
Mau jalan-jalan, atau pergi ke tempat wisata yang sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama keluarga. Atau anak-anak sudah nagih staycation di akhir bulan, tapi mendadak ada keperluan penting yang membuat jatah staycation terpakai.
Itu saya banget. Tepatnya jalan-jalan atau staycation untuk memenuhi keinginan anak yang sudah terlanjur saya janjikan. Sebenarnya saya jarang memberikan hadiah kepada anak-anak. Biasanya saya memberikan hadiah ketika anak saya berhasil mencapai prestasi sekecil apapun itu.
Prestasi anak-anak pun bukan yang wah. Misal anak saya yang sulung bisa makan sendiri tanpa disuapin, bisa pakai baju sendiri, bisa rukun mainan sama adiknya atau tidak menangis saat jatuh. Maklum anak saya meskipun cowok, tapi manjanya minta ampun. Kalau melihat adiknya lebih bisa dari dia, barulah anak saya yang sulung mau berusaha lebih baik. Bagi saya, itu prestasi yang sederhana namun mengena.
Hadiah yang saya janjikan pun biasanya tergantung keinginan anak. Saya tidak menjanjikan mainan kalau anak saya tidak suka mainan. Pokoknya saya tanyakan dulu anak saya maunya apa, baru saya iyakan. Tapi tidak langsung saat itu juga saya kabulkan. Biasanya saya janjikan pada waktu yang tepat.
Misal ketika anak saya ingin mainan tembak-tembakan, saya dan suami akan membelikannya ketika anak saya tidak menangis saat jatuh. Dengan begitu, anak saya akan berusaha untuk menghilangkan sifat manjanya dan berani sakit. Tidak apa-apa jika ingin menangis. Mama atau papa akan mengobati luka kakak. Setelah itu boleh mainan lagi.
Saya perlu menegaskan hal seperti ini karena anak saya termasuk anak yang mudah trauma. Jika sudah pernah jatuh, dia takut untuk mainan lagi. Saya khawatir karena anak saya jadi penakut dan tidak berani mainan air, megang lumpur atau lari-larian. Pertumbuhannya jadi terhambat karena kurang mengekplor diri sendiri.
Demi bisa mengarahkan anak saya agar tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mandiri, sepertinya tak masalah memberikan hadiah untuk menambah semangat anak agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Daftar Isi
Belajar Menepati Janji Untuk Jalan-Jalan dan Staycation

Sebagai orang tua, saya merasa harus bisa memberikan contoh yang baik kepada anak. Jangan sampai kita menuntut agar anak melakukan ini itu, tapi kita sendiri abai dengan tuntutan anak kepada kita. Seperti ketika saya meminta anak saya untuk tidak cengeng, rukun dengan adiknya, mau belajar tanpa disuruh dan berbagai perintah lainnya.
Di satu sisi, anak pasti ingin mendapatkan sesuatu dari apa yang sudah dilakukannya. Saat itulah anak berhak untuk mengajukan tuntutan. Masalahnya tidak semua anak bisa mengutarakan keinginannya secara langsung. Seperti anak saya misalnya, anak saya harus ngambek dulu atau marah tanpa alasan untuk mengatakan bahwa dirinya bosan dan minta diajak jalan-jalan.
Awalnya saya kurang paham dengan sikap anak saya yang uring-uringan. Namun setelah saya dekati dan mengajaknya bicara empat mata, barulah anak saya mau mengatakan keinginannya untuk jalan-jalan. Bosan kataya di rumah terus. Hati kecil saya pun berontak karena saya kurang peka dengan keinginan anak.
Selama ini anak saya sudah menepati janjinya kepada saya untuk melakukan semua apa yang saya suruh. Makan sendiri tanpa disuapin, pakai baju sendiri, belajar tanpa diminta, tidak mainan hp terus dan perintah lainnya. Sekarang giliran saya untuk menepaiti janji saya dengan mengajaknya jalan-jalan atau staycation sebagai hadiah atas prestasi yang sudah dibuatnya.
Masalahnya saya tidak pernah menganggarkan dana untuk staycation. Keinginan anak saya untuk staycation muncul saat saya beberapa kali mendapatkan tawaran untuk mereview hotel. Jadi saya mendapatkan fasilitas menginap di hotel secara gratis. Tentu saja saya mengajak keluarga saya. Tak disangka jika anak saya senang dan ingin merasakan menginap hotel lagi.
Kalau sesekali sih tidak masalah. Tapi kalau sering ya mikir dulu nak. Makanya janji staycation saya buat jika anak saya mendapatkan prestasi yang besar. Missal mendapat nilai bagus di sekolahnya. Tapi kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak yang membuat dana untuk staycation terpakai bagaimana?
Biasanya saya membujuk anak saya untuk mengganti jadwal staycation dengan jalan-jalan ke tempat wisata atau kegiatan lainnya yang budgetnya lebih kecil. Untunglah anak saya mengerti. Tapi tetap saja anak saya bilang, “Kalau uang mama sudah ada lagi, kita tetap ke hotel kan ma?”
Oke baiklah. Saya pun mengangguk sambil tersenyum sambil berkata dalam hati, harus nabung lagi nih. Pengeluaran harus diatur lebih cerdas lagi.
Atur Pengeluaran Agar Tak Terlalu Konsumtif

Sebagai generasi milenial yang lahir tahun 1980-an, saya cukup pusing memikirkan pengeluaran rumah tangga yang sering tercampur baur. Belakangan saya baru sadar kalau saya lumayan konsumtif. Salah satunya lebih banyak belanja online dan melupakan menabung.
Meskipun di satu sisi saya juga produktif dengan terus berinovasi menghasilkan tulisan yang alhamdulillah ada duitnya. Namun tetap saja gaya konsumtif tetap saya jalankan. Apalagi di era digital ini semuanya serba mudah. Belanja tinggal buka marketplace, bayar sesuatu lewat aplikasi dan pembayaannya pun online. Tak perlu susah datang ke lokasi dulu.
Ternyata saya bukan satu-satunya generasi milenial yang lebih suka berselancar di dunia digital. Menurut seorang pengamat digital lifestyle, Ben Soebiakto, sifat kreatif, berani mengambil resiko, banyak ide dan sangat produktif serta sangat konsumtif adalah ciri-ciri generasi milenial pada umumnya.
Sifat konsumtif yang dimiliki generasi milenial ini tak lepas dari peran internet sebagai media digital. Perkembangan internet rupanya membawa perubahan banyak pada hampir segala sendi kehidupan, termasuk perekonomian yang semakin mudah dan cepat.
Banyak toko online bermunculan, aplikasi pembayaran online juga ikut mempermudah transaksi, bahkan untuk staycation pun kita tak perlu datang ke lokasi untuk survey. Semua bisa dilihat lewat internet.
Kemudahan yang diberikan oleh internet inilah yang menyebabkan meningkatnya konsumsi generasi milenial, sehingga pergerakannya lebih cepat dan lebih produktif.
Survey dari APJII pada tahun 2018 menyebutkan jika peran internet sudah melampaui 50 persen dari total penduduk Indonesia. Jadi dari total 262 juta jiwa, ada sekitar 143, 26 juta jiwa yang sudah menggunakan internet. 49% diantaranya adalah generasi milenial. (sumber : www.cnnindonesia.com)
Dari data tersebut, penggunaan internet yang dilakukan adalah untuk belanja kebutuhan sehari-hari, jalan-jalan, transportasi, bahkan staycation. Saya manggut-manggut saja saat mengetahui data tersebut karena saya pun melalukan hal yang sama.
Sebut saja beli pakaian, makeup, skincare, pesan tiket kereta api, pesan tiket pesawat, melihat destinasi wisata untuk jalan-jalan, bahkan mencari tempat staycation yang cocok untuk anak-anak pun saya menggunakan internet. Tepatnya menggunakan aplikasi yang bisa dibuka melalui internet. Semuanya mudah dan tinggal klik. Pembayarannya pun lewat online. Gak ribet dan untung banget.
Cara Mengatur Pengeluaran dengan Cerdas
Bagian paling sulit dalam mengatur pengeluaran itu kalau ada pengeluaran mendadak, sementara dana yang ada tidak tersedia. Maunya ada dana cadangan. Tapi kalau tak ada, saya lebih sering gigit jari dan memendam keinginan sampai dana yang dibutuhkan ada.
Pada kenyataan, sikap gigit jari dan menunggu dana muncul dengan sendirinya itu hampir mustahil. Kebanyakan dari kita malah mengambil sikap berhutang demi memuwudkan keinginan. Tidak masalah berhutang, tapi tetap harus bisa dikontrol agar hutang dapat dilunasi tepat waktu. Sisi baiknya, berhutang juga mengajarkan kepada kita untuk lebih disiplin mengatur keuangan.
Pengeluaran mendadak ini juga dihadapi oleh generasi z yang justru lebih konsumtif karena lahir saat internet sudah semakin maju. Fakta ini bisa dilihat dari survey yang menyebutkan bahwa usia 20 tahunan atau orang-orang yang first jobbers atau orang-orang yang baru mendapatkan pekerjaan lebih banyak belanja daripada usia 30 tahun ke atas.
Hal ini dikarenakan first jobbers baru merasakan mendapatkan penghasilan untuk pertama kalinya dan kebanyakan belum menikah. Jadi keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dengan menggunakan uang yang sepenuhnya untuk dirinya sendiri masih besar. Berbeda dengan usia 30 tahun ke atas yang kebanyakan sudah berkeluarga. Pengeluaran mereka kebanyakan bukan untuk diri sendiri lagi, tapi sudah untuk keluarga.
Untuk mensiasati agar pengeluaran tidak membengkak, perlu adanya pengaturan cerdas yang harus diterapkan agar pemasukan dan pengeluaran bisa seimbang. Setidaknya tidak sampai mengalami defisit. Beberapa aturan tersebut diantaranya :
Dahulukan Menabung
Menabung itu penting untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Jumlahnya tak harus banyak. Tentukan saja berapa persen dari pendapatan dan masukkan ke dalam tabungan. Misal 100 ribu per bulan. Lakukan rutin dan anggap uang hilang.
Awalnya memang susah, tapi kalau dibiasakan akan mudah kok. Tabungan juga diusahakan di awal. Bukan sisa dari pengeluaran.
Siapkan Dana Darurat
Dana darurat penting untuk jaga-jaga jika terjadi hal-hal di luar dugaan. Misalnya terjadi kecelakaan dan membutuhkan banyak uang untuk pengobatan. Sama seperti tabungan, alokasikan pendapatan untuk dimasukkan ke dalam dana darurat. Buat prioritas dana darurat setelah tabungan.
Tahan Belanja yang Tidak Penting
Belanja memang sangat menyenangkan. Namun sebagai milenial yang cerdas, kita harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Caranya cukup mudah. Jika barang yang ingin kita beli tidak membuat hidup kita terhenti, maka itu keinginan. Bukan kebutuhan.
Contohnya perhiasan. Kalau kita tidak punya perhiasan, hidup kita tetap bisa berjalan dengan baik. Kecuali kalau sembako. Harus kita beli, karena kalau tidak kita tidak bisa makan dan akhirnya sakit karena kelaparan.
Siapkan Rencana Pengeluaran Sejak Dini
Mau jalan-jalan ke tempat wisata di akhir tahun atau staycation sebagai hadiah kelulusan sekolah anak. Siapkan rencana pengeluarannya jauh-jauh hari. Kalau perlu sediakan dana khusus untuk acara tersebut.
Dengan begitu ketika hari H tiba dan ternyata ada pembengkakan dana, kita hanya menambahkan sedikit karena dana untuk jalan-jalan dan staycation sudah dipersiapkan terpisah sejak dini.
Hindari Hutang
Hutang hanya akan menambah beban pengeluaran yang sudah dipersiapkan sejak awal. Namun bukan berarti kita tidak boleh berhutang. Boleh saja, tapi usahakan berhutang untuk keperluan yang benar-benar penting dan sifatnya mendadak, seperti cicilan kendaraan bermotor, bayar cicilan rumah, bayar iuran sekolah dan keperluan penting lainnya.
Jika kita terlanjur hutang, pastikan untuk membayarnya tepat waktu. Atur pengeluaran khusus untuk membayar tagihan. Usahakan jangan menunggak dan selesaikan segera hutang agar tidak menjadi beban.
Traveloka PayLater Siap Pakai Kapan Saja. Pengeluaran Mendadak Jadi Tak Masalah
Traveloka adalah perusahaan marketplace di Indonesia yang melayani pembelian tiket pesawat dan hotel secara online. Seiring perkembangan teknologi, pelayanan travelokapun bertambah seperti pemesanan kereta api, bus, tiket masuk destinasi wisata, pemesanan makanan sampai informasi tentang leboratorium kesehatan.
Traveloka hadir untuk mempermudah melakukan perjalanan dan mencari tempat yang kita inginkan. Tinggal kita ketik kota yang ingin dituju dan pilih apa yang kita inginkan, maka traveloka akan memberikan deskripsi yang lengkap.
Misal kita ingin stayction di kota Batu Malang. Ketik saja hotel di Malang, maka akan muncul rekomendasi hotel yang bisa kita pilih. Lengkap dengan deskripsi hotel beserta fasilitas dan harganya.
Mau staycation tapi uang seret dan baru ada bulan depannya. Tenang, traveloka sudah menyediakan Traveloka PayLater yang terkenal dengan gerakan “Beli Dulu, Bayar Belakangan”. Jadi siap dipakai kapan saja. Ada pengeluaran mendadak, tak jadi masalah kalau pakai Traveloka PayLater.
Traveloka PayLater adalah produk Traveloka dari Caturnusa Sejahtera Finance yang memberikan fasilitas pembayaran berbasis cicilan tanpa kartu kredit. Fasilitas ini memberikan kesempatan kepada kita untuk membeli produk Traveloka dalam jangka waktu 1 sampai 12 bulan.
Traveloka PayLater membantu penggunanya untuk membatasi pengeluaran dengan mengatur pengeluaran secara cerdas. Kenapa? Ini dia alasannya :
Dapat Membeli Tanpa Bayar Sekarang

Dengan menggunakan Traveloka PayLater, kita bisa membeli produk Traveloka tanpa membayarnya di muka. Kita bisa mengajukan kredit dari 1 bulan sampai 12 bulan dengan bunga yang cukup ringan, yaitu 2,25% sampai 4,80% per bulan.
Dengan berbekal KTP saja, kita bisa mengajukan Traveloka PayLater untuk membeli produk Traveloka seperti : tiket pesawat, reservasi hotel, tiket kereta api, tiket atraksi dan aktivitas, tiket bus, rental mobil, restorant, bioskop, transportasi bandara, kereta bandara, tagihan BPJS, tagihan listrik, tagihan Telkom, tagihan TV kabel, kartu pulsa prabayar dan bayar cicilan asuransi. Lengkap.
Biaya Tambahan yang Transparan

Biaya di Traveloka PayLater hanya ada dua, yaitu biaya keterlambatan dan biaya cicilan. Semuanya sudah ditulis secara transparan di dalam aplikasi. Jadi dipastikan tidak ada biaya lainnya yang membuat pengguna terbebani, seperti biaya admin, biaya tahunan atau biaya langganan.
Biaya keterlambatan dikenalan 5% dari total jumlah yang belum dibayar. Sementara biaya cicilan sebesar 2,14 sampai 4,78% per bulan dengan maksimum pinjaman 12 bulan. Kita bisa mengatur sendiri berapa bulan kita menggunakan Traveloka PayLater dan menghitung sendiri berapa uang yang harus kita setor untuk cicilan.
Arus Kas Tidak Terganggu dengan Fitur Traveloka PayLater

Cicilan di Traveloka PayLater membantu kita untuk mengatur pengeluaran lebih awal, sehingga flow pengeluaran bisa dipantau dengan lebih baik. Untungnya di Traveloka PayLater juga ada fitur pengingat dan promo potongan bunga jika kita membayar cicilan Traveloka PayLater lebih awal. Kita juga bisa mengatur kembali waktu pembayaran di Traveloka PayLater dengan mudah.
Berguna banget kan pakai Traveloka PayLater karena arus kas kita tidak sampai terganggu, karena sudah diatur dengan baik oleh Traveloka PayLater.
Limit Kredit Bisa Meningkat Jika Bayar Tepat Waktu

Membayar cicilan tepat waktu sangat membantu untuk meningkatkan reputasi kredit di Traveloka PayLater. Jika reputasi bagus, maka limit kredit bisa ditingkatkan sampai Rp 50.000.000. Semakin baik reputasi kredit kita, semakin mudah kita bisa menggunakan Traveloka PayLater dalam jangka waktu yang lama.
Traveloka PayLater memberikan limit kredit yang disesuaikan dengan pengeluaran kita selama ini, sehingga tidak akan sampai melebihi kapasitas kemampuan kita untuk membayar cicilan. Membantu sekali bukan.
Keamanan Data dari Gestun dan Gesek Tunai

Gestun adalah usaha seseorang untuk mencairkan dana dari pembelian produk Traveloka dengan menggunakan Traveloka PayLater. Gestun ini jelas merugikan pengguna dan dilarang oleh Bank Indonesia maupun OJK karena bersifat illegal.
Pengguna Traveloka PayLater yang terdaftar bisa mendapatkan masalah dalam pinjaman karena menarik dana yang terlalu banyak sehingga tidak bisa membayar cicilan. Padahal pengguna merasa tidak pernah menarik dana tersebut.
Traveloka PayLater sudah dilengkapi dengan sistem keamanan berlapis yang menghindarkan pengguna dari aktivitas Gestun dan juga gesek tunai. Keamanan yang dimaksud berupa notifikasi login, autentifikasi dua faktor, autentifikasi biometric, verifikasi KTP serta Traveloka Secret Code.
Bagaimana cara kita mengenali Gestun atau tindak penipuan serupa?
Traveloka PayLater memberikan gambaran mengenai tindakan gestun dan pengguna harus mewaspadainya. Bahkan sangat dianjurkan untuk segera melapor kepada Traveloka PayLater agar bisa segera ditindak lanjuti. Beberapa indikasi gestun yaitu :
- Kita mendapatkan telpon dari seseorang yang tidak kita kenal dan menanyakan data pribadi kita
- Kita menerima sms berisi one-time password (OTP) atau konfirmasi untuk sebuah pinjaman yang tidak pernah kita lakukan
- Kita menerima sms atau email yang memberitahukan adanya usaha mengganti password atau masuk ke akun Traveloka kita dari tempat yang tidak kita ketahui.
- Kita menerima intruksi dari sms atau email untuk membuka website yang tidak jelas dan kita diminta untuk memasukkan username, atau password atau kode OTP Traveloka kita.
- Kita mendapatkan tawaran gestun dari seseorang yang tidak kita kenal
Jika kita menemui tindakan mencurigakan seperti itu, kita langsung saja lapor ke cs Traveloka PayLater agar kita terhindari dari gestun dan tindakan merugikan lainnya.
Cara Mendaftar Traveloka PayLater
Cara mendaftar Traveloka PayLater cukup mudah. Syaratnya hanya dua, yaitu punya KTP dan berusia antara 21 sampai 70 tahun. Tinggal isi data diri dan pekerjaan, lalu tunggu approve dari sistem. Setelah disetujui, kita akan mendapatkan Traveloka PayLater virtual number. Setelah itu bisa langsung digunakan deh. Mudah kan.
Urutan cara pengajuan Traveloka PayLater adalah sebagai berikut :

Kesimpulan
Sudah tahu kan kalau Traveloka PayLater ternyata berguna banget untuk saat-saat yang penting. Lebih dari itu, Traveloka PayLater juga membantu kita untuk keperluan mendadak dan bisa dipakai kapan saja. Selain itu kita diajari untuk bisa mengolah kemampuan kita dalam membayar cicilan dan mengajari kita untuk membayar cicilan tepat waktu.
Jujur guna banget pakai PayLater, terutama buat emak-emak seperti saya yang harus mengatur segala macam pengeluaran rumah tangga. Termasuk salah satunya pengeluaran untuk staycation seperti yang sudah saya janjikan untuk anak saya.
Janji adalah hutang dan harus segera dipenuhi. Karena itu ketika janji sudah jatuh tempo dan ternyata dana belum mencukupi, ada Traveloka PayLater yang bisa membantu memenuhi janji demi kebahagiaan anak. Kita pun bisa mengatur flow pengeluaran dengan lebih cerdas dan lebih matang. Tanpa perlu mengganggu kas bulanan yang sudah terencana.
Masih ragu pakai PayLater. Coba deh karena jujur guna banget pakai PayLater. Benar-benar bisa dipakai kapan saja. Pengeluaran mendadak jadi tak masalah karena sudah diatur dengan cara yang cerdas oleh Traveloka PayLater.
**
Referensi :

