
Menjadi seorang perempuan itu adalah kodrat, menjadi istri itu pilihan dan menjadi ibu adalah komitmen hidup dan mati. Jadi tidak bisa terelekkan lagi perannya. – shanaz haque.
Saya tertegun ketika mendengar langsung pernyataan seorang Shanaz Haque dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun TV, tepat di hari ibu. Kata-kata dari seorang public figure yang sering kita lihat menyuarakan hati banyak perempuan itu, seolah menjadi statement yang begitu melekat di hati saya. Ya sampai sebegitunya saya terinspirasi olehnya.
Pernyataan sederhana yang sukses membuat saya merenungkan banyak hal. Apakah saya sudah menjadi perempuan yang sempurna, apakah sudah bisa menjadi istri idaman bagi suami dan apakah saya sudah menjadi ibu yang baik buat anak-anak saya?
Jawaban saya adalah belum. Jawaban yang menjadi PR bagi saya untuk terus belajar menjadi yang terbaik bagi orang-orang tercinta. Siapa lagi kalau bukan suami dan anak-anak di rumah. Mengingat saya termasuk mom aktif yang mengerjakan banyak hal di rumah. Menjadi yang terbaik bagi mereka adalah surga bagi saya.
Karena itulah saya masih perlu banyak belajar lagi menjadi seorang perempuan, menjadi seorang istri dan juga menjadi seorang ibu.
Daftar Isi
Cerita Cinta Seorang Ibu

Seorang ibu adalah seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Memperjuangkan apapun demi kebahagiaan anaknya. Cinta ibu memang sepanjang zaman. Nurani seoarang ibu mampu merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya.
Pertanyaannya, bagaimana jika ada ibu yang tega menyakiti anaknya. Seringnya berita di media televise atau media sosial yang menggambarkan sosok ibu kejam. Apakah masih bisa dikategorikan ibu yang memiliki cinta sepanjang zaman untuk sang anak?
Percaya atau tidak, jawabannya adalah iya. Tidak ada ibu yang kejam di dunia ini. Kalaupun ada tindakan kejam, itu pasti dilakukan karena alasan tertentu yang diluar kendalinya. Seperti misalnya adanya tekanan dari luar yang membuatnya berbuat sesuatu di luar kewajaran. Atau hal-hal yang menyebabkan dirinya perang batin dengan dirinya sendiri.
Saya ingat betul cerita salah satu teman saya yang membenci ibunya. Karena selalu meminta uang kepada anaknya yang sudah bekerja. Sering marah untuk hal-hal sepele dan mata duitan. Teman saya sampai tidak betah tinggal di rumah. Sampai menganggap ibunya tidak menyanyanginya. Melainkan menyanyangi uangnya. Itu karena ibunya akan bersikap baik jika dia memberikan uang. Tapi jika tidak, teman saya akan dimusuhi.
Tidak ada asap jika tidak ada apinya. Saya percaya, setiap ibu punya nurani yang penyanyang. Ini persoalan jiwa dan ego seseorang. Tugas kita sebagai anaklah yang seharusnya bisa sabar dan membimbingnya. Karena bagaimanapun juga, orang tua akan kembali menjadi anak-anak seiring bertambahnya usia.
Bagaimana jika itu terjadi pada kita? Bagaimana jika ibu teman saya itu ternyata ibu kita. Atau kitalah si ibu itu, sehingga anak kita begitu membenci kita. Naudzubillahi mindzalik. Jangan sampai ya. Karena surga seorang ibu, khususnya saya adalah ketika dicintai begitu mendalam oleh anak-anak kita. Karena bagaimanapun juga, merekalah yang mendoakan kita ketika kita meninggal dunia nantinya.
Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menjawab pertanyaan di atas?
Jawaban yang diberikan setiap orang bisa jadi berbeda. Itu hak asasi yang tidak bisa dibantah. Namun jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya pribadi, maka saya akan introspeksi diri. Membenahi apa yang terjadi pada diri saya, agar saya bisa memberikan cinta tulus kepada anak-anak.
Cinta tulus itu tak mengharapkan balasan. Menyanyangi itu tak meminta imbalan. Cinta ya cinta saja. Sayang ya sayang saja, melakukan apapun yang terbaik untuk mereka tanpa meminta mereka melakukan hal yang sama untuk kita. Karena saya percaya, apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Jika kita memberikan cinta tulus tanpa pamrih, maka anak kita tanpa diminta pun akan menyanyangi kita dengan tulus pula. InsyaAllah.
Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya. Anak tetap durhaka meskipun kita berusaha baik dan menyanyangi mereka.
Sekali lagi, jika pertanyaan seperti itu ditujukan kepada kita. Maka saya akan kembalikan kepada diri saya sendiri. Apa yang sudah saya lakukan sampai anak saya bersikap seperti itu. Jika kita memang salah, berusahalah untuk selalu memperbaiki diri. Jika kita benar, serahkan kepada Allah dan meminta ampunannya. Tetaplah menyanyangi anak kita, apapun keadaan mereka.
Anak Adalah Anugerah Terindah di Dunia

Siapa yang tidak mendambakan kehadiran anak di tengah keluarga. Canda tawa dan tangisan mereka mampu menghadirkan malaikat untuk saling mendoakan. Menghilangkan stress setelah lelah bekerja dan penghibur di kala hati gundah. Anak-anak adalah keajaiban dan itulah yang saya rasakan.
Memori saya pun bergerak mundur di tahun 2013. Setelah menikah selama kurang lebih di akhir tahun 2009, saya belum juga dikaruniai anak. Penantian yang tidak sebentar bagi saya. Mengingat banyak pasangan menikah yang bisa langsung punya anak. Sementara saya, harus menunggu 4 tahun lamanya.
Pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kesehatan sudah saya lakukan bersama suami. Hasilnya kami sehat-sehat saja. Mungkin karena factor hormon saya yang kurang. Mengingat menstruasi saya tidak pernah rutin sebulan sekali. Baiklah, saya diberi vitamin untuk memperlancar hormon. Selebihnya, kami berdoa saja kepada Yang Maha Kuasa.
Penantian kami tidak sia-sia juga. Setelah beberapa kali menggunakan tespack dan hasilnya negative, hari itu akhirnya ada garis dua di tespack yang saya beli di apotek. Percaya tidak percaya, kami pun memeriksakan kandungan ke dokter. Sekadar untuk memastikan.
Saya masih ingat betul bagaimana wajah suami ketika mendengar kabar kalau saya memang postif hamil. Akhirnya….
Attharizz Altafio Zaidan Rahman adalah nama yang kami berikan untuk anak pertama kali. Attharizz dan Rahman dari saya. Sementara Altafio Zaidan dari suami. Kami mencarikan nama bersama-sama. Berharap agar kami bisa membesarkan anak kami bersama-sama pula.
Bahagia itu datang lagi ketika saya mengandung anak kedua. Khaleycia Alianovna Arthalita Rahman. Seperti anak pertama, nama depan dan nama belakang dari saya. Sementara nama tengah suami yang mencarikan.
Memahami Sifat Anak
Kini kedua buah hati kami tumbuh besar dan menggemaskan. Wetonnya sama sama sabtu pahing. Kata orang Jawa kuno, itu weton yang paling tinggi. Sifatnya pun paling keras, tidak mau mengalah. Namun juga bisa lembut.
Saya bisa melihat sifat itu di kedua anak kami. Tersenyum saja saya ketika melihat keduanya bertengkar, tapi sedetik kemudian bisa sangat rukun. Si adik lebih mudah mengalah daripada si kakak. Dan si kakak akhirnya belajar mengalah juga dari sang adik.
Sifat si kakak
Saya belajar banyak dari kedua anak saya. Ada banyak sifat keduanya yang seakan menohok saya untuk introspeksi diri. Seperti si kakak yang begitu perasa, sangat ingin tahu banyak hal, sehingga suka menanyakan ini itu. Suka cerita hal-hal yang dijumpainya, seremeh apapun cerita itu. Pokoknya cerita saja.
Saya suka mendengarkan cerita si kakak, kalau di tempat mengajinya ada cewek yang menyapanya dengan ramah. Namanya Rara dan anaknya cantik. Si kakak yang masih usia 6 tahun sudah tahu cewek cantik? Halah dalah. Lalu ada temennya yang suka mendorong dia. Badannya besar dan suka jail dengan teman-temannya. Si kakak sampai gak mau ngaji karena takut didorong lagi.
Apakah anak saya melawan temannya yang nakal itu? Tidak Gonzales… si kakak hanya diam, dan saat pulang ke rumah mengadu ke saya. Lalu bilang besok tidak mau mengaji. Saya perlu mengorek apa yang terjadi dengan anak saya, sebelum akhirnya Attha bilang kalau dia didorong oleh temannya yang badannya tinggi besar. Namanya siapa kak? Barulah si kakak bilang kalau namanya Abrar.
Ada step by stepnya, untuk mengintrogasi si kakak. Ceritanya tidak penuh dan diutarakan dengan raut wajah yang ketakutan. Seperti membuka bab dalam sebuah novel rasanya, karena ada perjalanan menuju tabir yang membuat si kakak akhirnya mau bersuara.
Saya yang akhirnya bilang ke guru ngajinya soal si kakak yang suka didorong teman ngajinya. Si guru ngaji minta maaf dan bilang kalau mengaji, Attha biar di dekatnya saja. Si anak nakal akhirnya dimarahi dan dilarang mendekati Attha lagi.
Alhamdulillah, guru ngajinya penuh pengertian. Memperlakukan anak-anak yang mengaji seperti anaknya sendiri. Jika ada yang nakal, cara memarahinya pun dengan penuh kelembutan. Intinya anak-anak itu malaikat kecil. Lumrah kalau ada yang jail. Tapi harus diarahkan ke arah yang benar. Agar tidak ada lagi yang merasa terganggu seperti anak saya.
Sifat si adik
Itu cerita si kakak. Bagaimana dengan si adik?
Saya bisa bilang kalau adik adalah jagoannya kakak. Cewek tapi tidak pernah mengeluh, kalau dimarahi kakaknya, langsung bilang maaf. Setelah itu bisa kembali ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Baiknya, si adik bisa mengajak kakaknya mainan dan membuat si kakak ceria kembali.
Pokoknya habis marah ya marah saja. Tapi sesudah itu mainan lagi. Kalau habis berbuat salah sama kakaknya, langsung minta maaf. Setelah itu mainan lagi. Tidak ada dendam di hatinya dan sangat pemaaf. Masya Allah.
Si adik juga sangat pemurah. Kalau punya kue, kakaknya pasti dikasih. Padahal si kakak sudah punya kue sendiri. Kalau kakaknya tidak mau menerima, barulah si adik diam. Pokoknya si adik sudah memberi, urusan yang diberi mau atau tidak mau, itu urusan belakangan. Istilah jawanya “loman”. Masya Allah.
Kalau dalam berbagi ini, saya acungin jembol buat adik. Karena kakaknya “sedikit medit” dibanding adiknya. Kalau punya kue atau mainan, jarang mau berbagi dengan adiknya. Bahkan suka marah kalau adiknya memakai mainan si kakak.
Lalu apa yang dilakukan si adik ketika dimarahin kakaknya. Apakah adiknya melawan?
Tidak Alfonso…
Si adik hanya bilang maas kakak (adik tidak bisa bilang maaf. Tapi maas, yang artinya sama dengan maaf), lalu mengembalikan mainan yang tadi diambilnya. Setelah itu mengambil mainan lain. Kalau semua mainan yang dipegangnya tidak boleh dipegang oleh si kakak. Adik hanya diam lalu pergi. Mainan sendiri sesuka hati. Tanpa mainan dan tetap ceria. Masya Allah.
Saya melihat sifat baik pada diri si adik. Tidak gampang mengadu seperti kakaknya (kakaknya lebih suka mengadu ini itu. Adiknya tidak suka mengadu). Suka bilang maaf, meskipun adik yang disakiti, tidak membalas perlakuan si kakak yang menjailinya, suka berbagi, bisa menghibur dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Kreatif.
Jiwa si adik lebih tegar dan lebih jagoan kan dari kakaknya. Itu yang membuat saya belajar banyak dari sifat si adik. Karena disadari atau tidak, saya masih suka sakit hati kalau disakiti. Kadang ada dendam dengan orang yang pernah menyakiti saya. Gengsi untuk bilang maaf, karena saya yang disakiti. Kok saya yang harus disuruh minta maaf. Dan saya tidak mau berbagi dengan orang yang sudah membuat saya sakit hati.
Adik mengajari saya untuk membuang sifat buruk saya itu. Karena adik, meskipun disakiti kakaknya, adiklah yang pertama kali bilang maaf. Maaf karena sudah membuat kakaknya marah. Adik juga suka mengalah dengan tidak menyentuh mainan kakaknya. Lalu memilih untuk mainan sendiri dengan apa yang ada di depannya. Bahkan tidak pakai mainan. Hanya bernyanyi riang sesuka hati. Itu pun kadang diteriaki kakaknya, berisik. Tapi si adik cuek aja dan terus bernyanyi. Salutnya lagi, adik tidak pernah mengadu ke saya kalau sudah dijaili kakaknya. Tahu-tahu adik menyendiri dan mainan sendirian gitu deh.
Adik juga masih mau berbagi dengan kakaknya, meskipun kakaknya tidak mau berbagi dengannya. Seolah tidak ada dendam dan sakit hati di hatinya. Ini yang menohok hati saya. Membuat saya belajar agar saya bisa punya hati baik seperti si adik. Masih mau berbagi dengan orang yang pernah menyakiti saya. Masya Allah adik. Allah menegur saya lewat sifat baikmu yang begitu tulus.
Belajar menjadi ibu dari anak-anak

Saya bersyukur dengan kehadiran kedua anak saya. Sifat kakak yang perasa menyadarkan saya bahwa saya pun juga perasa. Gampang tersinggung, baperan, dan mudah sakit hati. Si kakak adalah cerminan diri saya. Sementara si adik adalah cerminan dari suami saya.
Kalau dunia parenting pernah mengatakan bahwa orang tua harus bisa mengajarkan hal-hal baik kepada anak, maka saya akan berkata bahwa anaklah yang mengajarkan hal-hal baik untuk orang tuanya. Terutama ibunya.
Seperti saya, yang terus menerus berusaha memperbaiki diri dengan mengamati apa yang dilakukan anak-anak saya. Diantaranya :
Tidak Baperan
Saya pernah ditanya, apa sifat kamu yang paling tercela. Saya jawab baperan. Yup, saya memang baperan. Gampang tersinggung dan susah diajak bercanda. Apa-apa dimasukkan ke hati. Ujungnya, saya down dan bersedih hati. Kalau sudah begitu, saya tidak berselera makan, tidak selera melakukan apapun, dan bisa menangis 7 hari 7 malam tanpa henti.
Anak sulung saya seperti saya. Baperan habis. Saya lihat bagaimana adiknya menghibur si kakak dan mengajaknya bermain. Berusaha membuatnya ceria kembali. Atau suami yang langsung mengajaknya jalan-jalan. Kalau cerianya sudah muncul, barulah pulang ke rumah. Suami menasehati si kakak, kalau adik tadi cuman bercanda. Jangan sampai nangis. Adik juga sudah minta maaf.
Kakak akhirnya mengerti dan besoknya, bapernya mulai berkurang. Saya belajar dari reaksi si kakak. Bagaimana dia mengatasi bapernya. Dengan berusaha tersenyum melihat canda tawa adiknya. Demi Allah, melihat sikap kakak sama adik, saya seakan diajari untuk bisa lebih terbuka. Jangan baperan mom, just kidding. Guyon. Biar suasana gak kaku. Hahaha…
Akhirnya saya pun sekarang lebih banyak tertawa. Berkat si kakak dan adik yang mengajarkan saya bahwa dunia itu indah. Bahwa bercanda itu bisa membuat hati bahagia. Jangan seriusan. Nanti cepat tua. Haduh, yang ini suami yang ngomong. Ampun pa.
Berusaha untuk menjadi Pemaaf
Saya akui kalau saya termasuk susah memberikan maaf kepada orang yang sudah menyakiti saya. Seakan sakit hati itu dibawa mati. Bahkan kadang ada rasa ingin membalas dendam sakit hati yang saya rasakan.
Saya ditegur lewat kehadiran adik. Bagaimana si adik begitu mudahnya minta maaf. Padahal bukan dia yang salah. Padahal dia yang disakiti. Dan si adik juga mudah ceria kembali, tidak dendam. Bahkan tetap baik kepada yang menyakiti.
Hati saya tertohok. Seolah Allah ingin bilang, Indah gak boleh dendam ya. Kalau ada yang menyakiti, didoakan saja yang baik-baik. Tenang, setiap perbuatan itu pasti ada balasannya kok. Tugas kita hanya mendoakan dan memaafkannya saja. Selebihnya itu urusan Allah SWT. Masya Allah. Terima kasih adik. Sudah mengajari mama untuk menjadi pemaaf.
Kreatif
Urusan kreatif, memang kakak jagonya. Di balik sifatnya yang perasa, baperan, dan susah mengalah. Si kakak itu kreatif abis loh. Mandiri dan pintar. Seperti ketika mainan lego, awalnya kakak tidak bisa menyusun lego dan meminta tolong papanya untuk membuat robot, pesawat terbang dan apapun yang diinginkannya. Setelah itu, si kakak ternyata meniru. Dan akhirnya bisa membuat sendiri.
Urusan main games juga begitu. Games di handphone, kakak sendiri yang mencarinya di play store. Memainkannya sendiri sampai mahir. Papanya mengaku tidak bisa memainkan games itu. Dan yang bikin surprice adalah kakak mahir menyembunyikan games di hp. Padahal saya sudah membuang games itu. Kok bisa tahu cara menyembunyikan file. Padahal tidak ada yang mengajari.
Sekarang kakak bahkan belajar mengetik di laptop. Katanya kepengen bisa mengetik seperti saya. Setiap hari melihat saya mengetik di laptop, ternyata membuat kakak ingin bisa juga. Saya mengajari pelan-pelan. Dan selebihnya, kakak punya kesadaran sendiri untuk belajar mandiri.
Si adik juga tak kalah kreatif. Kalau tidak ada mainan yang bisa dia pegang, karena dilarang kakaknya. Si adik pasti punya cara sendiri untuk bersenang-senang. Seperti menyanyi menari sesuka hati, atau ikut papanya berkebun. Kadang juga menyusun buku menjadi bermacam-macam bentuk. Atau menggambar di buku gambar. Istilah jowone seng penting happy. Hahaha….
Kreativitas anak-anak membuat saya berpikir seribu kali. Kalau mereka saja bisa kreatif, bagaimana dengan saya yang berkecimung di dunia kreatif. Papa bilang, sayanya kurang kreatif. Gak bisa mengembangkan apapun. Kalau A ya A. B ya B. kreatif dikit dong. Duuh, kesindir.
Makanya saya suka memperhatikan anak-anak untuk mempelajari apa yang mereka lakukan. Sumpah loh, mereka membantu saya dalam berpikir.
Pintar dan Berimajinasi Tinggi
Belakangan si kakak suka menggambar. Terinspirasi dari adiknya yang lebih dulu suka menggambar di buku gambar. Gambarnya pun beragam. Paling sering sih benang ruwet. Karena gak jelas apa yang digambar.
Kakak suka iri, dan berusaha menggambar lebih bagus dari adiknya. Eh adiknya sih cuek aja. Gak suka kompetisi. Kalau gambar, ya menggambar aja. Bahkan kalau gambar kakaknya bagus, si adik tak segan untuk memujinya. Sampai nyaring bilang “yeeee, adik kalah.” Lah…. Wkwkwk…
Kakak memang pintar. Gambar yang ditunjukkannya kepada saya pun meningkat siginifikan. Sudah bisa membuat rumah dan pemandangan. Katanya melihat contohnya di youtube. Imajinasinya tinggi, karena bisa mewarnai sesuka hati.
Kakak juga bisa cepat menangkap pelajaran yang diberikan kepadanya. Sukanya berhitung. Sekatang bahkan bisa menghafal angka dalam bahasa inggris. Angka satu seratus. Belakangan sudah bisa sampai seribu. Yeeee….
Tambah-tambahan atau kurang-kurangan, kakak juga sudah jago. Alhamdulillah karena pernah saya masukkan bimba aiueo yang mengajarkan membaca dan berhitung sejak dini. Jadi ketika masuk sekolah dasar, hitungan dan hafalannya sudah oke. Karena sudah terbiasa.
Hafalannya juga bagus. Bisalah menghafal surat pendek dan doa-doa dalam mengaji. Alhamdulillah. Akademik si kakak bagus. Kalau adik kan belum sekolah ya. Rencananya tahun ini masuk TK. Tapi karena pandemi, jadi mundur deh. Nanti ya dek, sekolah kayak kakak. Biar jadi pintar juga. Sekarang aja adik sudah pintar kok. Kebanggaan mama dua duanya.
Dari merekalah saya belajar untuk lebih bisa berimajinasi. Seperti adik yang mewarnai gunung, sawah, dan langit dengan warna orange semua. Padahal saya sudah bilang kalau langit itu biru, sawah itu hijau dan gunung itu abu-abu. Ya sudahlah, satu warna untuk semua pemandangan. Orange. Wkwkwkwk…. Imajinasinya luar biasa kan.
Bisa jadi suasana sedang senja kala itu, jadi warnanya serba orange semua. Imajinasinya main kan. Sementara saya, kelihatan lurus lurus saja. Ayo Indah, kembangin lagi imajinasimu. Masak kalah sama anak-anak. Nulis cerita itu butuh imajinasi yang liar. Oke baiklah. Saya coba. hehe
Mandiri
Adik sudah bisa bilang pipis dan jalan sendiri ke kamar mandi. Buka baju juga maunya sendiri. kakaknya juga begitu. Belajar pakai baju, melepas baju, pakai sepatu, melepas sepatu sendiri. Makan juga sendiri. tidak disuapi lagi. Senangnya melihat anak-anak sudah mandiri.
Saya bagaimana? Tentu saja saya sudah bisa makan sendiri, pakai baju sendiri. kan sudah besar. Tapi kalau ada masalah, saya tidak bisa menyelesaikan sendiri. Masih butuh orang lain untuk tempat berbagi, untuk tempat menyalurkan masalah. Saya memang masih kurang mandiri. Anak-anaklah yang seolah meminta saya untuk bisa mandiri. Melakukan apa-apa sendiri. dan bisa bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan.
Masalahnya, kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu, saya pasti manggil papa… tolongin dong pa. Haduh, mandiri dong ma. Jangan apa-apa, papa…Duhkah…
Oke fine.
Hadiah terindah buat para ibu dan mama
Menjadi orang tua itu bukan pilihan. Tapi komitmen dunia akherat. Karena ada anak yang menjadi penolong kita di akherat nanti. Tugas kita memang mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Tapi disadari atau tidak, justru anak-anaklah yang secara tidak langsung mendidik kita.
Saya menyadari itu selama 7 tahun ini. Si kakak sudah berusia 7 tahun Januari ini dan adiknya 4 tahun. Keduanya mengajari saya untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Membimbing hati saya untuk lebih lembut lagi.
Saya yakin saya tidak sendiri. Karena ada bunda-bunda dan mama mama di luar sana yang mungkin merasakan apa yang saya rasakan. Belajar dari anak untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Saya begitu tersentuh ketika anak saya bilang, “I love you mama. Adik sayaaaaaaang sama mama.” Lalu si kakak menimpali, “ kakak juga sayang sama mama.”
Oh indahnya. Saya tidak butuh apa-apa lagi mendengar pernyataan kedua anak saya. Karena itulah pencapaian tertinggi saya. Ketika kita sebagai ibu, bisa dicintai oleh anak-anak kita. Jadi ingat mama saya sendiri deh. Jadi bisa bilang.
I love you, mama…

