MARHABAN YA RAMADHAN….
Sebelumnya saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa untuk pembaca yang budiman. Selamat datang di blog saya dan marhaban ya Ramadhan.
Tak terasa sudah memasuki bulan Ramadhan lagi tahun ini. Padahal kemaren seolah kita baru saja berlebaran ya. Tahun memang cepat berlalu. Bahkan kalau kita bisa menghitung mundur. Kemaren kita masih berasa anak-anak ya. Tapi sekarang sudah jadi emak-emak. Hihihi…
Oke deh, saya akhirnya mencoba membuka sarang laba-laba setelah sebulan kemaren tidak posting artikel sama sekali. Hebat ya, luar binasa. Eh luar biasa. (malesnya maksudnya, ups!!). Sebenarnya bukan karena malas sih. Tapi lebih karena kesibukan menulis yang lain. Jadi ngeblognya jadi dinomorsekiankan.
Inilah sebenarnya ketakutan terbesar saya kalau berkecimung di dunia blog. Rasa malas yang mendadak muncul untuk ngeblog. Tapi saya niatkan untuk tetap eksis menulis di blog dan mudah-mudahan di bulan Ramadhan tahun ini, penyakit saya itu benar-benar terhempaskan. Hush… hush… hush…
Sudah ya curhatan kecilnya. Anggaplah itu intermezo yang mewarnai masuknya saya kembali ke rumah kedua saya ini. Oh iya, interupsi dulu ya sebentar. Masalah kesibukan menulis di tempat lain. Itu bukan sekedar alasan yang saya buat-buat loh. Tapi benar-benar ada kesibukan lain. Yaitu membina kelas menulis dan membuat materi kepenulisan. Baik di kelas cerpen maupun naskah skenario, sudah mulai dapat job lagi dari rumah produksi. Produser mulai calling-calling untuk bikin sinopsis dan sceneplot untuk pintu berkah yang tayang Ramadhan ini dan nulis artikel di UC-MEDIA. Kalau yang terakhir ini lagi hot-hotnya sekarang. Sama seperti masa pertama saya menulis di blog dulu. mudah-mudahan bisa terus konsisten ya. Amin….
Bagaimana? Sudah bisa dimaafkan kan kealpaan saya absen dulu di dunia blog. Terima kasih. Semoga tidak terulang lagi. Amin ya ALLAH.
Baiklah teman-teman, itulah sedikit cerita saya untuk mengawali bulan puasa di Ramadhan 1440 H ini. Saya lupa tahun hijriyahnya, jadi saya nyontek kalender dulu untuk melihat sudah berapa tahun hijriyah dilewati oleh Ramadhan. Ternyata sudah 1440 tahun saudara-saudara. Lama ya. Walah. Dan saya baru hidup di 35 tahun terakhirnya. Huhuhu… sudah kepala tiga dan saya masih belum merasakan perubahan religius dalam diri saya. Ampuni hamba ya ALLAH.
Dan akhirnya saat-saat paling penting dalam hidup saya. Ketika pintu Ramadhan terbuka lebar, saya niatkan untuk memperbaiki diri lebih dalam lagi. Bermusahabah lebih baik lagi dan tentunya mengawali puasa bersama keluarga tercinta. Masalahnya, cerita yang saya bagikan di acara buka puasa bersama dengan keluarga kali ini agak tragis. Kenapa bisa begitu?
Jadi begini. Saya berniat mau membuat takjil untuk keluarga dengan membuat puding susu yang disiram fla putih di atasnya. Kenapa saya memilih puding susu? Alasannya simpel. Karena tidak perlu nambahin gula lagi dan karena saya suka puding. Anak-anak saya juga suka. Malahan ATTA, tidak sabaran untuk mencicipi puding dan memaksa saya untuk membuatnya di siang bolong.
Begini bentuk jadinya. cantik bukan?

sumber : foto pribadi
Oke fine. Membuat puding memang pas di siang hari. Jadi pas buka tinggal comot. Tapi… ada sedikit kekhawatiran saya ketika ATTA mau puding dengan fla. Karena biasanya mulutnya saja minta sama flanya. Pas dicampur, sudahlah. Wassalam.
“ATTA gak mau putihnya ma. Bikinin lagi.”
Nah loh, tadi siapa yang minta dicampur sama fla. Ini semua yang ada di rumah kan lagi puasa. Kalau gak habis siapa yang makan. Sayang kalau dibuang nak.
Drama tangis dan merajuk pun akhirnya terjadi. Singkat cerita, saya akhirnya membuatnya lagi dalam beberapa wadah dan saya pisahkan untuk suami dan mertua nanti.
Tapi dan tapi. Drama lainnya pun kembali terulang. Kali ini ALIA, adiknya ATTA yang berulah.
Puding susu yang sudah saya kemas dalam cup kecil plus tutupnya. Sudah cantik dengan fla putih di atasnya, saya letakkan di wadah dengan air di bawahnya. Maksudnya agar tidak ada semut yang masuk ke dalam wadah. Nah, saat saya sedang menerima telpon dari pak produser mengenai pekerjaan naskah, eh si adik kok diam saja sambil duduk tenang. Biasanya adik ramai dan joget-joget. Saya sudah tenang karena saya pikir adik sedang tidak rewel. Tapi ternyata saudara-saudara. Hal mengejutkan terjadi ketika saya selesai menutup telpon yang hanya sekian menit itu.
Tahukah anda sekalian apakah itu?
Kalau di sinetron, wajah saya mungkin langsung di ZOOM TO CU. Plus dengan sorot mata tajam saking kagetnya. Karena puding susu yang sudah saya kemas cantik tadi berubah menjadi kolam susu. Yah, adik sudah mencampur air yang tadinya saya buat alas agar tidak ada semut yang masuk cup, ke dalam cup puding. Akibatnya puding coklat dan fla susu putih tadi sudah bercampur dengan air mentah. Ya ALLAH adik….. baru hari pertama puasa sudah bikin mama mau marah.
Ini foto setelah airnya saya buang. Menyisakan puding coklat yang berakhir mengenaskan. (puding yang kebanjiran air mentah tadi lupa saya foto karena saya terlanjur mengelus dada sambil membuang airnya ke lubang pembuangan air. hiks)

sumber : foto ptibadi
Sabar… sabar… sabar….
Dengan sedikit menahan kekesalan dengan sedikit aksi mengelus dada, saya akhirnya merelakan puding saya tadi berakhir di tong sampah. Tapi tragedi tidak berakhir sampai di situ. Puding lainnya yang baru saja selesai saya foto, tiba-tiba diinjak adik yang lewat tanpa melihat ada apa di depannya. Yah, salah saya mungkin karena memfoto puding kok di lantai. Huhuhuhu….
Dari 5 cup yang saya buat, hanya dua yang masih bisa dimakan. Untunglah, daripada dibuang. ATTA makan satu cup tanpa fla, satunya lagi dimakan adik yang ternyata tidak dihabiskan. Sementara saya, suami dan mertua tidak ada yang kebagian.
Ya sudahlah, nasib…. nasib. Semuanya demi anak. meskipun anak yang merusak menu takjil, anak juga yang mendapat jatahnya. Barakallah… mudah-mudahan ini pertanda baik. Biasanya nih, kalau anak menggoda orang tuanya dan orang tua bisa sabar menghadapinya, itu tandanya orang tua akan mendapatkan rejeki yang banyak. AMIN ya ALLAH…. semoga benar adanya.
Malam itu, setelah berbuka puasa, adik kembali rewel dengan menangis karena ternyata ngantuk. Saya yang sudah menjadwalkan ikut tawarih pun akhirnya batal karena harus menenangkan si kecil sampai benar-benar bobok. Untunglah kakaknya tidak ikut rewel. Makasih ya mas ATTA. Jatah rewelnya jangan barengan ya. Besok belajar puasa. Disuruh bu guru ngajinya.
“iya ma…” ATTA menjawab dengan patuhnya.
Duh senangnya punya anak penurut. Ya harus, kalau gak nurut gak dikasih kue. Hehe…
Nah, begitulah cerita saya di awal puasa bulan Ramadhan kali ini. Semoga tragedi yang saya alami di hari pertama ini menjadi pertanda baik bagi saya dan keluarga. AMIN lagi ya ALLAH. khusnudzon saja dengan apapun yang ALLAH rencanakan untuk saya dan keluarga. ALLAH maha BAIK.
Bagaimana dengan cerita kamu? terjadi tragedi jugakah seperti saya? share yuk di kolom komentar. Ditunggu ya… terima kasih.
Salam sayang,
wahyuindah
#day01 #30HariKebaikanBPN


2 Comments. Leave new
Ceritanya seru mbak 😀 saya bisa bayangin gimana perasaan mbak waktu itu heheh
saya juga pernah lagi bikin adonan donat, terus keponakan saya yang balita tau-tau lewat dan diem aja berdiri samping baskom adonan… pas diliat dia lagi pup dan pupnya … ah sudahlah~ hehehe
ya Allah… sampai pup segala. ya sudahlah, kita emang harus sabar ya mbak. bulan puasa cobaannya gede.