
Ada sekitar 589 juta penderita diabetes di dunia dan 215 juta diantaranya berada di kawasan Asia Pasifik Barat dimana Indonesia berada di dalamnya. Jumlah ini akan terus meningkat dengan prediksi sejumlah 254 juta penderita diabetes pada tahun 2050 nanti.
Sungguh berita yang membuat shock karena siapa yang menyangka jika penderita Diebetes akan sebanyak itu. Terutama di negeri tercinta kita ini. Indonesia. Seolah sebuah luka sedang disayat di atas kulit dengan sengaja. Perih, berdarah, bernanah.
Ngeri karena faktanya penyakit diabetes banyak juga diderita oleh orang Indonesia. Gaya hidup tidak sehat memicu munculnya penyakit yang cukup meresahkan ini. Meskipun sebagian diturunkan oleh orang tua atau kerabat dekat, penyakit diabetes tetap harus diwaspadai karena orang yang tidak punya riwayat diabetes pun bisa kena.
Wajah prihatin laki-laki berjas putih itu memandang lelaki tua yang baru saja keluar dari ruang rawatnya. Sebelah kakiya baru saja diamputasi. Seorang perempuan berwajah ramah muncul di belakang laki-laki tadi sambil mencoba membantu sebisanya. Seorang pasien diabetes, baru saja menjalani perawatan luka. Laki-laki berjas putih itu memandangnya sambil berkata lirih. “Andaikan kita punya alat yang lebih baik, kita pasti bisa menolong laki-laki tua itu.”
Perempuan itu yang tak lain adalah istri laki-laki berjas putih hanya bisa mengangguk sambil memegang tangan suaminya. Kita dirikan rumah luka agar bisa membantu pasien diabetes yang datang berobat agar tidak sampai diamputasi kakinya.
Laki-laki berjas putih itu adalah Ahmad Hasyim Wibisono. Lulusan Ilmu Keperawatan yang melanjutkan pendidikannya melalui sertifikasi perawatan luka di World Council of Enterosthomal Therapist (WCET) tahun 2012 dan mendapatkan sertifikat Terapis Stoma World Council of Enterosthomal Therapist di tahun yang sama.
Pak Hasyim, begitu dia akrab disapa mendirikan Pedis Care bersama istri dan seoran stafnya di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Panjaitan Kota Malang. Sebuah perjuangan panjang yang lahir dari sebuah ketulusan.
Ketulusan itu semakin terlihat ketika melihat banyak pasien diabetes ternyata adalah orang yang tak mampu secara finansial. Kelas menengah ke bawah. Bagaimana caranya membantu para pasien diabetes ini berobat, sementara pengobatan Diabetes mellitus tidaklah murah.
Pedis Care Lahir dari Keprihatinan Nurani Seorang Perawat bernama Ahmad Hasyim Wibisono

Sumber gambar ; radiobola.com
Siapa yang tak terenyuh melihat anggota keluarga harus kehilangan salah satu organ tubuhnya karena diamputasi. Tak ada biaya untuk melakukan pengobatan. Jangankan berobat. Untuk makan sehari-hari saja selalu pas-pasan.
Melihat banyak fenomena tersebut di kalangan pasiennya, Ahmad Hasyim Wibisono tergerak hatinya untuk ikut membantu. Daripada memaksakan diri berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal, pria muda yang juga dosen Ilmu Keperawatan di Universitas Brawijaya Malang ini memantapkan diri membuka rumah luka bernama Pedis Care.
Perjuangannya tidak mudah. Dari rumah kontrakan, Pedis Care jatuh bangun dalam mengembangkan usahanya. Bahkan ijin prakteknya baru muncul setelah satu tahun didaftarkan. Selama menunggu ijin usaha tersebut, Pedis Care tidak tingal diam. Pak Hasyim bersama istri dan stafnya mencoba menjemput bola dengan membantu pasien diabetes yang datang untuk berobat.
Dengan penuh ikhtiar, Pak Hasyim juga menjembatani pasien diabetes dengan para dokter spesialis di rumah sakit untuk ikut membantu pengobatan. Jadi nantinya pasien diabetes yang berobat ke Pedis Care akan diberikan rujukan untuk berobat lagi ke dokter spesialis agar mendapatkan fasilitas medis yang memadai.
Tujuan utamanya adalah mencegah pasien diabetes diamputasi anggota tubuhnya. Penyelamatan anggota tubuh dari amputasi akibat kadar gula yang banyak ini ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun dari kerja kerasnya tak tanpa putus, Pak Hasyim bersama istrinya akhirnya dapat mengembangkan usahanya dalam membantu para pasien diabetes.
Jangan mengira jika pak Hasyim meminta bayaran mahal kepada pasiennya karena pengobatan diabetes memang mahal. Sebaliknya, pak Hasyim membebaskan biaya pengobatan diabetes kepada pisiennya yang benar-benar tidak mampu secara finansial.
Caranya dengan mengadakan proram subsidi silang, yaitu merekomendasikan pasien diabetes yang mempunyai finansial lebih untuk membantu pasien lainnya yang tidak mampu membayar pengobatan. Selain itu pak Hasyim juga terus berupaya mengajukan bantuan kepada pemerintah yang akhirnya membuahkan hasil. Bantuan terus menerus berdatangan.
Tingkat kesembuhan pasien yang berobat di Pedis Care semakin tinggi dengan kemungkinan amputasi semakin berkuran. Atas keberhasilan inilah akhirnya Pedis Care mulai dikenal masyarakat sekitar. Berita dari mulut ke mulut cepat sekali beredar, hingga banyak pasien diabetes yang datang untuk berobat.

“Awal 2015 kita bertiga, sekarang sudah 50 an.” Begitu kata penerima penghargaan Satu Indonesia Award 2019 kategori kesehatan yang menamatkan pendidikannya di Diabetes Manaement and Education, Flinders University Australia ini.
Kiprah bapak satu anak ini di dunia kesehatan terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan lainnya yang diterimanya, yaitu Juara 2 Presenter Jakarta Diabetes Meetin tahun 2017 yang diadakan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) serta Juara 3 Kompetisi Perencanaan Bisnis Nasional “Ifortepreneur” tahun 2022.
Kiprah lainnya yaitu membuat sandal khusus Diabetes yang dijual secara online. Hasilnya banyak pasien diabetes yang terbantu setelah memakai sandal khusus penderita diabetes tersebut.

sumber gambar : Pedis Care Malang
Apa yang dilakukan oleh Ahamd Hasyim Wibisono ini tentu saja menginspirasi banyak orang. Terutama para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya yang mungkin saja tidak terpikir untuk membuat usaha untuk membantu pasien di luar jam kerja rumah sakit.
Ahmad Hasyim Wibisono juga mengajarkan kita untuk tidak perlu menjadi kaya dulu untuk bisa membantu orang lain. Buktinya Ahmad Hasyim Wibisono berhasil mendirikan Pedis Care saat masih menjadi seorang perawat biasa di rumah sakit.
Tekadnya yang kuat dan kepeduliannya yang tinggi untuk membantu kesembuhan pasien diabeteslah yang membuatnya mimpinya perlahan terwujud. Kini tak hanya warga Malang saja yang dapat berobat ke Pedis Care, tapi warga luar Malang juga bisa datang berobat.
Perihnya luka akibat gula darah yang meningkat bisa perlahan hilang di tanah Arema. Siapa yang menyangka kan. Jodoh bukan hanya tentang pasangan saja. Tapi juga bisa tentang kesehatan. Nyatanya banyak pasien diabetes yang sudah berobat ke sana kesini, tapi belum sembuh juga. Sementara di Pedis Care menemukan pengobatan terbaik yang dapat menimimalisir luka akibat diabetes.
Semoga apa yang dilakukan Ahmad Hasyim Wibisono ini dapat membangkitkan kepedulian orang lain ya untuk terus membantu sesama tanpa melihat harta dan status. Awali saja dengan niat yang baik dan tingkatkan dengan usaha maksimal. Nantinya pintu rejeki akan datang dari arah yang tak disangka-sangka.
#APA2025-LPM
Referensi :
https://www.radioidola.com/2023/mengenal-ahmad-hasyim-wibisono-ceo-pedis-care-malang/
https://idf.org/our-network/regions-and-members/western-pacific/members/indonesia/
Wawancara langsung

