
Masih menulis diary?
Dulu sih iya. Bahkan menulis diary sudah menjadi rutinitasku sejak SD. Tapi kebiasaan itu berhenti saat aku SMU. Tepatnya setelah diariku dibaca oleh seorang teman.
Marah dong karena diary kan urusan pribadi. Gak boleh ada yang baca selain pemiliknya. Tapi aku juga salah sih karena membaca diary ke sekolah. Harusnya mendekam di kamar saja hingga menjamur. Sejak itu aku berhenti menulis diary tertulis dan beralih ke diary digital.
Adikku yang mengenalkanku dengan diary digital. Jadi diarynya berbentuk seperti aplikasi buku yang bisa dibuka dengan membuat akun dan password. Lucu sih karena seperti menulis di buku diary. Tapi ini buku diary-nya berbentuk buku digital.
Masalahnya menulis di buku digital tidak berlangsung lama karena tidak efisien menurutku. Maka aku pun mencari platform menulis online seperti multiply untuk menyalurkan hobi menulis. Bahasanya ya bahasa alay yang kalau aku baca lagi sekarang pasti bikin ngakak.
Untunglah multiply sudah turun tahta. Jadi aku tidak perlu membaca lagi tulisanku yang amburadul itu. Malu. Mungkin karena itu juga alasan aku menulis hal-hal pribadi di platform online. Berasa buka aib sendiri. Gitu gak sih. Sejak itu aku mengubah topic tulisan menjadi apapun yang terbaca panca indraku.
Aku pernah menulis tentang banjir di kotaku, tentang program TV yang kurang mendidik, tentang ibuku yang hobi bikin kue. Tentang apa saja deh. Random banget.
Tulisan seolah menjadi wadah terakhir yang mampu menampung gelombang pikiran yang terus menerus muncul di kepalaku. Akhirnya bukan hanya buku diary saja yang aku tulis. Tapi juga buku antologi cerpen, novel, buku ajar, naskah skenario hingga yang kini aku jalani adalah menulis artikel di blog.
Daftar Isi
Akhirnya Aku Menemukan Blog

Perkenalanku dengan blog sebenarnya terjadi tanpa disangka-sangka. Aku bahkan tidak tahu apa itu blog. Saat itu aku sedang mencari platform menulis digital pengganti multiply yang kini sudah menjadi legenda. Kegiatan yang aku lakukan di sela-sela waktuku menulis naskah skenario.
Ya benar. Sebelum mengenal blog, aku adalah seorang penulis naskah skenario di sebuah Production House di Jakarta. Aku menulis jarak jauh karena tidak memungkinkan lagi kembali ke ibukota. Setelah menyelesaikan kontrak kerja di Jakarta, aku kembali ke kota asalku di Malang karena permintaan suami.
Maklum, aku pergi ke Jakarta setelah satu bulan menikah. Tepatnya bulan Januari tahun 2010. Sementara aku menikah di bulan November 2009. Masih pengantin baru tapi sudah Long Distance Relationship alias LDR – an sama suami selama 2 tahun. Aku di Jakarta dan suami di Malang.
Suami yang gak kuat karena ingin sekali punya anak. Hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke Malang. Itu pun kami tidak langsung dikaruniai anak. Masih harus menunggu 2 tahun lagi sampai akhirnya aku hamil di usia yang ke-30 tahun. Kalau saja aku gak pulang dan mendahulukan karir di Jakarta, mungkin sampai sekarang aku belum punya anak. Ada hikmahnya kan aku pulang kampung.
Alhamdulillahnya lagi, aku yang awalnya kebingungan bekerja apa setelah di Malang ternyata masih diberikan kesempatan untuk menulis naskah skenario oleh bosku via jarak jauh. Kaget juga dengan suasana di Malang yang tiba-tiba diam di rumah. Terbiasa kerja dari pagi ketemu pagi, rasanya aneh ketika tiba-tiba jadi ibu rumah tangga biasa yang tidak melakukan apa-apa.
Untunglah suami mengerti jika aku tidak bisa diam saja di rumah. Aku ingin bekerja untuk menyibukkan diri. Akhirnya aku memanfaatkan background pendidikanku yang alumni Fisika Universitas Brawijaya Malang untuk mengajar fisika di bimbingan belajar.
Alhamdulillah aku diterima bekerja sebagai tentor. Bukan hanya tentor fisika saja, tapi juga tentor IPA dan matematika untuk anak SD, SMP dan SMA. Padahal biasanya aku mengajar anak SMA saja. Tapi sekarang ketambahan anak SMP dan SD.
Bingung ya melihat aku yang bekerja sebagai penulis naskah skenario yang ternyata alumni fisika? Banyak yang gak nyangka juga sih. Banyak yang mengira aku kuliah di bidang broadcasting atau multimedia dan semacamnya karena pekerjaanku di bidang perfilman. Jauh dari background pendidikanku yang anak fisika.
Sebenarnya bukan karena aku tidak mau bekerja di bidang fisika. Tapi aku meneruskan hobiku menulis yang ternyata aku perdalam hingga tanpa sadar menuntunku untuk bisa bekerja sebagai tim creative di sebuah production house di Jakarta. Modalnya apa? Pengalaman otodidak.
Semua mengalir begitu saja. Di semester akhir saat aku masih jadi mahasiswa, aku sudah belajar naskah skenario dan mengirim naskah via email. Alhamdulillah naskah FTVku tayang di SCTV. Aku kuliah dan menjalani hobiku menulis tanpa ada beban. Apalagi setelah tahu jika naskahku dibayar. Wah makin semangat kan belajarnya.
Kecintaanku terhadap tulisan yang membuatku mau belajar tentang sesuatu yang baru. Seperti ketika aku menonton televisi dan melihat banyak tontonan yang gak mendidik, terbesit di pikiranku untuk membuat program tv yang mendidik. Atau membuat film yang tidak melulu soal percintaan remaja. Tapi ada unsur edukasinya.
Masya Allah banget ketika semua uneg-unegku tadi terwujud dengan masuknya aku ke production house. Aku belajar menulis naskah skenario secara otodidak dan langsung terjun ke dunia penulisan naskah skenario.
Bisa tergabung dalam tim penulisan sinetron, menjadi co writer dan head writer untuk tayangan series Indosiar dan membuat program TV ekspedisi merah dan program lainnya yang mendidik. Semua berawal dari tulisan.
Makanya ketika aku kembali ke Malang dan tidak dikejar deadline tulisan lagi, rasanya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung. Bisa dibilang aku tidak bisa hidup kalau tidak menulis.
Makanya ketika aku resmi jadi tentor di bimbingan belajar, aku tetap usahakan untuk menulis. Hingga terbitlah novel pertamaku, Nebula yang diterbitkan oleh Metamind Tiga Serangkai. Lalu lanjut buku Pintar Fisika SMP kelas 7,8,9 yang merupakan rangkuman materi saat aku menjadi tentor fisika untuk anak SMP.
Sebelumnya aku juga menerbitkan buku Hapus Gelisah dengan Sedekah yang diterbitkan oleh Qultummedia tahun 2006 dan sudah mencapai cetakan ketiga.
Menulis naskah skenario dan menulis buku sepertinya belum membuatku puas. Aku masih ingin menulis diary yang bahasanya lebih santai dan bisa mewakili opiniku tentang sesuatu yang aku tangkap lewat panca indraku. Hingga akhirnya aku menemukan yang namanya blog.
Awalnya aku tak tahu tentang blog. Aku hanya browsing saja di internet lewat laptop dan melihat postingan bloggerperempuan.com. Setelah membuka dan membaca tulisan di dalamnya, aku kok tertarik ya. Bahasa tulisan yang ada di sana seperti bahasa diary. Mengalir seperti air dan sesuai apa kata hati penulisnya.
Dalam hati aku berkata, “ ini nih yang aku cari. Tulisan santai yang bisa mewakili isi hati.” Aku pun mulai membaca artikel teman-teman di blog yang berbeda. Gaya tulisannya juga berbeda. Penasaran, akhirnya aku membuat blog sendiri yang tautannya aku lihat di bloggerperempuan.com. Aku ingat betul waktu itu aku diarahkan ke situs dewaweb.com
Aku tipe orang yang kalau penasaran, akan mempelajari hal baru sampai tuntas. Makanya setelah aku tahu apa itu blog dan betapa menariknya jika bisa menulis di blog sendiri, aku pun mulai mencari tau cara membuat blog dengan mendaftar di dewaweb.com. Awalnya masih yang gratisan karena niatnya mau coba-coba.
Jujur aku sama sekali tidak tahu jika blog ternyata bisa menghasilkan cuan. Niat awal membuat blog hanya untuk menyalurkan hobi menulis saja. Semakin ke sini kok semakin asyik, hingga aku memutuskan untuk membuat blog yang berbayar. Rasanya unik saja gitu, dari wahyuindah.wordpress.com menjadi wahyuindah.com. wordpressnya dihilangkan. Terlihat lebih kece saja menurutku. Hehe.
Perjalanan Ngeblog dari 2019 sampai 2025

Terhitung sejak tahun ini, 2025 rupanya aku belum genap 10 tahun ngeblognya. Tepatnya 6 tahun karena aku mulai aktif menulis di wahyuindah.com itu januari 2019. Isinya adalah challenge menulis 30 hari saat Ramadan di bloggerperempuan.com.
Terbiasa menulis dikejar deadline tanpa mengenal lelah, tidak sulit bagiku menyelesaikan tantangan menulis satu hari satu tulisan. Apalagi tulisan yang diminta minimal hanya 500 kata. Sementara saat menulis naskah skenario, aku terbiasa menulis 30.000 kata per hari.
Antusiasku menulis di blog semakin bertambah ketika aku melihat ada lomba blog. Hadiahnya lumayan. Wah ternyata ada lomba blog juga ya. Saat itu aku belum tahu soal content placement, DA, PA, ss dan konco-konconya. Makanan apa itu? Aku hanya tahu kalau blog itu isinya artikel semacam curhat tapi lebih tertata dan sistematis.
Artikel yang menang lomba bahkan tidak hanya sekadar curhatan loh. Tapi penulisnya memberikan data konkrit dari sumber yang terpercaya dan ada infografis sebagai penunjang tulisan. Wah apa tuh, hal baru buat aku yang memang masih pemula di bidang blogging.
Rasa penasaran membuatku semakin mendalami dunia blog. Artikel awalku yang masih bergaya multiply jadi sorotan utamaku. Malu sama artikel para pemenang blog yang seperti karya ilmiah. Tertantang dong aku untuk mempelajari blog dengan membaca banyak artikel para juara blog ini.
Nah, entah Allah mengerti jika aku butuh bantuan atau apa. Tiba-tiba saja aku kenal dengan seorang blogger dari Malang. Kalau tidak salah, kenalnya di twitter dan aku diajak gabung ke komunitas blogger Malang. Wah ada ya komunitas blogger. Baru sadar juga kalau di Malang banyak bloggernya.
Mas Richo namanya, blogger Malang yang mengajakku masuk ke Malang Citizen. Syaratnya dengan membuat artikel tentang wisata di Malang raya. Nanti artikelnya tayang di blog Malang citizen dan aku dimasukkan ke komunitas blogger Malang. Semudah itu ternyata.
Aku seperti masuk ke dunia baru ketika aku diminta memperkenalkan diri. Malu juga karena aku benar-benar pemula di bidang blogging. Dari komunitas Malang citizen itulah aku diajak bergabung ke komunitas lain yaitu Blogger Kodew Malang.
Jika Malang Citizen isinya blogger laki-laki dan perempuan asal Kota Malang. Maka sesuai namanya, Blogger Kodew Malang isinya blogger perempuan semua. Berasa masuk asrama putri. wkwkkw. Mereka welcome sekali dan mau berbagi ilmu kepadaku yang masih anak ayam di bidang perbloggingan.
Sejak bergabung di komunitas blogger, aku baru mengenal yang namanya DA, PA, ss, DR, content placement, traffic dan lain sebagainya.
Kaget juga karena ngeblog itu tidak berhenti sampai tulisan jadi. Kalau di naskah skenario kan pekerjaan dianggap sudah selesai setelah naskah jadi dan disetor ke tim produksi. Nah kalau blog, setelah naskah jadi masih ada maintenance dengan share tulisan ke sosial media, mengamati traffic, mencari keyword yang relevan, aktif menulis agar tulisan ada di peringkat satu google. Wah semuanya istilah baru buatku. PR nya banyak.
Sekali lagi, aku tidak berhenti di tengah jalan dong. Rasa penasaran membuatku semangat untuk belajar dan belajar. Bahkan aku memberanikan diri untuk ikut lomba blog. Temanya tentang oli motor Enduro Matic G. Sesuatu yang bahkan aku tak tahu.
Aku tidak bisa naik motor. Oli motor dan segala perkakasnya juga asing buatku. Tapi aku nekad ikut lomba blog. Sebenarnya bukan lomba blog sih yang aku ikuti. Tapi lomba vlog. Itu pun karena dibayar 200 ribu jika mau ikut. Siapa yang gak mau kalau ada cuan di depan. Alhamdulillah suami mau bantu bikin video di dealer motor.
Nah karena selain lomba vlog, penyelenggara lomba juga mengadakan lomba blog. Maka aku ikut lomba blog juga. Pikirku sekalian saja karena sudah bikin videonya dan sayang kalau datanya tidak ditulis dalam bentuk tulisan. Niatnya bukan untuk menang, tapi pengalaman saja karena aku cukup sadar diri masih sangat pemula di bidang blogging.
Syukur alhamdulillah ternyata aku menang juara 3 di lomba blog. Sementara yang vlog, malah kalah. Rejeki memang gak kemana ya? Kagetnya lagi saat mengecek DA. Saat itu DA ku baru 3. Ternyata angka itu terlalu kecil dan harus lebih aktif lagi jika ingin mendapatkan cuan dari blog. Kalau bisa DA minimal 20.
CUAN?
Nah dari sini nih aku baru sadar jika ternyata blog bisa menghasilkan cuan. Jadi ketika kita aktif menulis blog dan bisa terbaca google, maka akan banyak advertiser yang tertarik untuk menitipkan tulisannya ke blog kita. Bukan hanya itu, monetisasi blog juga mempengaruhi ketertarikan advertiser kepada blog kita.
Aku sudah membuktikan sendiri dan alhamdulillah blogku yang dulunya aku jadikan sebagai wadah diary digital sekarang sudah menjadi ladang cuan.
Darimana cuannya? dari review produk, content placement, blogger menulis sendiri dengan tema yang diberikan oleh klien, pesanan dari platform backlink seperti rajabacklink, seedbacklink, backlink.co.id dan sejenisnya. Masya Allah.
Alhamdulillahnya lagi, berkat tulisan di blog yang mengedepankan personality, aku mendapatkan kesempatan untuk diajak kerjasama oleh De Crea Digital, sebuah digital marketing agency yang mengerjakan proyek sosial media dan web klien. Aku bertugas sebagai content writer yang mengisi web klien.
Salah satu alasan yang membuat aku diajak kerjasama adalah gaya bahasa di blogku yang katanya sangat personality. Bahasanya mengalir dan enak dibaca. Jadi kelihatan jika tulisan dibuat oleh manusia. Bukan oleh robot atau AI. Alhamdulillah.
Gaya bahasa penulisan ternyata berpengaruh ya. Semakin nyaman orang membaca tulisan kita, semakin tertarik orang untuk mengajak kerjasama blogger. Ini pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pengalaman ngeblog.
Alat Tempur Blogger Sepanjang Masa

Dari tadi aku cerita tentang aktivitas menulisku yang jadi hobi. Jangan bosan ya, soalnya sudah kesenangan. Nah biar gak bosan, sekarang aku ceritakan tentang sumber kesenanganku menulis yaitu alat tempurnya.
Lucu kan kalau kita menulis tapi tidak punya buku tulis. Atau mengetik tapi gak punya laptop. Sama seperti minum air putih tapi gak punya gelas. Atau mau makan tapi gak ada piring. Eh bisa sih makan di mangkok atau daun pisang. Tapi kan umumnya makan itu pakai piring. Iya kan.
Sama seperti menulis. Wadah menulis ya alat tempurnya. Selama ini aku pakai laptop untuk menulis. Lebih mudah dibawa kemana-mana daripada komputer PC. Laptopnya ASUS yang sudah terbukti kecanggihan dan ketangguhannya. Dipakai menulis nonstop juga awet saja.
Karena kebutuhan dasarku sebagian besar adalah menulis di aplikasi word, aku masih pakai laptop ASUS VivoBook Go 14 (E1404F) yang harganya 6 jutaan saja. Meskipun harga terjangkau, tapi spesifikasinya melebihi ekspeksasi loh.
Layarnya 14 inchi dengan bobot 1,3 kg dan tebal 17,9 mm. Layarnya penuh karena memiliki NanoEdge Bezel yang cukup kecil. Jadi kesannya layar besar dan lega. Sukanya lagi, laptop ASUS ini bisa dibuka 180 derajat loh. Jadi bisa banget kalau mau sharing tulisan dengan teman tanpa harus putar balik laptop.
Prosesornya sudah pakai AMD RyzenTM 7000 U-Series yang memberikan efisiensi tinggi serta kecepatan dalam bekerja. Kapasitas memori sampai 16 GB, jadi bisa simpan banyak foto dan video untuk kebutuhan blog maupun nonton film.
Sukanya aku dari Asus VivoBook Go 14 (E1404F) ini adalah aplikasi microsoft office-nya sudah lengkap dan 100% asli. Gak kebayang kalau pakai aplikasi office palsu, tulisan yang sudah disimpan bisa hilang. Menangis 7 turunan dong kalau sampai terjadi.
Windowsnya sudah window 11 home asli dengan genuine Microsoft office 2021 yang bikin ketikan terasa nyaman dan aman. Transfer datanya cepat lagi. Sangat membantuku ketika harus memasukkan foto dari hp ke laptop untuk didesain pakai canva. Bikin infografis untuk blog nih ceritanya.
Transfer datanya bisa pakai USB type C, USB type A, HDMI untuk presentasi dan combo audio jack 3,5 mm yang menghasilkan suara keras. Jadi dengerin musik atau nonton film di laptop jadi berasa banget. Bagian yang paling aku suka adalah keyboardnya. Pakai ErgoSense woi. Toolsnya ringan banget dipencet.
Acara mengetik terasa nyaman dan gak terasa sudah ribuan kata yang diketik. Bisa nyala di cahaya redup juga karena dilengkapi dengan backlit keyboard. Jadi kalau tiba-tiba mati lampu saat masih ngetik, tetap aman dan nyaman. Bisa lanjut.
Laptop Asus ini sudah tersertifikasi militer AS loh, artinya daya uji ketahannya sudah berstandar internasional dan terbukti tangguh. Inilah kelebihan laptop Asus yang sudah terkenal. Produknya gak kaleng-kaleng.
Aku jadi makin terkesima dengan laptop Asus setelah diberikan kesempatan untuk mereview produknya. Tentu saja kesempatan itu datang dari komunitas blogger yang mengenalkan aku pada beberapa produk Asus yang kece semua.
Blogger Mengenalkanku Pada Inovasi Asus yang Selalu Bekembang

Asus selalu terdepan dalam inovasi produk dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Tak terkecuali perkembangan blogger di Indonesia. Salah satu dukungan Asus terhadap blogger adalah dengan mengadakan berbagai event baik online maupun offline. Kegiatan ini sudah diadakan Asus sejak tahun 2015 hingga sekarang dan akan terus berjalan guna mendampingi blogger berkembang.
Sebuah kehormatan bagiku ketika aku diberikan kesempatan untuk ikut acara offline Asus yang diadakan di kotaku, Kota Malang. Event bertajuk gathering blogger Malang ini selalu membuatku antusias karena Asus mengenalkan produknya terlebih dulu kepada blogger sebelum dilepas ke pasaran.
Artinya Asus benar-benar mengapresiasi keberadaan blogger dengan memberikan kesempatan blogger untuk mengulas produknya. Analisis produk yang honest review berdasarkan pengalaman pemakaian langsung produk Asus akan membantu Asus menilai seberapa kencang produk Asus diterima masyarakat. Keren ya.
Selama jadi penulis naskah skenario, aku hanya berkecimung dengan laptop. Sementara sejak jadi blogger, aku tidak hanya berkutat di depan laptop saja. Tapi diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan alat tempur yang aku gunakan untuk berkarya. Masya Allah.
Ngeblog memang membuka banyak jalan. Bukan hanya satu jenis laptop Asus yang dikenalkan. Tapi banyak. Dari gathering Asus offline tersebut, mataku jadi terbuka lebar jika laptop Asus memang jawaranya Laptop karena terkenal tangguh dan canggih.
Asus juga inovatif dengan banyak mengeluarkan series yang memenuhi kebutuhan banyak orang. Update banget deh dengan perkembangan zaman dengan mengikuti kebutuhan penggunanya.
Contoh ya. Selama ini yang aku tahu laptop bentuknya yang seperti itu. segiempat dengan keyboard yang jadi andalan mengetik. Setelah mengenal Asus, aku jadi tahu jika laptop Asus juga mengeluarkan series laptop yang bisa dilepas pasang. Jika dilepas jadinya seperti tablet. Laptop Asus ExpertBook B3000 Detachable namanya.

Asus Expert B3000 Detachable ini hanya 10,5 inchi. Kecil-kecil cabe rawit nih karena performanya luar biasa banget. Prosesornya sudah pakai Qualcomm Snapdragon 7C Gen 2 yang hemat daya. Bisa dipakai seharian tanpa error. WIndowsnya sudah pakai window 11 s dengan layar sudah touch screen.
Bobotnya ringan banget. Cuman 590 gram dengan tebal 0,9 cm. Bagusnya lagi, laptop Asus Expert B3000 Detachable ini sangat peduli dengan kesehatan mata loh. Emisi radiasi cahaya biru di layarnya sangat kecil sekali karena sudah tersertifikasi oleh Low Blue Light dari TUV Rheinland. Mau berlama-lama di depan laptop, mata tetap sehat.
Keyboardnya juga sudah antibacterial yang sudah tersertifikasi ISO 22196. Jadi selain mata yang sehat, tangan yang memegang keyboard juga sehat dari bakteri jahat. Masya Allah banget ya Asus ini. Harganya cuman 7 jutaan lagi. Terjangkau banget.
Nah kalau mau laptop yang stylish dan mengikuti gaya anak muda, ada laptop Asus VivoBook S14 S433. Ada 4 pilihan warna yang trendy banget. Gaja Green, Resolute Red, Dreamy White dan Indie Black. Aku nyobain yang Resolute Red. Warna merahnya cantik dan bikin semangat ngetik.

Asus VivoBook S14 S433 memiliki layar 14 inchi dengan tebal 15,9 mm dan berat 1,4 kg saja. NanoEdge Display di layarnya membuat layar tampak luas dan lega, Koneksinya juga cepat dengan wifi 6 atau modul 802 11ax yang termasuk teknologi komunikasi data nirkabel generasi terbaru. Fungsinya untuk mempercepat transfer data 3 kali lebih cepat dari biasanya.
Laptop Asus keren-keren deh. Masih banyak lagi laptop Asus yang alhamdulillah diperkenalkan kepadaku. Jadi makin jatuh cinta nih sama Asus. Setiap kali Asus mengeluarkan produk baru, aku selalu terpukau. Wow baru lagi nih dan selalu terupdate sesuai kebutuhan banyak orang. Pokoknya laptop Asus yang paling mengerti kita deh.
Tips Ringan untuk Mengembangkan Diri
Buat kamu yang suka menulis sepertiku, ini kesempatan emas untuk mengembangkan diri. Beberapa hal berikut ini mungkin bisa jadi acuan kamu untuk berkembang :
-
Jangan Bosan Belajar
Benar. Belajar itu sepanjang hidup. Bukan hanya di bangku sekolah. Di kehidupan ini banyak hal yang bisa kita pelajari dan petik hikmahnya. Maka jangan sampai bosan belajar ya.
Kalau bosan, coba lakukan hal yang kamu sukai dan lakukan dengan senang hati. Jadikan belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan. Misal menulis, membaca, nonton film itu juga bagian dari proses belajar.
-
Pelajari Hal Baru dengan Suka Cita
Banyak hal baru yang kita temui dalam hidup. Dalam hal ini aku menemukan hal baru di dunia blog. Rasa penasaran membuatku tertantang untuk memperdalam hal baru yang aku temui. Kamu bisa melakukannya dengan versi kamu. Lakukan dengan suka cita dan lihat hasilnya.
-
Belajar Konsisten Secara Perlahan
Belajar konsisten itu sulit bagi pemula. Setuju banget. Makanya jangan memaksakan diri melakukan hal yang sama setiap hari jika kamu belum sanggup. Perlahan saja dulu. Misal menulis. Jangan paksa harus menulis satu bab satu hari yang berisi 10 halaman. Semampunya saja. Misal satu halaman satu minggu.
Gak akan ada yang marah kok kalau kamu terlambat menulis. Kalau sudah terbiasa satu mingu satu tulisan, coba ditingkatkan jadi 3 hari satu tulisan. Begitu seterusnya. Pelan pelan saja. Nanti juga akan terbiasa.
-
Belajar dari yang Berpengalaman
Di atas langit masih ada langit. Makanya di atas orang yang berpengalaman, masih ada yang lebih berpengalaman. Jadi jangan malu untuk belajar dari mereka yang sudah jago ya. Gak apa-apa kok kalau kita belum bisa. Namanya juga belajar. Butuh proses.
Terus belajar dan mengembangkan diri dengan banyak bertanya. Kalau memungkinkan, bisa ikut kelas sesuai minat agar semakin mahir dalam bidang yang dijalani.
-
Pakai Alat Tempur Handal
Nah ini yang tidak boleh terlewat. Alat tempur yang handal untuk kegiatan yang kamu lakukan. Jika menulis, alat tempurnya pakai Asus ya. Soalnya Asus sudah terbukti handal, canggih, tangguh, performa juara dan up to date banget deh.
Kesimpulan
Gak terasa curhatanku tentang perjalanan ngeblog panjang juga ya. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Intinya apapun yang kita tulis, kalau alat tempurnya sekeren Asus, hasilnya juga bisa keren. Tinggal bagaimana usaha kita untuk terus mengembangkan diri.
Aku bersyukur menjadi seorang blogger. Dunia yang awalnya baru buatku dan kini malah aku tekuni dengan serius. Apakah aku meninggalkan dunia kepenulisan skenario? Tentu saja tidak. Selain menulis artikel di blog, aku juga tetap menulis naskah skenario dan insyaAllah akan menerbitkan buku lagi. Doain ya.
Bersama Asus sebagai alat tempurku menulis, insyaAllah semua impian bisa terwujud. Asus sudah menjawab semua kebutuhan menulisku. Baterai tahan lama, performa juara, stylish, layar besar dan lebar, serta keyboard yang sangat nyaman dipakai mengetik.
Pokoknya semua kebutuhanku untuk menulis artikel, naskah skenario, novel, cerpen bahkan bahan untuk bukuku selanjutnya disediakan sama Asus. Masya Allah banget. Terima kasih Asus. Bersama Asus, perjalanan ngeblogku yang awalnya hanya diary digital berjalan, kini semakin bercuan. Alhamdulillah.
“Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel”
**

