Bicara mengenai pengalaman yang tak terlupakan, maka pengalaman yang akan saya ceritakan ini akan terus membekas di hati saya. Bahkan menjadi pembelajaran bagi saya dan keluarga.
Ini pengalaman tentang anak pertama saya. ATTA. Tentang ATTA yang menderita step dan membuat saya dan keluarga panik bukan main. Hal itu dikarenakan, banyak cerita menegangkan mengenai step.
Saya dari kecil menderita step, dan banyak yang bilang kalau penyakit itu bisa diwariskan ke anaknya. Saya sedih sekali karena pernyataan itu benar adanya. Anak pertama saya, ATTA yang akhirnya menderita step seperti saya.
INILAH KISAHNYA

Badan ATTA panas lagi. Padahal seharian ATTA bermain di dalam rumah. Tapi seminggu sebelumnya, ATTA jalan-jalan terus dengan saya, suami dan adiknya. Menghabiskan liburan tahun baru ke rumah paman. Juga menikmati kepadatan kota.
ATTA kecapekan. Anak pertama saya itu memang mudah capek. Buntutnya langsung demam. Persis seperti saya waktu kecil dulu. sakit-sakitan. Saya dan suami pun langsung panik. Masalahnya, bukan demamnya yang membuat kami khawatir. Tapi akibat dari demam yaitu kejang.
ANAK SAYA PENDERITA KEJANG DEMAM
Ya… ATTA menderita step atau kejang demam. Setiap kali badannya panas, ATTA selalu kejang. Kedua tangannya mengatup rapat, dengan kedua mata yang melirik ke atas. Sementara tubuhnya kejang-kejang tanpa henti.
Jika keadaannya sudah begini, hal pertama yang saya lakukan adalah mencegah anak saya tidak menggigit lidahnya sendiri. Tidak sempat untuk mengambil sendok ke dapur, jadi jari tanganlah yang dimasukkan ke mulut ATTA untuk menghindari perkiraan terburuk tersebut.
APA YANG SAYA LAKUKAN?
Kejang demam yang terjadi pada anak saya berlangsung sekitar lima menit.
Tindakan yang bisa saya lakukan setelahnya adalah segera membawanya ke rumah sakit. Tidak peduli hari sudah malam, atau bau badan masih kecut. Saya dan suami langsung menuju ke UGD. Masalah lainnya seperti baju ganti dan lain-lain dipikirkan kemudian, yang terpenting anak saya segera mendapatkan pertolongan pertama.
Saya bersyukur, selama perjalan ke rumah sakit anak saya tidak kejang di perjalanan. Itu yang saya khawatirkan. Tapi badannya masih panas. Sesampainya di UGD, dokter langsung memeriksanya. Saya dan suami menunggu dengan was-was. Badan saya langsung lemas ketika dokter menyatakan kalau anak saya harus rawat inap.
Lagi.
Itu cerita satu tahun yang lalu. Tepatnya kejadian kejang ke empat yang dialami anak saya. Sedangkan kejang pertama kali yang dialami ATTA, saat usianya baru menginjak 11 bulan.
ATTA kembali kejang di awal tahun 2019 ini. Tapi saya dan suami tidak terlalu khawatir, seperti saat awal menanganinya. Itu karena kami sudah mengantisipasinya lebih awal. Alhamdulillah tidak sampai rawat inap lagi. Semuanya berkat obat kejang yang diberikan dokter Dicky yang kami sediakan di rumah. Antisipasi darurat ketika kejang kembali terulang.
BACA JUGA : 5 TRIK SEHAT YANG MUDAH DAN MENYENANGKAN
Syukurlah. Pengalaman menghadapi anak saya kejang, membuat kami jadi lebih siap untuk mengantisipasinya. Apalagi kejang demam ini tidak bisa dianggap sepele. Meskipun setiap anak berusia 5 bulan sampai 6 tahun beresiko untuk mengalaminya, namun tetap saja membutuhkan penanganan yang tepat. Bahkan kemungkinan terburuknya bisa menimbulkan kematian.
Kejadian naas itu terjadi beberapa tahun yang lalu di lingkungan tempat tinggal saya. Ada anak berusia satu tahun yang meninggal akibat step dan terlambat ditangani. Anak pertama paman saya juga meninggal gara-gara step. Sementara saya waktu kecil dulu, hampir saja meninggal karena penyakit yang sama. Denyut nadi saya tidak ada beberapa menit dan dinyatakan sudah tidak bernyawa. Saat itu usia saya baru 7 bulan. Tapi ALLAH masih memberikan saya kesempatan untuk hidup. Denyut nadi saya tiba-tiba saja ada lagi, dan saya masih hidup sampai sekarang. Alhamdulillah.
Nah, untuk menghindari kemungkinan terburuk lainnya. Ada baiknya kita pelajari lebih lanjut mengenai penyakit step ini. Atau yang biasanya disebut kejang demam. Karena penyakit ini biasanya menyerang bayi hingga balita. Kita semua tidak ingin kan kalau buah hati kita sampai sakit.
APA SIH STEP ITU?
STEP atau kejang demam adalah keadaan dimana tubuh mengalami kontraksi yang berlebihan. Kontraksi tersebut terjadi pada waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan.
Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A dari rumah sakit Metro Medical Centre, Jakarta menyebutkan bahwa kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak.
Berdasarkan jenisnya, kejang yang pada umumnya terjadi pada anak ini terbagi dalam dua jenis. Yaitu :
1. KEJANG DEMAM / convalsio febrilis
Kejang demam adalah kejang yang disertai dengan demam tinggi. Suhu tubuh anak yang mendadak tinggi inilah yang menjadi pemicu utama timbulnya kejang. Kita mengenal istilah kejang demam ini dengan sebutan stuip atau step.
Kejang demam dapat terjadi pada kisaran beberapa detik hingga beberapa menit. Berdasarkan hal itu, maka kejang demam dibedakan menjadi dua. Yaitu :
– KEJANG DEMAM SEDERHANA
Kejang berlangsung kurang dari 15 menit. Tidak berulang dalam 24 jam dan kejang terjadi di seluruh tubuh. Pada kasus ini, biasanya anak akan sembuh sendiri. Pada jangka panjangnya, anak akan sembuh sendiri setelah berusia 6 tahun. Tapi dalam jangka waktu tersebut, kemungkinan kejang demam berulang masih tinggi. Karenanya kita sebagai orang tua tetap harus waspada.
ATTA, anak saya mengalam kejang demam sederhana. Sejauh ini kesimpulan itulah yang bsa saya ambil. Karena kejang yang dialami anak saya tidak berulang dalam waktu 24 jam. Itu karena saya dan suami langsung membawanya ke UGD. Jadi bisa langsung ditangani sebelum kejang berikutnya muncul.
– KEJANG DEMAM KOMPLEKS
Kejang jenis ini lebih kompleks. Dengan kisaran waktu kejang terjadi lebih sering dan lebih lama. Yaitu lebih dari 15 menit. Dalam waktu 24 jam ke depan, kejang dapat berulang kembali. Namun kebanyakan kejang terjadi pada bagian tertentu tubuh saja.
BACA JUGA : MAKNA ULANG TAHUN BAGI ANAK
Saya mengalami kejang demam kompleks sewaktu kecil. Menurut cerita ibu saya, kejang yang saya alami bisa terjadi sewaktu-waktu. Badan terlalu capek, terkena paparan sinar matahari terlalu lama atau terlalu stress, bisa memicu kejang demam muncul. Tidak tanggung-tanggung, lama kejangnya pun lama dan berulang kali. Dalam waktu 24 jam, kejang bisa terjadi antara 3 sampai lima kali. Tergantung dari kondisi tubuh anak.
Ibu saya juga cerita kalau kepala saya sampai digunduli untuk memasukkan obat infus melalui kepala. Karena setiap kali saya kejang, tangan kanan saya kejet-kejet bersamaan dengan mata kiri. Itulah kenapa kedua mata saya jadi tidak simetris. Untunglah setelah dewasa, kedua mata saya kembali normal.
2. KEJANG TANPA DEMAM / Kejang neonatal
Yaitu kejang yang tidak disertai dengan demam tinggi pada anak.
Penyebabnya pun bervariasi. Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi kerja otak. Bisa juga karena trauma lahir, berupa munculnya infeksi pada saat-saat terakhir akan lahir, proses kelahiran yang susah. Sehingga sebagian oksigen tidak bisa masuk ke otak. Atau bisa juga karena penyakit kepala besar atau kecil.
Selain penyebab di atas, bayi yang lahir dengan berat di atas 4 kg juga mempunyai resiko mengalami kejang tanpa demam. Yaitu pada masa neonatusnya (28 hari setelah dilahirkan.) Keadaan bayi yang demikian itu diakibatkan oleh penyakit gula yang diderita sang ibu. Akibat dari diabetes itulah, maka anak ikut menderita gangguan gula dalam darah (hipoglemi) sejak dalam kandungan ibunya. Jadi tanpa demam pun, anak akan mudah terkena kejang.
Namun pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membicarakan kejang tanpa demam. Melainkan kejang demam atau step.
PENYEBAB KEJANG DEMAM
Penyebab kejang demam pastilah karena demam tinggi. Suhu tubuh anak yang terus bergerak naik inilah yang memicu tubuh untuk kejang.
Penyebab demam bisa bervariasi, umumnya akibat dari adanya penyakit dalam tubuh si anak. Seperti infeksi saluran pernafasan, radang telinga, insfeksi saluran pencernaan maupun infeksi saluran kemih. Anak terlalu capek juga bisa memicu demam tinggi.
Karena itulah, orang tua hendaknya memantau aktivitas anak. Terutama anak yang sudah pernah mengalami kejang demam. Karena kejang demam ini beresiko untuk terulang kembali.
KAPAN ANAK DIKATAKAN DEMAM?
Bila suhu normal anak berkisar antara 36 derajat celcius sampai 37 derajat celcius. Maka anak dikatakan demam jika suhunya mencapai 37,8 derajat celcius jika diukur melalui mulut atau telinga. 38 derajat celcius jika diukur melalui rektum dan 37,2 derajat celcius jika diukur melalui ketiak.
Suhu tubuh anak yang mengalami kejang juga bervariasi. Pada anak yang tolerasansinya rendah (punya riwayat step turunan dari keluarganya), suhu tubuh 38 derajat celcius sudah bisa terjadi kejang demam. Namun pada anak normal, baru bisa kejang pada suhu tubuh 39 derajat celcius atau lebih.
AKIBAT DARI STEP
Perbedaan toleransi suhu tubuh ini berpengaruh pada tingkat kejang yang dialami anak. Namun orang tua tetap harus mewaspadai keadaan anak. Hal ini dikarenakan beberapa akibat yang bisa ditimbulkan akibat kejang demam. Diantaranya :
– KERUSAKAN SEL OTAK
Setiap kali tubuh mengalami kejang, maka aliran oksigen ke saluran tubuh akan menutup sementara akibat kontraksi yang terjadi. Hal ini bisa berbahaya karena oksigen dibutuhkan setiap sel tubuh kita. Terutama otak.
Bisa dibayangkan jika otak kekurangan oksigen beberapa detik saja, maka kerja otak pun bisa terganggu. Jika hal ini berlangsung lebih lama dari itu, maka sel otak bisa rusak.
Kerusakan otak inilah yang menyebabkan munculnya penyakit epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Penyakit-penyakit ini muncul jika kejang terjadi berulang kali dan dalam waktu yang tidak sebentar.
– MENURUNNYA DAYA TAHAN TUBUH TERHADAP PENYAKIT
Otak memang organ tubuh yang paling berdampak akibat kejang. Namun bukan berarti organ tubuh lainnya tidak terpengaruh. Terutama penyebaran oksigen yang tidak merata di beberapa tempat. Hal ini tentu saja mengganggu metabolisme tubuh terhadap serangan penyakit. Akibatnya anak jadi mudah sakit. Bahkan oleh hal-hal yang dianggap sepele, seperti kecapekan.
– KECERDASAN ANAK JADI TERGANGGU
Faktor kerusakan sel otak adalah penyebab utama menurunnya kecerdasan anak. Hal ini dikarenakan beberapa sel otak tidak berfungsi dengan baik akibat seringnya kekurangan oksigen.
Hal ini bisa diatasi dengan memberikan vitamin otak kepada anak, sehingga sel otak yang rusak dapat segera diperbaiki. Jadi orang tua tidak perlu khawatir soal ini. Terlebih saat ini banyak sekali vitamin otak yang dijual untuk mengoptimalkan kerja otak.
– KEMATIAN
Step sebenarnya tergolong penyakit yang tidak berbahaya. Step juga umum dialami oleh semua anak, terutama pada anak usia 5 bulan sampai 6 tahun. Dan biasanya akan sembuh sendiri setelah anak berusia 6 tahun atau lebih. Namun penanganan yang tidak tepat, tentu membawa dampak berbahaya bagi anak. Yaitu kematian.
Kenapa?
Karena pada saat anak dalam kondisi kejang, jalan nafasnya terhambat. Inilah yang bisa membawa anak menuju kematian. Karena jalan nafas termasuk salah satu tanda vital kehidupan manusia. Karena itulah perlu diberikan penanganan yang tepat terhadap step, agar nyawa anak bisa selamat.
PENANGANAN STEP
Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh step pada anak, maka setiap orang tua disarankan untuk mengantisipasi keadaan anak. Terutama jika anak pernah mengalami kejang demam. Karena kejang pada anak berpotensi untuk terulang kembali. Waktunya pun tidak dapat diprediksi. Kejang dapat terjadi sewaktu-waktu dan dimana saja.
Untuk mengantisipasinya, beberapa saran berikut ini bisa dijadikan tindakan pertama.
1. SEDIAKAN TERMOMETER DI RUMAH

Termometer adalah alat deteksi suhu tubuh paling tepat yang wajib disediakan di rumah. Sediakan selalu termometer di rumah untuk mengetahui berapa suhu tubuh anak. Hindari mengukur suhu tubuh hanya menggunakan punggung tangan. Karena perkiraan seperti itu tidak menunjukkan angka yang falid.
2. SEGERA TURUNKAN PANAS ANAK

Jika anak sudah demam, segera ukur menggunakan termometer. Lalu turunkan panas anak. kompres anak dengan air dingin adalah solusi pertama yang tepat. Setelah itu minumkan banyak air putih dan obat penurun panas. Seperti paracematol atau ibupfofen. Dokter biasanya akan memberikan resep obat berupa sanmol sebagai penurun panas, dan amoxilin sebagai antibiotik.
3. JANGAN SELIMUTI ANAK
Kesalahan yang umum dilakukan para orang tua ketika anaknya sakit adalah menyelimutinya. Untuk kasus kejang demam atau step ini, maka menyelimuti anak tidak disarankan. Karena dapat menyebabkan panas tubuh semakin terkumpul. Hal ini justru dapat memicu suhu panas semakin naik dan kejang semakin cepat terjadi.
Hal yang harus dilakukan adalah membuka baju anak. Tidak perlu semuanya, tapi bagian di dada dan punggungnya saja. Kalau kejang sudah terjadi, sangat disarankan meletakkan anak di atas lantai ubin yang dingin. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan panas tubuh. Sehingga suhu tubuh bisa menurun dan kejang dapat dihindari.
4. BERIKAN OBAT KEJANG

Untuk kasus kejang berulang, sangat disarankan untuk menyediakan obat kejang di rumah. Obat kejang yang dimaksud adalah diazepam. Dokter akan memberikan resep untuk obat ini jika anak sering mengalami step.
Berikan obat kejang ini jika obat panas tidak berhasil menurunkan suhu tubuh anak. Pemberian diazepam ini tentu saja berdasarkan resep dokter dengan dosis sebagai berikut :
– Pada suhu tubuh yang terus meningkat naik, tubuh sudah menunjukkan gejala kejang. Segera berikan diazepam untuk menghentikan kejang. Diazepam yang dipakai anak saya adalah diazepam 5 mg rectal tube. Stesolid 5 mg/2,5 ml Diazepam ini dimasukkan ke dalam dubur anak. Kemudian evaluasi selama kurang lebih 20 menit.
– Jika suhu tubuh anak terus naik dan kejang terulang kembali. berikan diazepam kembali dengan dosis yang sama. Evaluasi kembali.
5. SEGERA RUJUK KE RUMAH SAKIT TERDEKAT
Pemberian diazepam biasanya dapat menurunkan suhu badan anak secara perlahan. Sehingga kejang pun dapat dihentikan. Namun tetap evaluasi kondisi anak setidaknya sampai beberapa jam ke depan.
Jika demam anak mash terasa, segera rujuk ke rumah sakit. Hal ini untuk mengantispasi kembalinya kejang demam pada anak. Serahkan penanganan anak kepada dokter yang lebih ahli. Biasanya anak akan dianjurkan untuk rawat inap beberapa hari di rumah sakit, agar anak mendapatkan penanganan yang lebih insentif.
Nah, itulah beberapa antisipasi yang bisa kita lakukan pada anak yang step. Sedia payung sebelum hujan. Apalagi step pada anak cenderung kembali lagi di waktu dan tempat yang tak terduga.
Apakah bunda di rumah juga pengalaman anak kejang seperti saya?
Share pengalaman bunda yuk di kolom komentar.
Salam sayang,
Wahyuindah


15 Comments. Leave new
atta sekarang berapa umur nya mbk
Sekarang ATTA umur 5 tahun. Satu tahun lagi batas minimun step berulang. Jadi standby terus.
Alhamdulillah anak saya hingga umur 5 tahun ini belum pernah kejang…
Dulu pernah demam sampai hampir 40 derajat…
Semoga anak2 kita selalu diberi sehat wal afiat lahir batin…aamiin…
Terima kasih tulisannya ya bun.
Bermanfaat sekali.
ALhamdulillah, sama-sama bun.
Apakah anak yg pernah mengalami step aman untuk di imunisasi ya bun? Mohon pencerahannya trimakasih
Aman, insyaAllah. karena anak saya juga punya step. bawaan dari saya. Alhamdulillah tetap bisa diimunisasi bund. agar kekebalan tubuhnya semakin baik.
Apakah imunisasinya selalu tepat waktu berdasarkan buku pedoman imunisasi wajib bund ??? Apakah selama anak kejang ada penundaan imunisasi ? Kalau ada berapa bulan penundaan dari jadwal imunisasinya .
Trims
Tepat waktu kak. kejangnya terjadi tiap tahun. di usia 6 tahun baru berhenti total. Tidak pernah ada penundaan imunisasi
Ini yg anak saya alami sekarang bunda, umur nya baru 19bulan
Seminggu ini sdh kejang 2x. Dan harus rawat inap. Mohon bantu doa agar ananda cpt smbuh nggeh bunda.
Dan terimakasih sdh berbagi pengalaman.
Semoga ananda lekas sembuh ya bund. usahakan jangan sampai kecapekan. karena capek memicu demam, dan demam memicu step. perbanyak makanan beergizi
Semoga lekas sembuh ya bund. step bisa sembuh kok dan berhenti kejang saat usianya 6 tahun
Hallo bund.. mau nanya, atta sering kejang, apakah pernah disarankan cek eeg ?
iya bund. sama dokternya disarankan cek eeg juga. makanya dikasih obat lewat duburnya. alhamdulillah sekarang udah gak step lagi. berhenti saat umur Attha 6 tahun.
anak saya 4 bulan sekali kena step kejang×2 dlm kurung 2 tahun ,gimana bun solusi?
Periksakan ke dokter kak biar langsung ditangani. Anak saya juga kejang sampai umur 6 tahun. setelah itu berhenti sendiri. Namanya kejang berlanjut itu. Nanti dikasih pengarahan sama dokternya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang kejang. Yang pasti jangan ditangani sendiri. Kalau anak kejang, langsung dibawa ke rumah sakit. Biar dokter yang menangani.