
Menyapa pagi ditemani secangkir kopi hangat, terasa nikmat banget. Apalagi ada pudding kopi yang rasanya beda. Manis dan lembut di mulut. Jujur, baru kali ini saya membuat pudding dari kopi. Biasanya kan jeli rasa coklat, strawberry, jeruk, leci dan rasa buah lainnya. Makanya saya excited banget ketika merasakan kopi di dalam pudding lembut ini.
Usut punya usut, pudding kopi yang saya nikmati ini istimewa loh. Karena kopi yang saya campurkan dalam pudding bukan sembarang kopi. Melainkan kopi asli dari papua yang bernama kopi Wamena. Kopi Arabika khas Papua yang terkenal enak, seperti kopi Amungme Gold yang pernah saya bahas di blog. Resepnya saya dapatkan dari panitia acara juga.

Saya memang pecinta kopi. Namun baru kali ini saya merasakan seolah menjelajahi kopi hingga ke pelosok negeri. Tanpa pergi ke Papua, saya dikirimi kopi Arabika khas Papua. Excited banget kan. Kabarnya, kopi Papua terkenal sebagai kopi Arabika terbaik di Indonesia loh.
Kopi Arabika saja, sudah terlihat istimewa. Karena kopi jenis Arabika terkenal paling sehat dan rendah kafein. Harganya juga relative lebih mahal karena tumbuh kembangnya yang membutuhkan perawatan ekstra. Tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Pantaslah kalau harganya mahal. Perawatannya juga butuh dana ekstra.
Di balik itu semua, khasiat kopi jenis Arabika tak bisa dipungkiri lagi. Berasa istimewa kan kalau saya diberi kesempatan untuk mencicipinya langsung. Rasanya benar-benar segar dan kuat.
Istimewanya lagi, saya mendapatkan kopi Wamena dari Papua ini bersamaan dengan notebook dan tas ramah lingkungan dari EcoNusa Foundation dan Blogger Perempuan Network.

Yah, ketiganya merupakan hampers yang diberikan oleh EcoNusa dan Blogger Perempuan, kepada 30 peserta terpilih blog competition mengenai Papua. Kontes yang diadakan bulan Maret 2020 lalu, rupanya menyaring 30 blogger dengan tulisan terbaik untuk diudang mengikuti blogger gathering. Bersyukur banget dong, ketika tulisan saya yang berjudul Obsesi Terpendam Papua, Santani dan Paniai termasuk salah satu dari tulisan terbaik 30 blogger terpilih tersebut.

Keadaan pandemik seperti saat ini membuat gathering blogger tidak bisa diadakan secara offline. Jadi kami dipertemukan dalam sebuah acara virtual yang sangat berkesan. Bertajuk Wonderful Papua, melalui zoom meeting. Tak masalah bagi saya, karena acaranya tetap seru. Apalagi narasumber yang dihadirkan keren semua. Diantaranya :
- Bang Bustar Maitar selaku CEO EcoNusa Foundation
- Pak Kristian Sauyai selaku Ketua Asosiasi Homestay di Raja Ampat
- Kak Alfa Ahoren selaku perwakilan anak muda Papua

Acara yang diadakan tanggal 7 Agustus 2020 ini berlangsung selama satu setengah jam, dimulai pukul 15.00 WIB sampai 16.30 WIB. Saya terlambat hadir karena harus mengurus rumah terlebih dahulu. Sehingga saya ketinggalan kuis yang diadakan di awal acara. Okelah tak apa. Masih ada kak Alfa Ahoren yang bersemangat dalam bercerita. Videonya saat menjelajah pengunungan Arfak menyita perhatian saya dengan penuh. Takjub dengan suasana alamnya yang elok. Pantaslah kak Alfa mengatakan, kalau mau ke Surga, datanglah ke Papua. Karena Papua cantik banget, seperti surga.
Saya belum pernah ke Papua. Tapi saya punya teman semasa kuliah yang bekerja di sana. Dari teman saya itulah, saya mendapatkan cerita mengenai Papua. Kadang saya melihat foto teman saya ketika berada di Papua. Cantik, hijau, dan elok banget. Saya jadi ingin menginjakkan kaki ke sana suatu saat nanti. Semoga kesampaian ya Allah. Aamiin. Hehe.
MENGENAL PAPUA LEWAT JELAJAH VIRTUAL BERSAMA ECONUSA DAN BLOGGER PEREMPUAN

Jalan-jalannya memang tidak secara langsung. Melainkan virtual melalui zoom meeting. Tapi tetap seru loh. Edukatif lagi. Saya bisa saling menyapa teman-teman lain yang juga terpilih. Sungguh takjub saya, mereka semua berasal dari Sabang sampai Merauke. Peserta dari Malang, hanya saya dan mbak Diah sepertinya.
Saya melewatkan keseruan pertama di awal acara. Yaitu kuiz yang dikomandoi oleh mbak Jenny Karay. Host acara live zoom yang semangat empat lima. Excitednya lagi, ternyata mbak Jenny Karay ini adalah seorang Papua Social Media Influencer, sekaligus Community Ambassador untuk Propinsi Papua dan Papua Barat. WOW.

Hostnya saja keren. Apalagi pematerinya. Masternya dikeluarkan semua.
Oh iya, acara gathering blogger tanggal 7 Agustus 2020 ini bertepatan dengan Hari Hutan Indonesia loh. Pas sekali dengan apa yang dikatakan bang Bustar Maitar. Bahwa hutan di Indonesia semakin berkurang saja jumlahnya. Sumatera, Kalimantan bahkan Sulawesi sudah habis hutannya. Tinggal Papua yang masih terlihat hijau. Meskipun beberapa sudah mulai ditebangi. Tugas kitalah untuk mencegah hutan Papua dari penebangan liar, dan tetap menjaga kelestarian hutan di Papua. Karena kalau sampai hutan Papua habis juga, Indonesia tidak akan punya hutan lagi. Sedih kan.

hutan di Papua Barat. sumber : www.mongabay.co.id
Bang Bustar yang lahir di Papua, juga mengungkapkan mengenai banyaknya budaya di sana. Ada sekitar 250 bahasa di Papua. Sehingga bisa jadi satu tempat yang saling berdekatan, memiliki bahasa yang berbeda. Ini tentu saja menjadi kekayaan kebudayaan yang perlu dijaga. Karena masing-masing daerah juga memiliki adat sendiri-sendiri.
Keunikan Papua lainnya terletak pada hewan terbesar yang ada di sana. Jika Sumatera punya harimau, Kalimantan punya Orang hutan dan Sulawesi punya gajah misalnya. Maka Papua punya burung Kasuari. Yah, hewan terbesar di Papua ternyata seekor burung. Yaitu burung Kasuari.

burung kasuari. sumber gambar : www.greeners.co
Burung Kasuari yang berada di Papua adalah jenis burung kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius). Sejak tahun 1994, burung kasuari gelambir ganda dimasukkan IUCN Redlist dalam status Konservasi rentan. Namun statusnya berubah menjadi beresiko rendah di tahun 2017. Artinya, burung yang memiliki bobot lebih dari 60 kg ini terancam punah.
Tak heran sih, karena burung besar ini menjadi incaran para pemburu. Bagaimana tidak, bentuk fisiknya saja terlihat indah dan menakjubkan. Pantas mempesona siapa saja yang memandang. Kulit wajah dan kepalanya berwarna biru sampai keunguan, bercampur dengan warna merah atau kadang kuning. Mahkotanya sangat tinggi dan tebal membentuk sebuah kurva. Sementara itu, lehernya bergelambir dua (karena itulah disebut burung kasuari gelambir ganda). Warna gelambirnya merah dan hitam. Sedangkan warna bulu sepanjang badan adalah coklat muda dengan garis tebal coklat tua. Warna warni ya.
Sepasang kakinya sangat kuat dan kokoh loh. Jari depannya berjumlah 3 dengan kuku yang sangat tajam. Tingginya 1,2 sampai 1,5 meter. Bahkan ada yang mencapai 2 meter. Sayapnya kecil dan tidak tumbuh sempurna. Karena itulah burung ini tidak bisa terbang. (sumber : https://www.greeners.co/)
Hampir semua bagian tubuh burung kasuari menjadi incaran pemburu. Mulai dari dagingnya, tulangnya, bulunya, kukunya, lemak bahkan telurnya. Kasihan kan kalau populasinya semakin berkurang karena diburu terus. Meskipun hidupnya bisa mencapai usia 50 tahun. Namun keberadaan pemburu membuat populasinya terancam.

burung cendrawasih. sumber gambar : www.kabarpapua.co
Selain burung Kasuari, ada burung Cendrawasih yang merupakan hewan endemik Papua. Orang Papua percaya loh kalau burung Cendrawasih adalah titisan dari surga. Nama cendrawasih sendiri ternyata berasal dari kata “cendra” yang artinya dewa dewi bulan dan “wasih” yang artinya utusan. (sumber : www.kabarpapua.co)
Jika burung kasuari dinobatkan sebagai burung terbesar di Papua, maka burung Cendrawasih dinobatkan sebagai “bird of paradise”. Bahkan terkenal sampai ke Eropa pada tahun 1552. Habitatnya hanya ada di Papua, sehingga dijadikan maskot Papua.
Kecantikan burung Cendrawasih ini terlihat dari warna burungnya yang berwarna-warni. Umumnya berwarna cerah dengan kombinasi warna hitam, biru, kuning, kemerahan, coklat, putih, ungu dan juga hijau. Uniknya, warna warni bulu adanya di jenis kelamin jantan. Gunanya untuk menarik perhatian betina. Karena itulah burung Cendrawasih dikenal juga pandai menari. Bahkan membuat rumah sendiri. Keren kan.
Ukuran tubuh burung titisan surga ini pun beragam mulai dari ukuran 15 cm hingga 110 cm dengan kisaran berat mulai 50 gram sampai 430 gram tergantung dari jenisnya. Sementara itu kakinya memiliki jari panjang dengan tipe petengger. Paruhnya runcing dan tebal, gunanya untuk memecah biji-bijian sebagai makanannya. (sumber : https://foresteract.com)
Bisa dibayangkan ya kalau bertemu langsung dengan burung ini, betapa senangnya. Seperti yang dialami kak Alfa Ahoren ketika menyusuri Pegunungan Arfak bersama dengan teman-temannya sesama mahasiswa peduli pariwisata. Sepanjang perjalanan, kak Alfa mengaku melihat banyak burung cendrawasih menari di sana. Cantik sekali. Saya yang melihat lewat video pertualangannya saja terkesima. Bagaimana kalau melihat secara langsung ya. Wonderful.

Penampakan pegunungan Arfak. sumber gambar : www.mongabay.co.id
Itu baru melihat burung Cendrawasihnya ya. Belum pemandangan alam nan hijau hutan Papua. Lewat Homestay yang dibangun oleh pak Kristian, petualangan menjelajah Papua akan lebih berkesan. Karena bisa menginap di dalam hutan. Tenang, karena pengunjung disediakan homestay yang nyaman. Pengelolanya masyarakat Papua sendiri. Jadi kita bisa berinteraksi langsung dengan mereka.
Pengadaan Homestay ini memiliki banyak keuntungan loh. Terutama untuk memperdayakan masyarakat Papua yang selama ini tersisihkan. Dengan adanya interaksi, secara tidak langsung pengunjung dikenalkan dengan budaya setempat. Penting ini. Untuk melestarikan budaya Papua agar dikenal masyarakat luas.
Bang Bustar sampai mengatakan kalau berkunjung ke Papua, menginapnya jangan di resort. Nanti orang Papuanya hanya jadi penonton. Tinggallah di Homestay agar bisa mengajak masyarakat Papua berinteraksi dan mengenal lebih dekat. Seperti bertemu saudara jauh kan.
REKOMENDASI TEMPAT SEBAGAI EKOWISATA HIJAU DI PAPUA

Raja Ampat. sumber :www.suara.com
Semua tempat di Papua wajib dikunjungi. Semua tempat di Papua layak didatangi dan juga dilestarikan. Begitu kata bang Bustar. Jadi kalau mendengar kata Papua, bukan hanya Raja Ampat saja yang dikenal. Tapi ada banyak lagi yang lainnya. Sebut saja Danau Sentani, tempat kelahiran bang Bustar sendiri. Atau Pegunungan Arfak, tempat kak Alfa Ahoren melihat banyak burung cendrawasih menari di sana. Dan masih banyak lagi.
Kak Alfa bahkan menyebut Papua Barat sebagai surganya Ekowisata hijau. Karena banyak tempat keren di sana. Keindahannya benar-benar seperti surga. Bukan hanya tempat wisatanya yang keren, namun juga budayanya. Menurut kak Alfa, hampir setiap daerah mempunyai festival budaya sendiri-sendiri. Semuanya menampilkan tarian dan adat daerahnya masing-masing. Waktunya pun berlainan.
Berkunjung sekaligus melihat langsung budaya rakyat Papua sungguh anugerah tersendiri ya. Karena kita bisa lebih mengenal dekat mereka. Begitu juga mereka yang merasa kita perhatikan. Beruntung kak Alfa dan teman-temannya menyuguhkan pengalamanan tak ternilai kepada kita semua.
Jika kak Alfa menyebut Papua Barat itu surga, maka kak Jenny mempertegas lagi dengan pernyataan bahwa Papua dan Papua Barat itu seksi. Setiap tempat yang dikunjungi selalu membawa kesan tersendiri. Tentunya menyihir para pelancong untuk datang ke sana.

hutan di Papua. sumber : www.mongabay.co.id
Hutan Papua masih terlihat cantik dengan segala keanekaragamannya. Melihat hal ini, bang Bustar selaku CEO EcoNusa memberikan himbauan kepada kita semua untuk tetap menjaga kelestarian alam, khususnya hutan. Jangan meninggalkan sampah dan merusak habitat yang ada. Karena bagi rakyat Papua, hutan adalah rumah. Tempat hidup mereka, dan sebagian besar hewan endemik hidup di sana. Bang Bustar sengaja mengajak para pelancong dan penulis untuk turut serta memproklamirkan kelestarian alam Papua. Agar Papua tetap lestari.
Apa yang dilakukan bang Bustar tak lain adalah perwakilan suara hati rakyat Papua. Karena kenyataannya, sebagian besar hutan tempat tinggal mereka kini perlahan beralih fungsi. Ada yang ditebang secara liar, bahkan dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini tentu saja mengganggu ekosistem setempat. Banyak hewan yang kehilangan tempat tinggal mereka. Sehingga perlahan jumlahnya berkurang. Ada yang diburu manusia, ada pula yang terkena seleksi alam. Sedih kan.
PESAN MORAL YANG BISA DIAMBIL
Jika Bang Bustar mengajak kita semua menjaga kelestarian alam Papua, maka pak Kristian menghimbau para pelancong untuk sama sama menjaga diri dan alam Papua. Khususnya saat masa pandemi seperti ini. Homestay diberlakukan protokol kesehatan. Sehingga setiap pengunjung diharapkan mengikuti protokol kesehatan dan aturan lainnya. Sementara itu, kak Alfa juga turut menghimbau masyarakat atau pelancong untuk menjaga kebersihan alam Papua. Dengan tidak meninggalkan sampah di hutan dan ikut menjaga kelestarian hewan endemic yang dijumpai
Pesannya apa? Sudah jelas dong. Bahwa tanah Papua itu cantik. Jadi harus dijaga agar tetap terlihat cantik. Karena ada warisan di dalamnya untuk anak cucu kita nanti.
Kita semua tentu tidak ingin kan, jika hutan Papua semakin lama semakin habis. Atau burung Cendrawasih yang hanya terlihat pada gambar pelajaran sekolah, atau Danau Sentani yang mulai keruh dan Raja Ampat yang kehilangan ekosistem biota lautnya. Kita sekarang masih bisa menyaksikan keindahan Papua yang bagaikan surga. Lalu bagaimana dengan anak cucu kita nanti.
Sebelum semuanya terjadi, yuk mulai sekarang kita ikut menjaga kelestarian alam Papua. Menjadikannya destinasi wisata hijau yang selalu hijau sepanjang masa. Menjadi paru-paru dunia yang memberikan banyak kehidupan di dalamnya. Sehingga kita bisa berkata kepada saudara atau teman kita nanti. Kalau mau ke surga, datanglah ke Papua.
Begitu ya? Yes.
Nah, seru kan. Acara Wonderful Papua ini juga bisa disaksikan di channel youtube EcoNusa loh. Jadi bagi teman-teman yang tak mau ketinggalan keseruannya, bisa langsung meluncur ke channelnya EcoNusa. Selamat berjelajah virtual mengenal dan mencintai Papua.
Sumber referensi :
https://www.greeners.co/flora-fauna/kasuari-burung-bongsor-khas-papua/
https://kabarpapua.co/burung-cenderawasih-warisan-anak-cucu-papua/
https://foresteract.com/burung-cendrawasih/
https://www.mongabay.co.id/2018/10/25/ekowisata-jawaban-persoalan-deforestasi-papua-barat/
channel youtube EcoNusa
**


59 Comments. Leave new
Bagi saya semua hal ttg Papua menarik, maklum kami kan , Aceh paling barat, jd mau ke Papua jauh ya kan.
Penasaran juga dengan kopi Arabica Wamena, soalnya kami biasa minum kopi Arabica Gayo, Aceh yg sudah duluan populer. Hehe
Semoga kelak bisa ke Papua. Saudara dari Timur ❤️
Waah salam dari saudara di Aceh ya kak. berasa dari sabang sampai merauke saya. bisa kenalan sama blogger dari Aceh. eh nulis tentang papua di bagian paling timur.
Wah seru banget sih kak. Aku pun pengen banget juga kesana semoga Allah sama² takdirkan kita ke sana ya kak oh ya selamat ya atas terpilihnya tulisannya kak. Keren! Semoga ovi pun bisa nulis sebagus kakak hehe
makasih say. semangat nulis yuk. pasti bisa kok.
Asyik sekali ya mbak bisa jelajah di surganya Indonesia tanpa perlu menapak secara langsung di masa pandemi seperti ini. Apalagi bisa membuat sajian dengan kopi khas dan mendapatkan hadiah dari membuat tulisan tentang Papua yang tentu saja bermanfaat bagi sesama untuk menambah wawasan.
asyik banget mbak. bikin nagih. pengen dikasih hadiah lagi. hehe
Seruuuu bangetttt. Cita-cita banget mw jelajah Papua. Semua cantikkkkk. Makasih kak uda bikin tulisan cantik. Ntar mw bikin oatmeal latte ahhh.
yuk bikin kak. pasti enak nih
Membaca ini, saya jadi tahu kalau 7 Agustus 2020 itu adalah Hari Hutan Indonesia.
Semoga hutan di Indonesia, khususnya Papua tetap lestari ya.
Saya alhamdulillah 2 kali ke Papua, alamnya memang sangat indah
waaah jadi iri. pengen banget ke sana kak. liat alamnya yang masih asri
Jangan sampai keindahan Papua rusak dan hilang ya huhu
betul banget. kita wajib ikut jaga
Mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa ke papua dan menikmati keindahan alam budayanya
Aaamiin, semoga ya kak
Keren kak Wahyu indah.. kebetulan saya dulu pernah baca dan komen tentang Sentani dan Paniai. Papua memang gak ada habisnya deh luarbiasanya..
Mudah-mudahan “syurga” di Papua ini tetap terjaga ya kak..
wah terima kasih sudah baca artikel saya. kita jaga Papua sama sama yuk.
Menikmati puding kopi sembari menjelajah indah nya bumi papua itu merupakan kebahagiaan tersendiri pasti ya kak, bangga banget rasanya dengan kekayaan alam disana
bener banget. apalagi puding kopinya resep dari Papua. Pakai kopinya papua yang gak ada di sini. rasanya pasti beda
Papua ni memang indah kali ya. ❤️ Salahsatu tempat yang suatu saat ingin dijelajahi huhu, semoga kesampaian
Aaamiin. semoga kita semua bisa ke sana.
Tulisannya sangat komprehensif, Mbak. Saya juga jadi pengen ikutan jelajah virtual Papua, hehe
yuk uda. ikutan. seru loh. ada linknya di youtube buat yang ketinggalan
Senang banget ya, Mbak, pecinta kopi dapat kopi Arabica, terbaik pula^^
Seneng banget. kesempatan langka ini
Komplit banget ulasannya Mbak. MANTAP..
terima kasih kak
Bagi puding kopinya dong mba. Memang seru online gathering kemarin ya. Dapet hampers juga nih saya
iya mbak Diah.hampersnya bagus semua ya dan kepakai.
Mbak indah ini musti kreatif deh. Lainnya nyedih kopi eh mbak indah malah bikin puding. Gehehe
bikin yang beda mbak. hehe
Indah banget ya Papua, belum kesampean ke sana. Dan saya semakin bersemangat untuk tetap menjadikannya wishlist, terutama ingin mencicipi kopi wamena nya, dah kecium baunya. Btw, thanks buat resep puding kopinya, segera praktik nih mbak. Kalo ada info virtual travel, kabari2 lagi ya mbak, tertarik nih.
siap kak. hehe.. selamat mencoba dan menikmati puding kopinya ya.
Papua dan segala keindahannya membuat banyak yang ingin berkunjung.
Hutannya itu lho. Andai nggak banyak yang dirusak, tentu oksigen masih akan terus berlimpah.
Benar. Mari mulai pelestarian dari diri kita sendiri. Nggak buang sampah sembarangan misalnya.
setuju mbak. kalau diri kita sudah bisa dibenahi, orang lain akan mengikuti. lama lama semua orang bergerak bersama. yeee kan
Walaupun stay at home tetap asik ya bisa wisata virtual di Papua. Pasti menyenangkan. Duh mba, aku mau nyoba dong puding kopinya. Lezat sepertinya. Aku belum pernah nyoba. Hihii
ayo bikin. pasti ketagihan. hehe
Keren banget acaranya, Kak. Ulasannya lengkap seperti ikut di situ akutuuu
Dan noted: Tanah Papua itu cantik. Jadi harus dijaga agar tetap terlihat cantik. Karena ada warisan di dalamnya untuk anak cucu kita nanti.
Dan aku mau coba resep kopi rempah ah..dan pudding kopinya!
Asyeek…. bikin mbak. enak loh puding kopinya. dan makasih sudah mampir.
Mudun2 ngeri kek gini gak menghalangi kita untuk menjelajahi Indonesia tercinta ya, Mbak. Tak bisa langsung secara virtual pun jadi. Dan gak kalah seru juga.
bener mbak. jelajah virtual seru juga kok. cobain deh
Mbak Indah,
makasih banget resep kopinya ya. Ntar mau aku coba praktek, hihihi…
Melihat keindahan flora, fauna dan landscape yang ada di sana buat saya pengen banget mengunjunginya.
Semoga ketika corona berakhir, akan ada penerbangan yang terjangkau harganya ke papua ini.
sama sama mbak. ayo praktek bikin puding kopinya. hehe… kalau ke Papua, aku diajak gak mbak. eh
Keren bangeettt paragraf pembukanyaa. Puding kopi! Aku ngga pernah terpikir untuk bikin kopi jadi puding. Jadi pengin banget cobain. Jelajah virtualnya sukses bikin semangat dan antusias mbaa.
Ayo mbak, dibikin puding kopinya. enak loh. wkwkwk…
Wah kopi dari papua memang memiliki cita rasa tersendiri dan bahkan nikmat sekali digunakan untuk dalgona coffee
wah udah nyoba bikin dalgona coffee pakai kopi wamena ko? sedaap nih
Indah sekali tanah Papua. Saya yang baca artikel inj saja kebayang indahnya, apalagi teman2 yang pada ke sana langsung, betapa beruntungnya.
semoga kita termasuk yang beruntung bisa ke sana ya mbak
Wah mendengar kata Papua tuh memang benar surganya Indonesia di Papua, kalau sudah sampai sana dan menginjakkan kaki di Papua, lihat alamnya pengen ga mau pulang lagi kak, Baru virtualnya aja udah seneng lihatnya
bener kak. gimana kalau beneran ke sana ya. ah, jadi pengen berangkat ke sana deh.
hutan papua memang indah ya, terlebih foto pengunungan arfak di atas, cantik. walau masih menjelajah secara virtual, siapa tau nanti beneran bisa kesana ya kak
Aaamiin. semoga besok bisa berangkat. hehe
keren ya alam Papua ini baru liat virtualnya sdh mupeng gmn liat benerannya ya..duh semoga kesampaian deh ke sana
Aaamiin. aku juga mau ke sana mbak. yuk barengan. hehe
Puding kopi? Waaah, aku penasaran pengen coba. Ga pahit kah, Mbak? Ngomongin Papua ini aku selalu kehabisan kata-kata saking kagumnya.
Mengikuti acara virtual seperti ini mengobati lah ya kak… bisa melanglang jauh meskipun hanya virtual… hmmm … saya beberapa kali terlewat acara serupa… harus fokus ah.. biar ga kelewat lagi..TFS kak
seru mas. meskipun virtual, berasa datang beneran. jadi ketagihan ikut jalan jalan virtual lagi. hehe
Ahhhb sedih ga bisa ikut event ini bareng BPN kmren.
Semoga bisa someday ke papua lgsg melihat keindahan alamnya ya mbak indahhh
bener mbak. nabung nabung, besok berangkat sendiri ke sana. jangan lupa foto fotonya. hehe