
Siapa yang tidak suka pelajaran sejarah?
Saya sih suka. Karena seperti diajak jalan-jalan melintasi waktu mengenal masa lalu. Bertemu kerajaan Sriwijaya, Panjaitan, Majapahit. Juga mengamati perang gelilya Panglima Soedirman, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi cerita masa lalu yang seru dan terkenang. Seperti nonton film saja.
Antara kagum dan sedih ketika melihat semua masa lalu itu. Yakin bahwa dulu memang ada kerajaan berdiri di tanah Indonesia. Bahwa dulu belum ada mall atau gedung perkantoran tingkat 25. Atau apartemen dengan segudang fasilitas mewahnya. Tanah kita masih berdebu, bukan mobil mewah yang melintas. Melainkan pasukan kuda. Jika ada pesan yang ingin disampaikan, dua tiga hari baru terkirim. Bahkan mungkin seminggu lebih. Tergantung jarak dan kemampuan kuda berkelana.
Percaya tak percaya, dulu kita tidak bisa bebas berkeliaran sambil menyanyikan lagu kemerdekaan. Bisa-bisa senapan Belanda menyongsong tubuh kita. Perang gerilya benar-benar terjadi. Suara tembakan itu benar-benar ada. Bahkan ada meriam juga. Persis seperti film perang yang kita tonton di bioskop.
Lalu kemana semua itu kini. Perang masa lalu itu tak ada lagi. Kerajaan juga meninggalkan candi dan prasasti. Bukti bahwa mereka pernah ada. Generasi terus berganti, dan kitalah yang kini melihat peninggalan mereka. Bagaimana ya perasaannya. Kalau saya sih Wow…
Sulit mengungkapkan bahwa kita terlahir sekarang berkat perjuangan mereka. Kalau pendahulu kita tidak berjuang melawan penjajah, pasrah begitu saja terhadap nasib ditindas. Mungkin kita akan musnah dan selamanya tak akan merdeka.
Bayangkan, sekitar 3 abad lebih kita dijajah. Mulai dari zaman kerajaan sampai perang gerilya. Baru 75 tahun kita merasakan kemerdekaan Indonesia. Setengahnya saja masih belum ada. Darah itu masih terasa. Kepedihan itu masih membekas. Lalu kita sebagai generasi penerus mau melupakannya begitu saja? Kata bang Roma Irama sih, T E R L A L U….
SEJARAH ITU DULU, KINI DAN NANTI

Kita sudah menjelajahi negeri mengenang perjuangan para pahlawan bangsa. Bagi yang punya hati nurani, pasti akan terenyuh dan terbakar api semangat juangnya. Tapi ada loh yang masa bodoh. Seperti seorang teman saya yang dengan gampangnya bilang. Masa lalu ya masa lalu. Ngapain dipikirin. Mendingan mikirin masa depan. Lah loh …..
Kalau masa lalu tidak dipikirin, kita tidak akan ada bro. Kang Asep Kambali, seorang sejarawan sekaligus founder Historia Indonesia menuturkannya dengan penuh semangat bersama teh Ani Berta. Tentunya melalui IG LIVE teh Ani di @ani.berta.
Baca juga :
Obrolan virtual selama kurang lebih satu jam itu, mengalir dengan penuh semangat. Kang Asep berhasil membangkitkan jiwa patriotisme kami lewat suaranya yang menggebu-gebu dan penuh semangat. Menyadarkan kita bahwa sejarah itu tak pantas dilupakan. Karena tanpa sejarah, kita tak akan pernah lahir dan hidup sampai sekarang.

Masih menurut Kang Asep, orang yang melupakan sejarah. Sama saja dengan orang amnesia atau lupa ingatan. Bagaimana mungkin dia bisa mengenal jati dirinya, kalau namanya saja dia lupa. Darimana asalnya, siapa orangtuanya, dimana tempat tinggalnya, siapa saja temannya. Jadi hilang arah kan.
Karena sejatinya, kita ada karena perjuangan ibu kita melahirkan kita. Itu masa lalu kita kan. Karena kita sekarang sudah dewasa. Dulu kita masih bayi, pernah merasakan belajar merangkak dan berdiri, pernah jatuh dari sepeda ketika mencoba sepeda roda dua pertama kali. Juga pernah senang sekali ketika memakai seragam sekolah pertama kalinya. Itu masa lalu kita, itu sejarah kita. Kalau kita tidak aware dengan semua itu, kita tidak akan jadi apa-apa. Setuju ya?
Nah, karena itulah kita perlu menciptakan sejarah. Yup, kamu tidak salah dengar gais.
Sejarah itu bukan hanya masa lalu loh. Masa kini juga akan menjadi sejarah bagi anak cucu kita nanti. Kitalah yang menciptakannya. Sehingga bisa menjadi kenangan dan pelajaran bagi generasi penerus kita. Apa yang kita lakukan hari ini, menentukan bagaimana kita nanti di esok hari.

Jadi misalnya kita sekarang malas-malasan, maka generasi kita nanti bisa jadi juga ikut jadi pemalas. Masa depannya tidak ada. Mau jadi apa anak cucu kita nanti, tidak terbentuk dari sekarang. Makanya kalau kita ingin anak kita jadi dokter misalnya, dari kecil sudah kita didik untuk mau peduli sama orang lain. Di sekolah, belajar yang pintar, disiplin dan haus ilmu pengetahuan. Sudah besar nanti, kemungkinan menjadi dokter sudah pasti besar.
Jadi tentara juga begitu. Pernah mendengar cerita tidak, jika ada tentara yang gagah berani. Dulu waktu kecil ternyata sangat cengeng dan bahkan takut disuntik. Teman suami saya mengalaminya. Teman masa SMU tepatnya. Dikenal biasa saja dan terkesan agak melambai. Tidak istimewa karena bukan siswa berprestasi. Bahkan terkenal takut disuntik.
Suami saya kaget dong, waktu tahu kalau temannya yang dulu melambai itu kini sudah jadi tentara. Gagah perkasa dan sama sekali tidak terlihat melambai. Itu artinya masa lalunya sudah dibuang, diganti dengan masa kini yang penuh perubahan. Jadinya adalah masa depan yang sangat berbeda dan cenderung positif.
Kang Asep menjelaskan bahwa sejarah diciptakan oleh mereka yang berjuang. Sementara sejarah ditulis oleh mereka yang menang. Kenapa bisa begitu. Karena pendahulu kita menuliskan kisah-kisah perjuangan mereka melalui babat alas, lembaran lembaran tulisan, prasasti dan media tulis lainnya. Tentunya penulisnya memberi gambaran yang penting-penting saja. Kita yang tidak hidup di masa itu, belum tentu mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Tapi kita yang hidup di masa kini, dimana kita ada untuk menjalani kehidupan ini. Berhak untuk mengubah masa depan kita, lewat apa yang kita lakukan di masa kini.
Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang agar masa depan kita cerah. Cerah di sini berarti terarah ya. Bukan berarti harus kaya dan punya banyak harta. Karena itu bukan masa depan. Tapi masa depan yang cerah adalah masa depan yang memiliki arti bagi banyak orang. Memberikan manfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.
Kang Asep lagi-lagi memberikan tipsnya. Yaitu melalui konsistensi, menebarkan hal-hal positif kepada orang lain. Karena apapun yang kita keluarkan atau kita berikan kepada orang lain, semuanya akan kembali lagi kepada diri kita sendiri.
Asep Kambali – www.wahyuindah.com
Jadi bila hal positif yang kita berikan, semangat positif yang kita sampaikan, maka hal – hal positif pula yang akan kita terima nantinya. Contoh. Tulisan seorang blogger di blog pribadinya. Ketika seorang blogger menuliskan artikel yang bermanfaat bagi pembacanya, maka akan ada timbal balik yang diterima penulisnya. Bisa jadi ada yang membaca artikel itu dan menghubungi si penulis. Lalu mengajaknya kerjasama. Mengundangnya untuk wawancara, dan lain-lain.
BELAJAR SEJARAH BISA MEMPELAJARI CULTURE ORANG LAIN
Kang Asep Kambali membuat saya terperangah dengan statementnya. Bahwa belajar sejarah, ternyata bisa mempelajari culture orang lain. Kok bisa?
Bisa… karena sejarah tiap orang itu berbeda.
Kang Asep memberi contoh perilaku orang ketika diberikan nasehat atau ditegur. Bagi orang Batak, Toraja atau suku lain di Sumatera atau Kalimantan, menatap mata orang yang memberikan nasehat adalah sebuah penghormatan. Ketika diajak bicara atau ditegur, mereka cenderung menatap balik.
Bagi kita, orang Jawa bisa jadi itu tidak sopan. Karena dikiran melotot. Karena bagi orang Jawa, adab ketika dinasehati orang yang lebih tua adalah menunduk. Bukan menatap wajahnya. Menunduk dianggap sebagai bentuk penghormatan bagi yang lebih tua. Beda kan dengan kaum Batak dan kawan-kawannya.
Nah, disinilah peran sejarah itu penting. Bayangkan kalau kita tidak memahami budaya tiap daerah. Bisa jadi masalah serius tuh. Hanya gara-gara salah persepsi, orang bisa saling menyalahkan ketika dinasehati orang. Orang Jawa akan menegur orang Batak yang dianggap tidak sopan, karena menatap lawan bicaranya ketika ditegur. Sementara orang Batak sebaliknya, menganggap orang Jawa tidak sopan karena diajak bicara kok malah nunduk. Dianggap tidak menghargai orang, karena merasa tidak diperhatikan.
Salah paham kan jadinya.
Itulah kenapa sejarah tidak sekedar hafalan seperti pelajaran di sekolah. Bagi Negara maju seperti Amerika Serikat misalnya. Siapa saja yang mencalonkan diri sebagai presiden, pejabat, PNS atau apapun itu, pasti akan ditest kemampuan sejarahnya. Bagaimana dengan Indonesia?
Sejarah masih kurang dihargai. Sementara di negara maju, sejarah sudah menjadi bagian dari lifestyle atau gaya hidup.
Nah, untuk membangkitkan kembali nilai sejarah dalam budaya. Maka lahirnya uang kertas yang saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan. Yaitu uang 75 ribu rupiah.
Lah, kenapa jadi ngomongin uang?
Tunggu dulu. Ini bukan lagi promosi ya. Tapi uang memang salah bentuk budaya yang patut dijaga. Bukan hanya sebagai alat pembayaran saja, uang pun memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian bangsa.
Kenapa bisa begitu?
Karena ada gambar pahlawan di dalam mata uang kita. Itu menunjukkan bahwa uang juga menyimpan sejarah bangsa. Makanya Kang Asep jengkel sekali jika ada yang mencoret-coret uang, atau merobeknya atau menempelkan selotif untuk menyambung uang. Itu bisa dipidanakan loh sebenarnya. Begitu kata kang Asep. Karena perbuatan seperti itu, dianggap sebagai perbuatan yang tidak menghargai jasa para pahlawan.
Dalam hati saya berguman. Untung saya tidak pernah mencoret uang kertas, apalagi merobeknya. Hehe.
Nah, sekarang kita bicara soal uang kertas 75 ribu rupiah. Konon katanya, eh bukan konon ya. Karena memang benar adanya. Bahwa uang 75 ribu rupiah ini diproduksi dengan jumlah terbatas, yaitu hanya 75 juta lembar saja. Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta. Bisa dibayangkan ya, bagaimana keberadaan uang 75 ribu rupiah ini menjadi sangat bernilai, karena tidak semua orang berkesempatan untuk memilikinya.
Berbeda dari uang kertas lainnya, uang kertas 75 ribu didesain khusus dengan tingkat keamanan tinggi. Sehingga tidak mungkin bisa dipalsukan. Selain itu, kertasnya juga glossy dan tidak mudah sobek. Istimewa sekali kan.
Asep Kambali – www.wahyuindah.com
Keunikan lainnya dari uang 75 ribu ini adalah warnanya yang seperti pelangi. Warna-warni, sehingga terlihat sangat ceria. Berbeda dengan uang lainnya yang dominan di satu warna. Dan yang paling penting adalah adanya pesan simbolik yang tersimpan di dalamnya.
Apa pesan simboliknya?
Yaitu pada angka 75. Tertulis di mata uang itu, bahwa angka 75 ditulis dalam angka besar. Sementara tiga angka nolnya, ditulis kecil-kecil. Sehingga yang nampak hanya angka 75 saja. Menurut kang Asep yang merupakan salah satu perumus keberadaan uang 75 ribu ini, ada maksud tersembunyi dalam penulisan angka 75 itu. Yaitu perubahan nominal uang di masa depan.
Kalau kita perhatikan, uang kita selama ini kebanyakan nol. Jadi terlihat banyak. Berbeda dengan mata uang Negara lain yang nilainya sedikit. 1 dolar, 1 ringgit. Sementara kita 1000, 10000, 100000. Banyak kan. Nah, uang 75 ribu ini pelopor akan terbentuknya nominal yang sedikit. Tapi masih bernilai banyak.
Ini rahasia yang kang Asep berikan kepada peserta IG LIVE teh @ani.berta loh. Belum diberitahukan kepada pihak lain. Jadi beruntung saya mengetahuinya langsung. Hehe.
Sebagai perumus keberadaan mata uang 75 ribu rupiah, kang Asep mengutarakan bahwa ada 3 tema besar dalam uang tersebut. Yaitu :
- Mensyukuri kemerdekaan RI yang saat ini berusia 75 tahun.
- Memperkuat kebhineka tunggal Ika-an. (dari warna-warni kertasnya)
- Menyongsong masa depan yang gemilang. (dari pesan yang tersirat dari angka 75 di dalamnya)
Indonesia sudah mencapai usia 75 tahun. Keberadaan uang 75 ribu ini tentunya menjadi poin tersendiri dalam sejarah. Tahun 2016 direncanakan, tahun 2020 diciptakan, dan akan dipakai sepanjang tahun ke depan. Kita menciptakan sejarah mata uang hari ini, dan akan menjadi pencerahan di masa depan.
Nah, kalau kamu mau menciptakan sejarah apa hari ini? Yuk mulai agendakan.
**


18 Comments. Leave new
Sejarah memang bukan dikenang kejadiannya, tp perlu menjadi motivasi kita untuk selalu bangkit dan menjadi yang lebih baik di masa depan.
betul mas. bisa jadi pembelajaran buat kita memperbaiki diri ya.
aku juga hadir nih mba waktu me and my inspiring yang sesi dengan kang asep, bagus materinya
bener mbak. seru. Kang Asepnya sendiri asyik kalau kasih materi. jadi yang ikut webinarnya ikutan ngerasain serunya.
Teringat akan uang 75000 itu.. hahaha saya yang termasuk tidak mendapat bagian untuk memilikinya. Balik lagi soal sejarah.. bangsa yang baik adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. Gimana bisa menghargai kalo tidak tau sejarah ya kan kak..
bener mbak. makanya mengenal sejarah itu penting. seperti belajar masa lalu.
Saat ini kita hidup dari sejarah pendahulu kita. Dan kelak penerus bangsa hidup dari sejarah yang kita ciptakan. Sepakat, kalau kita malas-malasan maka generasi selanjutnya pun akan malas-malasan. Besar juga filosofi uang 75 ribuan ya. Hehe
panjang dan lebar mas. hehe. udah punya uang 75 ribuan gak?
Waktu masih sekolah, pelajaran tentang sejarah juga jadi pelajaran favorit. Sekarang saya juga suka traveling ke tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah.
asyiknya bisa travelling ke mana-mana. ikut mbak. hehe
Sejarah tidak luput dari bagian budaya dan seperti juga budaya, harus tetap diperingati agar orang orang ingat. Saya baru tau ada sesi tentang sejarah ini di IG Live teh Ani.
Nuhun infonya kak.
sama sama mbak. info soal sejarah banyak pentingnya. jadi memang harus dipelajari.
Mungkin aku bukan org yg bisa menikmati vrita lewat tulisan ya mbak. Jadi ga suka baca novel atau sejarah gtu…sejarah ku jelek dluu..aku ga suka nginet2 tanggal, tempat kejadian dll…asliii .. 😀
Kalau datang ke tempat bersejarah gimana mbak? suka gak? mungkin dengan tarveling ke tempat bersejarah bisa bikin mood beda.
Waah serunya belajar sejarah dr Historia. Sayang baru tau jadi ketinggalan huhuhu
Guru sejarah saya waktu SMP namanya Pak Zamzani, sangat disukai teman2 karena ngajarnya asik. Duhh jadi kangen heheh
langsung didatangi pak gurunya mbak. biar gak kangen lagi. hehe
artikel ini bukanlah cuman meningkatkan pandangan saya tetapi juga menolong saya, saya ingin pembaca yang lainnya bisa pula terselamatkan karena artikel ini, dan saya ingin artikel ini dapat diperkembangkan oleh penulis, agar fungsi buat saya namun juga yang lain
Alhamdulillah. Terima kasih atas apresiasinya kak. Mudah mudahan bisa bermanfaat bagi pembaca yang lain.