
Tak terasa sudah Bulan Agustus lagi. 75 tahun yang lalu, Indonesia merdeka. Sejarah mencatat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Ada banyak pengorbanan, air mata dan darah yang tertumpah. Nyawa taruhannya.
Lalu lihatlah kini, kita yang merasakan nikmatnya kemerdekaan. Berkat perjuangan para pejuang kita di masa silam. Tak ada lagi darah yang tertumpah, tak ada lagi tangis menyanyat hati melihat gugurnya pejuang kita.
Kita bebas kemana-mana sekarang. Bebas melakukan apa saja. Bahkan pembangunan terus berjalan. Kita disibukkan dengan cara mengisi kemerdekaan.
Pertanyaannya, sudah benarkah cara kita mengisi kemerdekaan ini. Sudah berterima kasihkah kita kepada para eyang buyut kita yang menukar nyawa mereka demi kita. Atau justru kita melupakan mereka begitu saja, dengan menyibukkan diri dan memperkaya diri sendiri. Lupa bahwa apa yang kita rasakan sekarang adalah buah perjuangan para pahlawan bangsa.
Tenang, tak perlu berpikir untuk mengangkat senjata lagi. Karena merdeka bebas senjata. Namun bukan berarti penjajah pergi.
Bentuknya berubah menjadi lemah lembut sekarang. Bukan penembak yang sembarangan setor peluru ke setiap orang. Tapi sesuatu yang terlihat manis, namun membuat kita terlena.
Sebut saja keberadaan teknologi yang membuat gaya hidup kita mager. Apa –apa inginnya instan. Tak mau melewati proses panjang dan kesannya buru-buru. Tipe generasi anak zaman Now kan.
Padahal jika kita mau sabar dan belajar, banyak loh yang bisa kita terapkan. Apalagi otak manusia itu kemampuannya tanpa batas. Sehingga bisa dibayangkan betapa dasyatnya kreativitas yang bisa kita hasilkan. Kreativitas itu adalah karya.
Daftar Isi
MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN BERKARYA POSITIF

Kita selalu merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Biasanya dengan lomba-lomba dan perayaan sejenis. Ironisnya, masa-masa itu kini harus tertunda. Karena kondisi pandemi yang mengharuskan kita harus berdamai dengan keadaan yang ada. Kenormalan baru. Jauhi kerumunan, pakai masker, dan rajin cuci tangan.
Bisa jadi di beberapa daerah masih mengadakan beberapa lomba agustusan. Namun bukan itu inti dari perayaan kemerdekaan yang kita harapkan. Lalu apa dong kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi kemerdekaan RI tahun ini?
Bagi saya yang sehari-hari berkecimung dengan tulisan, pasti akan menjawab dengan karya. Yah, berkarya bagi saya adalah wujud dari kemerdekaan itu sendiri. Saya suka menulis, maka karya yang bisa saya hasilkan adalah tulisan.
Kilas balik sedikit terhadap Raden Ajeng Kartini, yang harus sembunyi-sembunyi ketika menulis surat kepada kawannya di Belanda. Atau WR Supratman yang dipenjara karena menciptakan banyak lagu bertemakan perjuangan.
Maka saya harusnya bersyukur tidak mengalami itu ketika menghasilkan karya tulis. Novel saya bisa bebas dipajang di toko buku, naskah FTV saya bisa tayang di stasiun TV swasta tanpa halangan. Bahkan saya bebas mengulas apapun lewat channel youtube saya. Review skincare, review makanan, tempat makan atau sekedar bercerita.
Kita harus berterima kasih kepada para pahlawan kita. Karena tanpa mereka, mungkin saat ini kita masih sembunyi-sembunyi ketika ingin berkarya.
Masalahnya, apakah kita puas dengan karya yang sudah kita hasilkan saat ini?

Saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya itu di acara webinar. Temanya Mengisi Kemerdekaan Dengan Postingan Positif. Excited banget dong. Apalagi narasumber yang dihadirkan pas banget dengan bidang yang saya geluti saat ini. Yaitu :
- Kak Amy Kamila, seorang content creator, promotor film sekaligus founder SOB
- Teh Ani Berta, Blogger senior sekaligus founder ISB dan Femaledigest. Guru saya ini. Hehe
- Kang Maman Suherman. Penulis yang membuat saya shock begitu melihat profilnya yang melegenda. Harus berguru saya. Pretasinya di bidang penulisan banyak banget.
Postingan positif itu seperti apa dan dalam bentuk apa? Pemateri webinar kali ini menjelaskan banyak hal. Namun satu intinya. Yaitu Konten. Tentunya konten yang positif ya.
PENTINGNYA KONTEN DALAM SEBUAH KARYA
Content is the king.
Kalimat itu saya dengar pertama kali dari seorang teh Ani Berta. Tepatnya ketika rombongan ISB (Indonesian Sosial Blogpreneur) yang dididirikan teh Ani Berta berkunjung ke Malang. Itulah awal saya mengenal ibu satu anak yang keren badai ini. Sejak itu saya bergabung dengan ISB dan mendalami ilmu blog di dalamnya. Masya Allah sekali deh.
Di acara webinar tanggal 14 Agustus 2020 pukul 13.00 ini, saya mendapatkan pendalaman terbaru mengenai konten. Apalagi pembicara pertamanya adalah kak Amy Kamila. Seorang content creator sekaligus promotor film.
Mendengar kata film, mata saya langsung terbelalak. Euphoria saya langsung terbentuk dan segala mata langsung tertuju kepadanya. Mungkin karena saya suka film dan segala hal tentangnya. Jadi setiap kali mendengar kata film, adrenalin saya langsung terpacu.
Mbak Amy memang tidak bicara tentang film. Melainkan tentang konten yang positif dan keren.

Menurut mbak Amy, konten yang keren adalah konten yang bermakna dan menginspirasi perilaku positif. Artinya penikmat konten harus bisa merasakan hal positif setelah membaca, melihat atau mendengar konten yang kita hasilkan.

Masalahnya, konten seperti apa yang dinilai bagus dan berbobot? Pemateri kita punya kuncinya.
MENGANDUNG WAWASAN

Konten yang baik adalah yang punya wawasan di dalamnya. Ada pengetahuan yang diberikan di dalamnya.
Karena itulah membuat konten haruslah digali lebih dalam, jika mengandung berita harus dengan pembenaran tanpa hoax, risetnya pun harus serius. Kalaupun lewat pengalaman pribadi, berikan sesuatu yang bisa membuat pembaca kita berkata oh saya baru tahu, atau jadi begini ya. Nah jadi wawasan baru kan akhirnya.
Konten tidak harus untuk menjadi viral. Apalagi jika tujuan membuat konten memang agar viral. Keliru itu dan sama sekali tidak keren.

Kak Amy Kamila menyebut bahwa Viral itu hanya bonus. Sementara keren itu harus kreatif. Jadi jangan mengukur ujung dari pembuatan konten kita dengan keviralan. Biarkan konten itu mengalir dengan sendirinya.
Teh Ani Berta menyikapi keviralan dengan sudut pandang yang berbeda. Saya takjub karena point of view yang diambil justru dari segi positif. Yaitu memanfaatkan kekuatan viral untuk mengangkat informasi penting yang terjadi di masyarakat. Tujuannya agar menjadi jembatan bagi pihak yang berkepentingan.
Nah, pendapat teh Ani ini tentu saja membuka wawasan baru. Bahwa tidak semua hal viral itu negative. Kita bahkan bisa memanfaatkannya untuk memberikan pendapat positif kita. Sehingga masyarakat pun bisa menyikapi infomasi dengan lebih bijak.
Misal berita viral mengenai petugas pemakanan Covid-19 yang mengubur jenazah covid memakai tangan. Karena kekurangan alat cangkul.
Usut punya usut, sebenarnya peralatannya ada. Tapi sedang digunakan pemakanan lainnya, sementara peralatan lainnya ditahan warga. Karena takut akan tertular covid 19 jika peralatan pemakamannya dipakai untuk memakankan jenazah covid 19.
Kita bisa menyuguhkan hal positif dari berita viral ini. Tentunya dari sudut pandang kita sebagai penulis atau content creator.
SARAT INFORMASI

Darimana kita bisa memberikan konten yang informatif. Tentunya berawal dari ide. Masalahnya, terkadang kita kesulitan mencari keberadaan ide. Padahal ide bertebaran di mana-mana. Kita saja yang kurang peka dalam menangkapnya.
Kak Amy Kamila punya rumus sederhana untuk mengatasinya.
Yaitu Mulai dari hal sederhana, mulai dari yang paling dekat dengan kita dan mulai dari sekarang. Jangan ditunda-tunda. Karena ide mudah datang dan mudah juga melayang. Kalau sudah begitu, tugas kita untuk mengemas ide dengan sekreatif mungkin.
Kak Amy menyarankan untuk meletakkan rasa dalam ide yang kita buat, lalu kroscek dengan norma yang ada dalam masyarakat. Jangan sampai ide yang kita buat menimbulkan pro kontra. Kalaupun iya, kita harus bisa mempertanggungjawabkannya.
Bagaimana agar kita bisa mempertanggungjawabkan ide kita?

Teh Ani Berta memberikan petunjuk untuk mengembangkan ide menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain. Ambil nilai manfaatnya dengan menjadikan tulisan atau karya kita menjadi corong informasi. Siapa sasarannya? Tentu saja diri kita sendiri, masyarakat maupun pemerintah.
MENGEDUKASI
Konten yang baik adalah yang bisa mengedukasi orang lain. Edukasi di mata seorang teh Ani Berta adalah berbagi wawasan, tutorial dan refleksi ilmu dari tokoh. Sehingga ada pembelajaran yang bisa kita ambil dari karya tersebut.

Penyampaiannya pun harus memperhatikan unsur positif, seperti menyemangati, memberikan motivasi dan hindari perdebatan. Dengan memberikan informasi dari sudut pandang yang positif, yakin deh bisa melahirkan hal postif lainnya.
Misal dalam kasus pandemi seperti saat ini. Dimana banyak dari teman atau saudara kita yang panik dan khawatir akan penularan covid 19. Kita bisa memberikan tulisan yang bisa menyemangati mereka untuk tetap berpikir positif. Bahwa semua pasti berlalu, dan memberikan saran untuk tetap menjaga kesehatan.
Itu contoh dalam bentuk tulisan. Sementara dalam bentuk video, bisa loh kita membuat film pendek mengenai perjuangan orang yang sembuh dari covid 19. Atau film documenter mengenai hal-hal yang dilakukan orang agar tetap nyaman selama di rumah saja. Atau bisa juga membuat video mengenai anjuran memakai protokol kesehatan.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membuat konten yang kreatif.
Kak Amy Kamila bilang buatlah karya sekarang juga. Karena jika ide tidak disalurkan, selamanya ide itu akan tetap menjadi ide. Tidak akan berubah menjadi karya.

Sebagai pembuat konten, kita harus bisa membuat karya yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena itulah buatlah karya sebaik mungkin, sekreatif mungkin. Karena karya yang baik dan bisa menginspirasi banyak orang adalah wujud dari kemerdekaan itu sendiri.
Setelah mengikuti webinar mengisi kemerdekaan dengan postingan positif ini, langsung deh semangat membuat karya yang positif.
Setuju ya? Yess.. MERDEKA !!
**

