
Bromo bersalju!
Fenomena aneh yang terjadi belum lama ini sempat mengundang perhatian banyak orang. Tepatnya tanggal 30 Mei 2023, kaldera Bromo yang biasanya diliputi pasir, kini berganti menjadi salju.
Menurut Septi Eka Wardani selaku Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, fenomena salju di Kaldera Bromo tersebut dikenal dengan nama “frozen” atau membeku. Sebelumnya fenomena tersebut memang pernah terjadi, terutama di bulan-bulan khusus seperti Juni sampai Juli yang udaranya pada saat itu memang sedang dingin.
Masalahnya salju sekarang berbeda dengan sebelumnya. Tingkat dinginnya lebih dingin mencapai nol derajat celcius, bahkan minus. Bisa dibayangkan bagaimana dinginnya suhu di Bromo saat ini. Bisa beku kita jika tidak membawa jaket yang super tebal.
Fenomena salju di Bromo ini disinyalir karena adanya perubahan iklim ekstrim yang saat ini melanda bumi. Ironisnya, salju yang ada di puncak Gunung Everest justru menghilang. Selama ini, gunung tertinggi di dunia yang memiliki ketinggian 8.849 meter tersebut memang dikenal memiliki puncak yang selalu diselimuti salju tebal. Saking tebalnya, dari kejauhan terlihat berwarna putih.
Salju yang menyelimuti puncak Gunung Everest tersebut sudah ada selama puluhan tahun. Bagaimana mungkin sekarang menghilang begitu saja?

Seorang pendaki asal Inggris bernama Kentoon Coll yang berusia 49 tahun menceritakan pengalamannya saat mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut belum lama ini. Pendakian yang dilakukannya termasuk pendakian ke 17 ke Gunung Everest. Jadi Kentoon Coll sudah tahu pasti kondisi Gunung Everest dari awal pendakiannya.
Menurut Kentoon, salju di Gunung Everest masih ada pada awal tahun 2000-an. Tapi kini salju tersebut sudah menipis, bahkan menghilang. Berganti dengan bebatuan keras dan terjal. Apa yang terjadi sampai salju yang sudah puluhan tahun menutupi gunung tertinggi di dunia tersebut mendadak lenyap tak bersisa.
Jawabannya ternyata adalah karena alam. Tepatnya karena perubahan iklim yang membuat salju dan es mencair. Dampak dari mencairnya salju dan es di Gunung Everest salah satunya adalah bermunculannya mayat para pendaki yang pernah mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut. Tercatat lebih dari 4800 pendaki yang sudah menjajaki Gunung Everest. Tidak sedikit dari mereka meninggal karena cuaca dingin yang ekstrim di sana.
Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal mengungkapkan jika munculnya jasad para pendaki di Gunung Everest tersebut tak lain karena pemanasan global yang membuat lapisan es dan gletser mencair dengan cepat.
Tim peneliti dari Universitas Leeds dan Aberystwyth di Inggris pernah mengebor gletser Khumbu dan menemukan bahwa es di sana memiliki suhu yang lebih hangat dari suhu udara rata-rata. Tercatat suhu minimum es adalah -3,3 derajat celcius. Namun yang ditemukan adalah es dengan suhu 2 celcius lebih hangat.
Pantas saja jika es mencair lebih cepat. Jika dibiarkan semua es di dunia bakalan mencair dan daratan akan hilang tersapu oleh lautan.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi kita tercinta. Kenapa muncul perubahan iklim yang dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Dampaknya luar biasa loh bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Alam bahkan ikut teriak seolah ingin menghentikan pemanasan global yang membakar bumi secara perlahan.
Daftar Isi
Pemanasan Global Menggiring kita pada Kiamat

Kalau mendengar kata kiamat, rasanya ngeri ya. Ironisnya sadar tidak sadar, kita sekarang sedang berjalan menuju ke arah kiamat loh. Apalagi melihat dampak dari pemanasan global yang nyata belakangan ini.
Fakta ilmiahnya, ternyata para peneliti sudah memprediksi adanya kiamat di tahun 2050 loh. Riset tentang penemuan ini dilakukan oleh Breakthrough National Centre for Climate Restoration pada pertengahan tahun 2019.
Di dalam riset yang diterbitkan oleh Dailymail pada 15 Juni 2019 tersebut disebutkan bahwa bumi akan terdampak oleh perubahan iklim yang cukup siginifikan, sehingga manusia akan sulit beradaptasi dan akhirnya musnah.
Untuk mengukur sejauh mana kita berada pada titik pemusnahan manusia ini, dibuatlah jam kiamat yang menandakan akhir zaman. Jam kiamat ini sebenarnya adalah jam simbolik yang memberikan peringatan kepada manusia agar tidak mendorong manusia kepada kehancuran total melalui berbagai pengrusakan yang dilakukan kepada bumi. Jam kiamat dilambangkan dengan waktu 00.00.
Jika pada tahun 1998, jam kiamat dilihat 9 menit menuju kehancuran total. Maka di tahun 2020, jam kiamat bergerak lebih cepat, yaitu 100 detik menuju 00.00. Ngeri ya.
Indonesia Berada Pada Keadaan Mengkhawatirkan

Banyak berita tentang bencana alam di televisi yang kita lihat belakangan ini. Kekeringan dan banjir sudah melanda negeri. Bahkan yang terbaru adalah munculnya salju di Bromo yang tak biasa. Semua pertanda tersebut seakan mengatakan bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Bumi sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Termasuk di Indonesia.
Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati bahkan lantang mengajak masyarakat Indonesia untuk gotong royong dalam menahan kencangnya laju pemanasan global yang sedang terjadi.
Dalam catatannya, tahun 2016 adalah tahun terpanas di Indonesia dengan anomali sebesar 0,8 derajat celcius. Sementara tahun 2020 menempati urutan terpanas kedua dengan anomali sebesar 0,7 derajat celcius.
Laporan terbaru dari WMO yang terdapat dalam State of the Climate 2022 bahkan menyebut tahun 2022 menempati peringkat ke 6 sebagai tahun terpanas di dunia. Kondisi terpanas tersebut rupanya dipicu oleh trend pemanasan global yang sedang mewabah ke seluruh negeri.
Bukti nyata dari dampak pemanasan global di Indonesia adalah hilangnya salju pada puncak Jaya Wijaya di Papua. Di Gunung Everest yang termasuk puncak tertinggi di dunia saja, sudah tidak ada salju. Apalagi di Gunung Jaya Wijaya yang termasuk gunung tertinggi di Indonesia. Miris kan.
Bencana banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2021 lalu juga menjadi bukti nyata lainnya. Belum lagi bencana alam lainnya yang sepertinya sering terjadi belakangan ini di Indonesia. Pemicunya adalah cuaca ekstrim dan perubahan iklim
Pertanyaannya? Kenapa cuaca ekstrim dan perubahan iklim bisa terjadi. Jawabannya tentu saja akitivitas manusia itu sendiri seperti kebakaran hutan, polusi udara melalui asap pabrik, asap kendaraan bermotor dan masih banyak lagi. Semua itu menjadi pemandangan setiap hari yang merusak alam. Karbondioksida dilepaskan lebih banyak ke udara, menyebabkan suhu udara lebih panas dari biasanya.
Belum lagi kebiasaan kita untuk boros energi, sehingga residunya menguap ke udara dan menambah panas bumi karena mengandung efek rumah kaca. Klop deh. Di rumah saja, rasanya seperti dipanggang.
Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim menyebut jika perubahan iklim sebenarnya sudah terjadi 10 sampai jutaan tahun yang lalu. Penyebab utamanya adalah tingginya konsentrasi karbon dioksida dan gas lain di atmosfir bumi yang menyebabkan adanya efek rumah kaca. NASA bahkan menyebut jika konsentrasi karbon dioksida ini juga muncul dari aktivitas manusia.
Itulah kenapa kita perlu mengendalikan perubahan iklim untuk melindungi bumi agar tidak semakin sakit. Bagaimana caranya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita mengetahui lebih jauh mengenai asal usul penyebab dari perubahan iklim, yaitu emisi karbon.
Apa itu Emisi Karbon?

Emisi karbon adalah perpindahan senyawa karbon ke udara yang menyebabkan udara terasa makin panas. Seperti kita tahu, karbon termasuk unsur yang mudah bereaksi dengan unsur lain di udara. Sifatnya yang reaktif bisa menghasilkan senyawa lain yang berbeda-beda. Unsur karbon sendiri termasuk penyumbang terbesar adanya perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang saat ini melanda bumi.
Menurut data dari Journal of Cleaner Production, ternyata perangkat pintar seperti komputer PC, laptop, monitor, smartphone dan tablet serta jaringan telekomunikasi lainnya juga menyumbangkan emisi karbon ke udara.
Jejak karbon secara globalnya pun meningkat dari tahun ke tahun. Jika tahun 2007, jejak karbonnya hanya 1 persen, maka di tahun 2020, jejak karbonnya meningkat jadi 3,5% dan akan mencapai 14% di tahun 2040 mendatang. Sumber jejak karbon tersebut rupanya paling banyak berasal dari smartphone yang menyumbang 4% pada tahun 2020.
Jika dilihat dari data tersebut, kita harus sadar bahwa penggunaan smartphone dari tahun ke tahun juga meningkat. Penggunaan tersebut rupanya memicu meningkatkan emisi karbon di udara, sehingga peringkat polusinya juga bertambah. Hal ini membuktikan bahwa teknologi juga mengambil peran dalam perubahan iklim yang terjadi.
Tindakan kita untuk Bersama Bergerak dan Berdaya Selamatkan Bumi

Menjaga bumi sudah menjadi kewajiban kita. Apalagi kita mengambil banyak dari kekayaan bumi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Udara bersih kita hirup untuk bernafas, pohon kita tebang untuk membuat kertas dan perabotan rumah, hutan kita bakar untuk membangun lahan, dan masih banyak lagi hal lain yang kita ambil dari bumi.
Tak bisa dipungkiri jika aktivitas kitalah yang membuat bumi seakan marah dan mulai memberontak. Es mecair, salju turun di tempat yang tidak seharusnya, lautan menyapu daratan dan masih banyak lagi fenomena aneh dan tidak bisasa yang kita temui.
Jika tidak segera bertindak, bisa-bisa jam kiamat akan bergerak lebih cepat dari sekarang. Jika ilmuwan saja bisa memprediksi kemusnahan manusia akibat perubahan iklim terjadi pada 50 tahun ke depan, maka prediksi itu bisa jadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya jika kita terus berdiam diri.
Lihat saja, selain cuaca panas yang melanda hampir seluruh Indonesia, ada gelombang panas yang ternyata melanda negara di belahan bumi tengah. Besok ada femonena alam apalagi yang muncul akibat dari perubahan iklim yang terus terjadi ini.
Tak perlu berpikir terlalu dalam tentang cara menyelamatkan bumi. Kita tak perlu merogoh kocek mahal kok, bahkan bisa dibilang murah dan gratis karena bisa melakukannya dengan sederhana dari rumah. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk selamatkan bumi yaitu:
-
Mengurangi Sampah Plastik
Kita bisa mengurangi sampah plastik dengan membawa tas belanjaan sendiri dari kertas, membawa tumbler dari rumah untuk minum, membawa bekal makaan dari rumah agar tidak jajan di luar. Tahu sendiri kan kemasan jajan di warung atau toko itu kebanyakan dibuat dari plastik.
Dengan membawa bekal dari rumah, keinginan kita untuk jajan akan dikurangi. Sehingga kita bisa mengurangi dampak sampah plastik dari kemasan makanan yang kita beli. Kita juga bisa menghabiskan makanan untuk mengurangi dampak sampah organik.
-
Membuang Sampah pada Tempatnya
Membuang sampah pada tempatnya juga bisa membantu mengurangi dampak emisi karbon di udara. Sampah akan tertumpuk pada tempat tertutup, sehingga baunya tidak sampai menguap dan mengganggu. Lingkungan juga menjadi bersih tanpa sampah yang berserakan.
-
Hemat Energi, Termasuk Listrik dan Air
Matikan lampu pada siang hari dan matikan keran air saat tidak digunakan bisa menjadi cara untuk menghemat penggunaan energi. Sama halnya dengan mengurangi penggunaan smartphone, tv maupun tablet. Emosi karbon yang dihasilkan bisa ditekan jika penggunaannya bisa diatasi dengan bijak.
-
Menamam Pohon untuk Penghijauan
Kebakaran hutan di Kalimantan dan Papua membuat hutan di Indonesia berkurang drastis. Padahal hutan di kedua pulau tersebut menjadi paru-paru Indonesia yang menyelamatkan kita dari polusi udara yang buruk.
Gerakan menanam pohon bisa menumbuhkan kembali pepohonan, sehingga lingkungan menjadi hijau kembali. Bukankah pohon menghasilkan oksigen yang bagus untuk pernafasan kita. Semakin banyak pohon, semakin banyak oksigen dan udara bersih yang dihasilkan.
-
Kurangi Berkendara dan Perbanyak Jalan kaki
Selain membuat tubuh sehat, jalan kaki juga dapat membuat lingkungan bersih dan sehat. Apalagi jika dilakukan banyak orang. Polusi akibat kendaraan bermotor jadi berkurang. Karenanya usahakan untuk mengurangi menggunakan kendaraan bermotor jika bepergian dalam jarak dekat. Pakai sepeda biasa atau jalan kaki bisa lebih sehat loh.
Kebijakan untuk Mengurangi Risiko Perubahan Iklim

Ada 4 kebijakan inovatif yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi di negara kita.
Keempat kebijakan tersebut menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menjadi langkah strategis yang bisa diupayakan untuk menimimalisir dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini. 4 Kebijakan tersebut diantaranya :
-
Climate Change Fiscal Framework (CCFF)
CCFF adalah kerangka kebijakan yang memformulasikan kebijakan fiscal dan strategi untuk memobilisasi dana di luar APBN. Gunanya untuk mengurangi kadar CO2 dengan mencari sumbernya darimana saja. Setelah itu perlu dihitung berapa dana yang dibutuhkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
-
Carbon Pricing
Kebijakan carbon pricing mengacu pada para pelaku usaha yang pada kegiatan usahanya menimbulkan pencemaran lingkungan. Penerapannya dinamakan polluters-pay-principle. Di dalam kebijakan ini, pelaku kegiatan yang menimbulkan pencemaran, diwajibkan untuk membayar biaya atas dampak pencemaran yang dihasilkannya.
Kebijakan ini secara tidak langsung memicu para pelaku usaha untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar. Mengolah limbah usaha agar tidak mencemari lingkungan dan membuat inovasi agar limbah pabrik bisa digunakan kembali untuk kepentingan masyarakat.
-
Energy Transition Mechanism (ETM)
Energy Transition Mechanism adalah kebijakan untuk mengubah penggunaan batu bara menuju energi baru dan terbarukan. Misal untuk penggunaan motor yang banyak menimbulkan polusi, maka bisa diganti dengan motor listrik yang lebih ramah lingkungan. Begitu juga dengan kompor listrik dan permintaan sumber energi lainnya.
-
Pooling Fund Bencana
Pooling fund bencana lebih kepada mekanisme untuk mengumpulkan dana dengan cara menghitung risiko bencara alam yang terjadi pada suatu daerah. Setelah itu pemerintah akan menghitung berapa banyak dana yang terkumpul dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan.
Terlepas dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, saya pun jadi tergerak untuk ikut bersama bergerak berdaya membantu melindungi bumi dengan cara yang lebih sederhana. Caranya dengan memulai mendisiplinkan diri dalam menjaga lingkungan.
Memotivasi diri sendiri untuk mau menanam tanaman di depan rumah, membantu membersihkan lingkungan, menghabiskan makanan untuk mengurangi sampah organic, mendaur ulang sampah, membawa tumbler dan bekal makan dari rumah dan cara sederhana lainnya bisa loh berdampak bersar jika dilakukan serentak dan bersama-sama.
Hasilnya memang tidak akan terlihat dalam waktu dekat. Tapi jika dilakukan bersama-sama, beberapa tahun ke depan pasti akan terlihat nyata hasilnya.
Kesimpulan
#BersamaBergerakBerdaya melindungi bumi sebenarnya adalah tugas kita sebagai manusia yang tinggal di dalamnya. Kita yang sudah mengambil kekayaan bumi untuk kepentingan kita. Apa tega kita membiarkan bumi sakit setelah apa yang kita lakukan pada tempat tinggal kita selama hidup ini.
Butuh kesadaran diri untuk ikut bersama bergerak dan berdaya melindungi bumi dari kepunahan dan kehancuran. Tak perlu menunggu orang lain memulai lebih dulu. Mulainya dari diri sendiri dan ajak keluarga dan teman dekat untuk bergerak bersama.
Jika kesadaran diri mulai muncul, percaya kok lambat laun bumi akan kembali hijau. Toh kita juga yang akan diuntungkan dari kegiatan #UntukmuBumiku yang dilakukan serentak oleh banyak orang.
Bagaimana? Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!
**
Referensi :
https://tugu.com/artikel/menjaga-bumi-dengan-cara-masa-kini
https://lindungihutan.com/blog/emisi-karbon/
https://news.detik.com/berita/d-6750375/fenomena-salju-di-pasir-kaldera-bromo-simak-penjelasannya
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-47678407
https://www.merdeka.com/uang/empat-kebijakan-pemerintah-untuk-perubahan-iklim.html

