Finally, selesai sudah revisi naskah skenario pintu berkah kisah di balik penderitaan anak pengepul ban bekas. Dari 92 halaman yang jelas over script, harus dipadatin menjadi 75 halaman atau maksimal 80 halaman. Tapi saya menyerah, bisanya madatin sampai 84 halaman saja. Lebih kecil dari itu saya bingung. karena dialog dan narasi yang saya buat sepertinya penting semua. Takut salah motongnya nanti.
Merevisi naskah skenario memang sudah menjadi kewajiban penulis skenarionya. Apalagi kalau tim. Head writernya yang harus bertanggung jawab. Ini soal kerja profesional. Tidak bisa main lempar ke inhouse kantor. Itulah yang saya alami beberapa hari ke belakang. Saya main lempar naskah yang over limit untuk direvisi inhouse kantor. Karena saya lelah, sumpek akibat banyak hal. Stres yang tidak berkesudahan. Akibatnya masalah merembet kemana-mana dan dampaknya juga ke banyak hal. Kerja jadi asal-asalan, tidak fokus dan terkesan amatiran. Saya ditegur produser akibat sikap saya yang dianggap “kekanakan” itu. Punya masalah apapun, tetap harus profesional. Jangan sampai kebawa perasaan. Urusan “baper” tidak boleh dibawa ke pekerjaan.
Saya diam. Mencoba merenungi teguran atasan dan juga cuitan asisten. Mencoba menjadi penengah dengan belajar mendengar. Tapi saya harus bicara. Diam bukan solusi tepat untuk membuka sumbat yang menghalangi akal. Saya menunggu waktu. Menunggu saat tepat untuk membuka kata. Hingga akhirnya pak produser yang mengawalinya. Saya ditelpon. Ditegur dengan bahasa yang alhamdulillah, profesional. Karena masih mau negur saya yang masih emosi. Jangan begitu Indah, tidak baik, harus tetap profesional, kamu bukan amatiran. Saya lega, pikiran saya terbuka dan naskah skenario saya tetap dapat jatah slot. Alhamdulillah. Coba kalau saya menuruti emosi sesaat. Mungkin jalan rejeki saya ditutup selamanya. Jangan sampai ya ALLAH.

Belajar dari pengalaman membuat saya belaja bijak. Tidak asal main perasaan. Meskipun perempuan dilahirkan dengan kepekaan perasaan yang tinggi. Tapi pekerjaan membutuhkan akal dan pikiran yang logis. Saya diberi jatah sceneplot lagi meskipun tidak banyak. Yah, karena saya hanya jalan sendiri. Biasanya bareng asisten. Akibatnya kerjaan tidak bisa selesai satu hari. Saya butuh dua hari untuk menyelesaikan 80-90 halaman. Saya juga punya batas kemampuan untuk menulis cepat. Bukan sekedar mengetik huruf di atas keyboard. Tapi menulis yang juga memakai pikiran. Bagaimana membuat adegan, bagaimana memikirkan dialog. Itu semua bukan pekerjaan mudah. Saya butuh fokus. Satu hal yang akhirnya saya simpulkan. Jangan menutup rejeki dengan meninggikan emosi hati. Karena emosi bisa menggelapkan segalanya. Termasuk jalan rejeki kita. Renungkan baik-baik, buka pikiran yang buntu dan berpikir positif. Maka semuanya akan baik-baik saja. Itu yang sudah saya buktikan. InsyaALLAH…
Alhamdulillah suasana hati yang sempat memburuk perlahan membaik dengan sendirinya. Saya jadi bisa berpikir jernih. Mudah-mudahan ke depannya bisa menulis skenario lebih baik lagi.
PINTU BERKAH, KISAH NYATA… I AM COMING. HEHE
Salam sayang,
Wahyuindah


2 Comments. Leave new
Setuju sekali, saya pun juga pernah mengalaminya. Nanti yang ada malah pintu rejeki ditutup karena emosi adalah sahabat setan. Thanks BTW sharingnya.
Keren sekali bisa jadi seorang novelis… Aku sangat tertarik sekali