new
Sedih bacanya. Tapi memang benar, bahkan ngga sedikit yang saat ini sedang berjuang untuk pulih dari ‘luka’ karena orangtua. Luka ini ternyata memang akibatnya parah. Jadi keinget juga sama kasus Ryan Jombang yang nyatanya sering dimarahi sampai disakiti orangtuanya sejak kecil. Sehingga dia ngga ada rasa bersalah juga menghabisi nyawa orang di rumah orangtuanya sendiri 🙁
Semoga kita bisa jadi orangtua yang bijaksana serta adil dan menempatkan anak sesuai fitrahnya ya kak
Aaammin, semua kembali pada diri kita sebagai orang tua kak. baik buruknya anak tergantung bagaimana sikap kita kepada anak-anak.
Wah, nasihat yang sangat lengkap, panjang, mengena, dan luar biasa tentang pendidikan keluarga! Benar sih, hari ibu kemarin itu kok hanya ditujukan untuk kaum ibu yang baik-baik saja.
Padahal setiap ibu perlu merenung dan muhasabah, apakah dia memang pantas jadi seorang ibu? Jangan-jangan karena punya anak saja, lalu disebut ibu?
Kalau sekadar punya anak, kucing juga punya anak. Tentunya dong kita tidak bisa disamakan dengan kucing. Mantap tulisannya!
Terima kasih kak.
Jadi ibu itu emang berat, nggak cuma untuk saat ini, tapi sampai anak-anaknya dewasa, bahkan sampai punya cucu.
Saya pun kadang tanya sama-anak-anak mbak, “kalian bahagia nggak punya mama kayak saya?”
kalau anaknya bilang bahagia, rasanya senang banget ya mbak. Gak bisa digantikan dengan kata kata
Ini bisa jadi pelajaran buat ibu – ibu kalau jangan bentak anak apalagi memarahi nya jika salah lebih baik ditegur saja
Benar. Ditegur halus dan diarahkan bahwa apa yang dilakukan anak itu salah. bagaimanapun juga anak masih belum tahu benar dan salah. orangtua yang berkewajiban memberitahunya. semangat kak
Antara sedih dan ngeri euy, baca kisah Issabela Guzman. Masih heran, apapun alasannya. Segitu parahnya ya dampak pengasuhan yang engga bener…
Jangan lagi deh ada Issabela-Issabela lainnya…
Aaamin. semoga ya mbak. Semua berawal dari diri sendiiri dan tamparan keras buat para ibu terutama aku. semoga kita bisa saling belajar untuk memberikan pengasuhan yang baik bagi anak kita ya.
Kisah Isabella dan ibunya baru bagiku. Rupanya tak setenar namanya. Seorang ibu memang jadi cermin bagi anaknya. Mudah-mudahan semakin banyak ibu yang bisa menjadi ibu yang sebenarnya yang bisa ditiru anaknya.
Aaamin. terima kasih pandangannya pak guru.
Kemarin waktunya ambil rapor semester 1 anak saya. Di sesi pembagian rapor secara daring itu, ada sesi untuk berdiskusi antara ustad/ustadzah dengan orang tua terkait perkembangan anak.
Dalam sesi tersebut, kami mendapat masukan yang cukup menampar Mbak. Ust/usd mengapresiasi sekali perkembangan anak saya dibandingkan teman sekelasnya. Namun, mereka melihat anak saya ini kaya kurang loss dan takut salah.
Dan ya, itu terjadi karena andil kami, orang tuanya yang terlalu melarang ini itu, nggak boleh jawab pertanyaan kalau ga yakin sama jawabannya. Akhirnya, yang tampak di mata ust/usd adalah seorang anak yang ‘terkekang’.
Saya dan mamanya setelah sesi itu langsung guilty feeling dengan cara kami mengasuh anak kami
Waktu mbak Wahyu mention tentang dampak marah-marah pada anak ini, somehow langsung mengingatkan saya pada bagaimana kesalahan kami sebagai orang tua.
Masih ada waktu kak. Kurangi marah marah dan minta maaaf sesegera mungkin kepada anak. Berikan ruang kepada anak untuk mengeluarkan pendapatnya. tekankan bahwa tidak apa-apa melakukan kesalahan, lalu orang tua yang meluruskan. Semangat kak. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang amanah dan bisa mendidik anak kita dengan lebih baik.
Momen hari ibu tahun kemarin masih sama seperti 2 tahun lalu, masih belum bisa berjumpa dengan ibu langsung di kampung karena pandemi. Menarik sekali kisah Isabella Guzman. Ini banyak terjadi di Indonesia, bahkan di artis-artis kita.
benar mbak. harus banyak belajar dari kisah orang lain