
Benar.
Pernikahan itu terjadi karena kedua mempelai ingin mendapatkan kebahagiaan. Bukan penyiksaan.
Memang sih, di awal pernikahan semua terasa manis. Tapi seiring berjalannya waktu, banyak hal yang terjadi dalam pernikahan. Mulai dari pertengkaran kecil, pertengkaran besar sampai kekerasan dalam rumah tangga.
Seorang sepupu dari suamiku bahkan mengaku kaget melihat sifat asli suaminya yang kelihatannya kalem dan lembut ternyata bisa keras dan berkata kasar.
Katakanlah nama sepupu suami adalah A. Nah suaminya ini seorang tentara yang ditugaskan keluar pulau. Alhasil, sejak menikah hingga punya anak yang sekarang berumur 4 tahun, mereka berdua ini berhubungan jarak jauh. Si A di Kota Malang, dan suaminya di perbatasan Kalimantan menuju Malaysia.
Baru beberapa bulan yang lalu suaminya pindah tugas ke Surabaya setelah perjuangan yang teramat panjang. Bahagia dong. kelihatannya bahagia. Tapi baru beberapa hari tinggal satu rumah, si A mengaku kaget karena suaminya membentaknya. Sifat aslinya keluar.
Memang tidak ada kekerasan dalam rumah tangga karena mereka baru berkumpul setelah sekian tahun hanya bisa jarak jauh. Tapi perkataan yang menyakitkan tersebut tentu saja membuat rumah tangga jadi mengalami masalah kan.
Si A masih beruntung karena suaminya menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf. Anggap saja mereka belajar berumah tangga lagi dari nol ibarat pengantin baru. Jadi masih masa pengenalan kembali setelah menikah 6 tahun yang lalu.
Berbeda dengan adikku yang jelas-jelas mengalami kekerasan dalam rumah tangga sejak menikah. Tubuh babak belur, mata bengkak, bibir berdarah karena sobek pernah aku lihat. Suaminya bahkan pernah menghajar adikku di depan mata ibuku dan ibuku menangis agar adikku tidak dipukuli lagi.
Lalu dimana aku? Aku tidak melihat langsung kejadiannya. Aku mengetahui belakangan setelah adikku menangis di pelukan ibuku. Aku mendengar cerita mereka, bukan melihat langsung kejadiannya.
Tersayat hati ini. Kenapa ada laki-laki yang mengaku mencintai kekasihnya hingga menikahinya, tapi dibuat sengsara hidupnya. Fisiknya disiksa, batinnya juga disiksa. Pernikahan seperti apa ini. Bukankah menikah itu untuk mencari bahagia. Kenapa justru menghadirkan sengsara karena disiksa.
Cinta Ternyata Bukan Segalanya

Menikah karena cinta mungkin ada pada jaman dulu. Kini, hampir mustahil landasan menikah itu karena cinta. Kalaupun ada, presentasinya mungkin hanya seribu banding satu. Wallahu alam.
Alhamdulillah aku menikah karena cinta. Insya Allah seterusnya begitu dengan tujuan ibadah mencari ridhonya Allah. Tapi aku sedang tidak membicarakan pernikahanku ya. Alhamdulillahnya lagi, suamiku tidak suka main tangan. Tidak ada kekerasan dalam rumah tanggaku. Suamiku orang yang baik dan penyabar.
Aku sedang membicarakan rumah tangga orang lain yang membuatku hampir tak bisa napas, geleng-geleng kepala dan istighfar berkali-kali.
Lihat saja berita mengerikan yang kita lihat belakangan ini. Suami membunuh 4 anaknya setelah sebelumnya memukuli istrinya sampai istrinya pergi dari rumah karena tidak kuat. Di tempat lain ada suami yang tega membunuh istrinya, ada lagi suami yang menyiksa istrinya. Ya Allah…
Nangis aku jika meneruskan membaca berita tentang penyiksaan terhadap para istri yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Dimana hati nuraninya. Jika sudah tidak cinta, kenapa tidak dicerai saja. Kenapa harus dipukuli sampai babak belur, ditonjok, ditendang.
Hei, istrimu itu anak orang. Kau mengambilnya dari orang tuanya untuk kau nikahi dan berjanji untuk melindunginya dalam rumah tangga. Punya hak apa kau membuat fisiknya dan hatinya terluka. Apa karena sudah sah jadi istrimu, maka kau berhak melakukan apapun kepada istrimu?
Ingat, tidak ada surga bagi suami yang menyakiti istri sementara istri tidak ridho menerima perlakuan suaminya.
Aku juga bertanya pada para istri yang diam saja diperlakukan suaminya sekeras itu. Dalam hal ini aku contohkan adikku sendiri. kenapa tidak minta cerai. Ayah kita saja tidak pernah memukulmu, kenapa dia yang dulunya orang lain dan memintamu dari ayah untuk bisa hidup bersama bisa mendaratkan pukulan ke tubuhmu sampai babak belur.
Apa jawaban adikku?
“Aku memaafkannya mbak. Bagaimanapun juga dia suamiku. Kasihan anak-anak kalau aku berpisah dengannya?”
Gila!
Sudah dihajar sampai babak belur, ditendang, dan diperlakukan seperti samsak tinju, tapi adikku bisa bicara seperti itu. Mencintai suaminya yang seorang pemabuk.
Apa cinta memang sudah segila itu. Sampai tidak bisa melihat logika di depan mata. Laki-laki pemabuk itu rusak otaknya. Tidak bisa diharapkan kembali ke jalan yang benar. Tabiatnya akan seperti itu terus.
Benar saja. Adikku berkali-kali minggat dari rumahnya dan pergi ke rumahku dengan mata sembab. Alasannya baru bertengkar dengan suaminya dan ingin cerai. Eh besoknya dia pulang ke rumahnya dan rujuk lagi. Melow lagi. Kalau pacaran, namanya putus nyambung. Tapi nikah kan gak bisa putus nyambung begitu.
Jika sudah ada kata-kata cerai, ya jatuh talaq 1. Apalagi diucapkan lebih dari 3 lagi. Gak boleh rujuk. Kecuali sudah menikah dengan laki-laki lain dan bercerai lagi. Baru boleh rujuk ke suami pertama. Bukankah seperti itu aturan dalam Islam. Tujuannya untuk melindungi perempuan.
Sumpah, aku heran dengan orang-orang model begini. Perempuan baik-baik yang menikah dengan laki-laki yang tidak baik. Tapi si istri tetap tidak mau pergi meskipun sudah diperlakukan dengan sangat buruk oleh suaminya.
Pertanyaannya apakah si istri bisa mendapatkan ganjaran surga dengan sikapnya yang selalu menerima perlakuan buruk suaminya?
Aku tak tahu. Satu hal yang aku tahu adalah jika itu terjadi pada diriku, maka tiada maaf bagimu. Prinsipku, tidak ada yang benar dengan yang namanya kekerasan dalam rumah tangga. Satu kali saja tanganmu melayang ke tubuhku, maka jangan harap kita bisa bersama lagi.
Sadis ya? TIDAK.
Karena kita harus tegas sebagai perempuan. Jangan mau ditindas, apalagi dihajar sama laki-laki. Derajat perempuan itu agung di dalam pernikahan.
Ingat ya. Laki-laki yang baik itu adalah laki-laki yang memperlakukan istrinya dengan baik. Laki-laki yang lemah lembut kepada istrinya. Jika kasar, apalagi sudah main tangan, dipastikan laki-laki itu adalah setan alias bukan laki-laki yang baik. Istri berhak untuk minta cerai.
Jangan Diam. Apalagi Menunggu Nyawamu Melayang

Perempuan kebanyakan takut untuk bersuara. Bisa karena diancam suami, bisa karena terdoktrin dengan pesan bahwa istri harus menutupi aib rumah tangga atau aib suaminya.
WOIII…. Jika aibnya adalah memukul istri sampai babak belur, maka kamu wajib bicara. Jangan diam saja. Bisa-bisa nyawa melayang sebelum kamu sempat diselamatkan.
Ingat satu hal ini. Perempuan berhak bahagia dan dalam pernikahan, perempuan itu diagungkan. Bukan disiksa. Katakan pada dirimu wahai istri yang terdzolimi, bahwa kamu berhak bahagia. Selamatkan dirimu jika suamimu sudah membuatmu terluka lahir batin.
Itu bukan aib. Jikalau aib, kamu tetap harus bicara demi keselamatan nyawamu. Jangan sampai kekerasan yang dilakukan suamiu merambat ke anak-anakmu. Jangan salah, kebanyakan suami yang berani memukul istrinya, pasti bisa memukul anak-anaknya.
Berita yang masih hangat, seorang bapak tega membanting anaknya sampai meninggal dunia loh. Saat ditelusuri, ternyata bapaknya si anak kesal karena anaknya menabrak anak tetangga.
Edan Kalau memang anakmu salah, tegur dengan halus dan kasih pengertian. Bukannya malah dibanting sampai mati. Benar-benar gak punya hati.
Ingat ya teman. Menikah itu untuk mencari bahagia. Bukan sengsara. Jika kamu mengalami tindakan kekerasan, jangan ragu untuk bersuara. Karena kekerasan itu harus dilawan, jika dibiarkan, nyawa bisa jadi taruhan. Jaga kesehatan mentalmu agar kamu tetap waras.
Kamu bisa kok mendapatkan bahagia di tempat lain. Cari bahagiamu dengan cara yang tepat. Minta petunjuk sama Allah. InsyaAllah pasti ada jalan keluarnya. Bangkit dan lawan kekerasan dalam rumah tangga karena tidak ada yang benar dari yang namanya kekerasan.
Cowok kok mukul perempuan. Bukan laki-laki itu namanya.
**

