
Perpisahan SD Attha bersama saya dan suami
Perpisahan SD sepertinya masih menjadi dilemma dan perbincangan tersendiri di kalangan satuan pendidikan. Apalagi jika dibarengi dengan kata “wisuda” yang memang lebih tepat disandingkan untuk para mahasiswa bangku kuliah. Untuk apa tingkatan pendidikan di bawahnya ikut-ikutan?
Begitu mungkin yang dipertanyakan sebagian besar kalangan. Terutama TK dan SD yang dirasa tidak perlu menyandang kata wisuda untuk naik tingkat ke jenjang SMP. Hingga akhirnya muncul kata purnawiyata atau ada yang menyederhanakannya menjadi perpisahan SD.
Dilema ini sebenarnya juga saya rasakan. Sebagai orang tua dari anak sulung saya yang baru saja melaksakanan perpisahan SD di sekolahnya, saya ikut merasakan kegetiran tersebut. Apalagi, saya tidak hanya bertindak sebagai orang tua murid yang saat itu diwisuda. Tapi juga panitia wisuda sekaligus anggota komite sekolah.
Di momen berharga itu, saya hanya berusaha menjadi ibu sekaligus panitia yang berusaha menyukseskan acara perpisahan sekolah. Tidak ada kata wisuda, karena wisuda di sekolah anak saya dilakukan sederhana di aula sekolah. Sementara wali murid dan panitia menggelar pentas seni yang berisi adu bakat anak-anak yang sudah berlatih untuk mengenang masa-masa sekolah selama 6 tahun.
Perpisahan SD Menyisakan Rasa Haru dan Harapan Orang tua

Attha bersama teman-temannya di kelas 6C beserta wali kelas dan Kepala Sekolah
Ada yang bilang perpisahan SD itu terlalu menyakitkan. Sebenarnya bukan menyakitkan sih, tapi justru menyisakan haru yang membuat kenang terlalu mendalam. Rasa sakit mungkin muncul karena akan berpisah dengan guru dan teman-teman satu angkatan.
Bagi saya, justru haru yang mendomininasi karena melihat perkembangan anak saya dari kelas 1 yang pendiam hingga kelas 6 yang akhirnya punya teman dan mampu bersosialisasi.
Attharizz Altafio Zaidan Rahman. Anak kecil dengan rambut tebal berponi itu biasa dipanggil Attha. Anak sulung saya yang saat ini bisa berbangga karena punya sahabat setia. Bukan prestasi akademik yang dia banggakan. Tapi teman sepermainan yang menemaninya selama sekolah di sekolah dasar.
Attha memang anak yang pendiam. Baru masuk sekolah dan berkumpul dengan teman sekolahnya di kelas 3 karena kelas 1 dan 2 masih covid. Anak saya tidak banyak bergaul. Dia lebih suka sendiri dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Saya bersama komite dan para guru di sekolah
Saya ingat betul bagaimana saya harus konsultasi dengan gurunya di kelas mengenai keadaan Attha. Tidak berani mendengar suara keras, hingga saya memasukkannya ke kegiatan ekstrakurikuler sekolah marching band.
Kelas 4, Attha baru mengaku mulai punya teman dan kelas 5 punya sahabat setia yang dia sebut sebagai bestie. Tak banyak anak yang dekat dengan anak saya. Satu saja sudah cukup. Begitu katanya.
Untungnya saya melihat bukan hanya satu anak yang dekat dengan anak saya. Ada beberapa. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuat anak saya akhirnya mengenal yang namanya “teman”.
Sejauh ini, mungkin saya terlalu banyak menuntut kepada Attha. Anak lanang saya. Nilai akademiknya harus bagus, belajar harus giat, ikut lomba untuk mengumpulkan sertifikat dan menemukan bakat terpendam. Saya yang ambisius, sementara anak saya berjalan tenang di air yang beriak. Tak tertanggu dengan ocehan dan tuntutan saya.
Attha mudah sakit dan memendam sesuatu ketika ada yang menekan pikirannya. Seharusnya saya tahu itu dan memang saya mengetahuinya. Tapi saya masih tetap memaksanya untuk belajar, nilai harus bagus dan saya leskan dengan harapan dia seperti saya dulu. Pendiam, berprestasi dan rajin.
Tapi Attha bukan saya. Kepribadiannya mungkin memang duplikat saya, tapi kehidupan anak saya adalah miliknya sendiri. Bukan milik saya. Itulah yang pada akhirnya saya pelajari. Kesalahan saya adalah memaksakan kehendak saya kepadanya. Attha hanya ingin berjalan sesuai hatinya.
Ketika saya membebaskannya untuk melangkah, saya melihat senyum mengembang di wajahnya. Attha ingin bahagia. Senang dengan apa yang dia lakukan. Bukan paksaan, tapi panggilan hati.
Ketika saya melihatnya di wisuda di sekolah, namanya dipanggil ke depan untuk menerima kalung Gordon dengan layar menampakkan cita-cita anak. Saya tercengang ketika melihat dia versi AI memakai baju koki. Karena ketika saya menanyakan cita-citanya, Attha selalu bilang ingin jadi youtuber. Bukan koki.
Kenapa koki? Agar mama tak perlu masak lagi. Kalau mama laper, biar kakak yang masaki buat mama. Mama gak boleh capek.
Berlinang air mata saya. Ada cinta berlebih di hati anak saya kepada saya yang selama ini tidak saya perhatikan. Anak saya melihat letih saya dan muncul empati yang mungkin saat itu belum bisa dia wujudkan. Dan ketika di panggung pentas seni sabtu pagi itu, anak saya duduk menyemangati teman-temannya yang maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan.
Anak saya tidak termasuk dalam penerima 10 besar nilai TKA dan maupun nilai prestasi non akademik. Bahkan ketika ada doorprize dibagikan kepada siapa saya yang mau mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, anak saya hanya diam. Tak ingin mengacungkan tangan.
Saya baru sadar jika anak saya tidak mau “terlihat”. Dia nyaman ada di bangkungnya. Dia tidak mencari panggung karena rasa nyaman itu melebihi segalanya.

Saya dan para panitia perpisahan SD anak saya
Sementara saya, saya berdiri di deretan panitia. Sesekali ke atas panggung untuk membantu membawa piala untuk anak-anak berprestasi, mengatur anak-anak untuk tampil, bahkan berfoto bersama guru dan komite. Saya tampil di panggung, sementara anak saya tidak mau tampil dan lebih tenang di posisinya.
Belum waktunya,
Kalimat itu bergemuruh di pikiran saya. Toh saya dulu baru berprestasi saat SMP dan SMA. Tidak perlu ngoyo. Biarkan Attha dengan dunianya sambil perlahan dibimbing untuk menemukan jati dirinya. Attha anak yang pintar dan cerdas. Dia akan menemukan panggungnya sendiri di saat yang tepat .
Terima kasih kakak. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan cerdas selama ini. Mama sayang kakak. Jadilah anak yang baik dan selalu bahagia. Sukses selalu buat kakak dan lebih rajin ya di bangku SMP nanti.
(Catatan kecil dari hati seorang ibu yang selalu bangga kepada anak sulungnya)
**

