
Menjauh demi mental sehat itu gak apa-apa loh. Malah dianjurkan sama Allah.
Coba bayangkan bagaimana rasanya disakiti berkali-kali dan kita terus membiarkannya begitu saja. Berharap orang yang menyakiti kita dapat hidayah dan tidak mengulangi lagi kesalahannya. Ah sinetron.
Faktanya kesadaran orang insaf itu hampir mustahal di dunia nyata. Sebagai orang yang pernah menulis naskah sinetron, aku melihat banyak hal yang tak sinkron dari kehidupan real dan kehidupan yang sudah diset manusia. Karena manusia maunya yang bagus-bagus. Sementara kehidupan real, tidak semuanya berakhir dengan indah.
Aku bisa bilang amat sangat jarang terjadi orang yang berbuat jahat bisa insaf dan berbuat baik kepada orang yang disakiti. Ingin hati menyangkal fakta ini. Tapi kenyataan selalu berkata lain.
Kalau kata ibuku, mungkin orang itu belum dapat hidayah. Doakan saja semoga dilembutkan hatinya dan segera dapat hidayah. Tapi ……
Sebanyak apapun aku berdoa, orang itu tetap bermuka dua di depanku. Baik dan lembut di depan, tapi menusuk di belakang. Sampai aku difitnah ke semua orang. Akhirnya aku dicap jelek, jahat dan tuduhan keji lainnya yang sama sekali gak aku lakukan.
Itu baru manusia bermuka dua. Ada lagi manusia yang terang-terangan bicara kasar, padahal dia adalah orang yang selama ini aku sayang. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati ini? Sakit pake banget.
Daftar Isi
Instrospeksi Diri Tak Membuahkan Hasil

Aku sebenarnya termasuk orang yang tak tahu pasti seperti apa aku ini. Satu hal yang aku yakini, aku tidak mau menyalahkan orang lain dan cenderung untuk menyalahkan diri sendiri.
Mungkin saja, ada orang yang jahat sama aku karena “dulunya” aku pernah jahat ke dia. Atau aku melakukan sesuatu yang membuat orang itu kesal sama aku sampai sebegitu bencinya sama aku.
Jujurly, aku instrospeksi diri aku sendiri. Mencari dan menggali kesalahan apa yang aku lakukan sampai membuat orang lain marah sama aku sampai benci. Tapi semakin aku mencari, semakin aku tidak menemukan kesalahan itu.
Dari orang yang bermuka dua. Sikapnya selalu baik di depanku. Bermulut manis dan tidak membirkan aku capek sedikit. Selama ini aku mengira dia sayang banget sama aku. Selama ini juga aku selalu menghormatinya dan bicara sopan. Aku tak menemukan kesalahanku di sini. Semua seakan baik-baik saja.
Tapi aku menemukan kejanggalan di tempatku tinggal. Banyak pasang mata yang memandangku dengan tatapan tak suka. Ada yang pura-pura senyum manis ketika melihatku, tapi lebih banyak yang bicara terus terang dengan menuduhku melakukan hal-hal yang aku sama sekali tak melakukannya.
Satu per satu semuanya mulai terbongkar. Ternyata aku diomongin jelek di belakang oleh orang yang kelihatannya sayang banget sama aku. Jika apa yang dituduhkan itu benar, tak jadi masalah.
Berarti aku yang memang bersalah. Tapi jika aku dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tak aku lakukan, sehingga membuat orang lain membenciku dan menganggapku jahat, itu masalah buat aku.
Ibarat kata kau tak pernah mencuri, tapi kau dituduh sebagai pencuri. Kau tak pernah membunuh, tapi kau dianggap sebagai pembunuh berdarah dingin. Bahkan kau tak melakukan apapun, dunia seakan siap menghujatmu dan membuat perhitungan. Seolah-olah kau hidup saja itu sudah sebuah kesalahan.
Sebagai orang yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluargaku dan tak pernah aku menerima perlakukan seburuk itu, tentu saja aku shock. Gak mungkin rasanya orang yang selalu tersenyum di depanku tega melontarkan fitnah keji kepadaku. Tapi kenyataannya, memang orang itu pelakunya.
Satu per satu orang-orang mulai bicara padaku. Seolah Allah membukakan tabir kepolosanku selama ini. Bahwa orang yang selama ini aku anggap baik, ternyata berhati busuk. Allah membuka semuanya dan aku masih tak bisa menerima. Salahkah jika aku memilih untuk menghindar?
Orang kedua yang jahat padaku tidak munafik. Bahkan terang-terangan mengatakan kata-kata sarkastis yang menyakitkan hati. Salahku apa?
Sebelum kata-kata itu terlontar memang aku pernah berbuat salah. Yaitu pinjam uang kepadanya dengan janji akan aku kembalikan dalam waktu satu hari. Aku ingkar janji. Bukan satu hari uang itu aku kembalikan. Tapi telat sampai 3 hari, baru aku kembalikan. Aku meminta maaf, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu jahat sampai menusuk jantungku.
Apakah dia minta maaf. Sampai detik ini tak ada permintaan maaf. Aku menyesal karena sudah mengusik keuangannya.
Masalahnya yang jadi masalah bukan soal uang. Tapi soal kehidupanku yang masih begini begini saja. Sementara dia merasa sudah sukses karena punya pekerjaan tetap dengan gaji dua digit, rumah dan mobil. Dia menghina kehidupanku yang dinilainya lebih buruk dari kehidupannya.
Dia memakiku, memaki suamiku dan menghujaniku dengan kalimat-kalimat tak pantas di media sosialku. Tempat dimana aku mencari keberkahan cuan di sana.
Tangisku pecah. Sakitnya bukan hanya di dalam hati, tapi sudah di sanubari. Aku selalu membayangkan betapa sayangnya aku selama ini kepadanya. Aku jaga makannya, aku dampingi dia di kota orang, aku bantu kebutuhannya selama aku bisa.
Bagaimana mungkin dia yang selama ini aku anggap lucu, diam dan pengertian, tiba-tiba menerkam tanpa memberiku kesempatan untuk bernapas. Apakah materi sudah membutakan hatinya. Aku benci, dendam dan memutuskan untuk tidak mau lagi terlibat dalam kehidupannya. Jaga jarak
Dua orang dengan kepribadian berbeda yang membuat mentalku hancur. Dua orang yang tak akan aku ijinkan masuk ke kehidupanku lagi. Dua orang yang pada akhirnya membuatku sadar untuk kembali dekat dengan Allah dan melihat kembali ke dalam diriku. Apakah luka itu masih ada. Apakah aku masih baik-baik saja.
Menjauh Demi Mental Sehat itu Gak Apa-apa

Dulu aku mengira, jika kita selalu berbuat baik kepada orang lain. Maka orang lain pasti akan berbuat baik kepada kita. Sebaliknya, jika kita berbuat tidak baik atau jahat, suatu saat kita pasti dijahati balik sama orang lain. Makanya aku selalu berusaha menjadi anak yang baik dan berbuat baik kepada orang lain.
Nyatanya ternyata tak sesederhana itu. Kadang apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata orang lain. Bahkan ketika kita tidak melakukan kesalahan apapun saja, bisa loh orang lain tak suka. Bisa jadi karena kehadiran kita tidak menguntungkan orang tersebut.
Tak heran jika mentalku mudah hancur oleh manusia-manusia jahanam yang hobi nyakiti orang. Hingga akhirnya aku paham jika menjauh demi mental sehat itu gak apa-apa loh. Ini pelajaran yang aku ambil :
-
Tetap Berbuat Baik
Sulit sih untuk tetap berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita. Itu yang aku rasakan. Jadi kita tidak bisa memaksakan orang untuk harus tetap bisa berbuat baik kepada orang yang menyakiti. Apalagi kalau orang itu terus-terusan jahatin kita.
Aku tidak menganjurkan karena aku pun bisa jadi sulit untuk melakukannya. Ngomong sih gampang. Tapi prakteknya yang susah. Tapi aku berusaha untuk tetap berbuat baik dengan mengubah mindset aku dan menjauhkan aura negative dari pikiranku.
Anggap saja orang itu sama seperti orang lain yang asing di mata kamu. Dengan begitu kamu tidak menganggapnya spesial sampai kamu harus fokus mengurusi sakit hati karena ulahnya.
Anggap saja dia orang asing dan tetaplah baik seperti kamu baik kepada orang yang baru kamu kenal. Mungkin sulit, tapi tak ada salahnya kan dicoba.
-
Jangan Membalas
Jangan membalas, jangan membalas, jangan membalas. Karena percuma. Buang-buang energi saja. Bisa jadi dia akan menertawakan kamu karena kamu terpancing emosi dan akan membuat kamu semakin meradang.
Mungkin ini juga sulit, tapi bisa dicoba untuk menahan emosi. Jika emosi stabil, dia akan terbakar sendiri karena menganggap pancingan dia tak mempan untuk kamu.
Aku sih percaya, jika kita tidak membalas perbuatan jahat orang kepada kita, Allah yang akan membalasnya dengan cara yang tak terduga. Bisa jadi dengan menghadirkan orang jahat lain yang berbuat jahat kepada dia. Wallahualam.
Sebagai gantinya, kamu bisa berdoa hal-hal yang baik untuk diri kamu sendiri. Bukankah dalam Islam, doa orang yang terdzolimi itu langsung menembus langit alias langsung dikabulkan. Sayang banget kan kalau tiket emas ini kita pakai untuk mendoakan hal buruk kepada orang yang jahat sama kita.
Minta saja doa dilancarkan rejeki, diberi kesehatan, kebahagiaan, dilancarkan semua usaha kita. Pasti qabul kok dan lihatlah orang yang jahat sama kita, semakin iri dengki dan kepanasan.
Biar saja, tahan untuk tidak membalas. Perbanyak istighfar dan fokus untuk memperbaiki diri. (ini sebenarnya nasehat untuk diriku sendiri. Karena pada dasarnya ingin sekali membalas kejahatan orang lain, tapi berkali-kali aku bilang ke diriku sendiri untuk jangan balas, jangan balas, jangan balas. Biar Allah saja yang balas. Fix)
-
Tanamkan Bahwa Kita Tidak Bisa Menyenangkan Semua Orang
Ini yang membuatku salah kaprah. Aku selalu berusaha menyenangkan orang lain. Tapi faktanya tidak semua perbuatanku ternyata menyenangkan orang lain. Misal paling rajin mengerjakan tugas, membantu orang lain makeup atau selalu punya waktu untuk anak-anak di rumah.
Faktanya, menjadi yang paling rajin ternyata bisa membuat orang lain yang merasa sudah rajin menjadi tersaingi. Padahal kita tidak ada maksud untuk bersaing, tapi prestasi kita membuat orang lain tidak suka. Teman jadi rival dong dan akhirnya muncul perfitnahan atau apapun yang membuat kita jatuh.
Membantu orang yang tidak bisa makeup karena kita punya alat dan kemampuan makeup, ternyata tidak membuat orang lain suka. Ada yang merasa jasa makeupnya jadi tak terpakai, atau ada orang yang menanggap kita sok baik, sementara yang lain menjadi sewot karena alat makeup yang seharusnya dibelikan untuk kita, malah kita pakai untuk makeup in orang lain.
Selalu ada waktu untuk mengurus anak-anak di rumah juga ternyata salah loh di mata suami. Karena suami ingin punya waktu berdua dengan istrinya. Jangan diambil semua oleh anak-anaknya.
Percayalah, semua yang aku katakan di atas sudah aku alami kawan. Stress awalnya, tapi makin ke sini aku semakin mengerti. Gak semua yang kita lakukan itu harus menyenangkan orang lain. Meskipun kita berbuat baik, ada loh orang yang gak suka dengan kebaikan kita.
-
Lebih Dekat dengan Tuhan
Nangisnya itu sama Allah saja. Stop mengadu sama manusia karena gak ada gunanya. Mungkin kalau kamu menemukan manusia super bijak yang bisa meredakan emosi, kamu beruntung. Karena orang semacam itu tidak akan menghakimi, tapi menasehati tanpa ada kesan menasehati.
Intinya pasti kita disuruh ngadunya sama Allah saja. Karena lebih tenang dan bebas nangis sepuasnya. Makanya kalau mau curhat dan mengeluarkan segala uneg-uneg, carilah orang yang menyuruh kita malah ngadu sama Allah. Dijamin adem hati kita.
Kalau dalam hal ini sih, orang macam itu adalah mamaku alias ibu kandungku sendiri. Semarah apapun aku saat aku ditusuk dari belakang atau dicari maki sama orang yang gak tahu diri itu, mama cuman bilang “ojok dibalas yo nduk, doakan saja semoga diberi hidayah. Gusti Allah gak sare.” Titik.
-
Jaga Jarak
Nah aku mendapatkan solusi ini dari ustadz Hanan Attaki. Menjauhi orang yang sudah menyakiti kita itu boleh kok. Malah disuruh sama Allah. Karena kita menjauh demi mental sehat.
Jaga jarak bukan berarti memutus silaturrahmi. Tapi menjaga hati agar kita tak terluka berulang kali.
Kalau kata Ustadz Hannan Attaki, silaturrahmi itu gak harus ketemuan kok. Tetep kita bantu jika dia membutuhkan bantuan. Tanpa harus ketemu. Tapi sebatas bantuan kepada orang lain saja. Kalau ada istilah, memaafkan sih bisa. Tapi tidak dengan melupakan. Jadi jalan terbaik adalah menjaga jarak.
Di dalam Islam, dijelaskan dalam firman Allah Surat Al-Muzzamil ayat 10, “Dan tinggalkan mereka dengan cara yang baik.”
Jelas kan sekarang kalau menjauh demi mental sehat itu gak apa-apa banget. Setelah jaga jarak, jangan fokus kepadanya terus. Apalagi meratapi nasib tentang betapa sadisnya orang itu menganiaya kita. Sudahlah, tak akan ada orang yang kasihan selain diri kita sendiri dan Gusti Allah. Jadi tetap lanjutkan hidup dan hilangkan dia dari pikiran kamu.
Bagaimana kalau orang itu ada di sekitar kita dan ketemu setiap hari?
Kalau ini sih tips dari aku. Anggap orang itu tak terlihat di depan mata kita. Anggap saja seperti hantu yang tak kasat mata. Jadi kita tetap bisa menjalani hari-hari tanpa perlu takut lagi.
Jujur aku tak tahu kenapa akhirnya aku menulis artikel ini. Tapi setelah semua aku luapkan sekaligus solusi yang aku jalani sampai detik ini, aku merasa plong. Barangkali ada yang membaca artikel ini dan merasa relate dengan yang aku alami. Tenang, kamu gak sendirian. Bisa jadi solusiku bisa kamu coba.
Move on ya. Jangan terpuruk terus. Ingat, menjauh demi mental sehat itu gak apa-apa banget loh. Menjauh saja jika itu bisa membuat hidup kamu terus berjalan. Hidup ini lebih indah jika kamu bahagia.
Sebagai bahan perenungan, ceramah Ustadz Hanan Attaki ini mungkin bisa menjadi obat saat kamu butuh ruang untuk bercerita dan meluapkan rasa sakitmu.
**

