
Pernah ketemu sama orang yang menyenangkan gak di sekitar kamu. Atau orang yang nyebelin karena sukanya ghibah. Sukanya ngomongin orang. Gak didengerin itu punya kuping. Didengerin itu bikin panas hati. Duh, rasanya pengen nonjok aja.
Tenang. Jangan terlalu terbawa emosi sama tipe orang seperti itu. Kalau punya keberanian, bisa langsung ditegur. Kalau pengen aman biar gak kena omelan, ya diam saja. Menghindar. Tapi sepertinya susah ya buat menghindar, kalau orang yang nyebelin itu ada di lingkungan kita. Apalagi kalau yang dibicarakan ternyata mengandung kebenaran.
Ih pada ngomongin siapa sih ini. Kok sepertinya ngena banget sama sosok yang saat ini lagi viral. Sosok yang suka nyinyir sama kehidupan orang lain. Ditambah mulutnya yang mlenca mlence gak karuan. MasyaAllah…
Saya tersenyum geli dulu ya. Karena apa yang teman-teman tebak ada benarnya loh. Terutama yang saat ini mengikuti berita viral dan mengamati dunia film pendek. Yup. Bu Tejo dalam film pendek TILIK.
APA ITU FILM TILIK?

Bagi orang Jawa, pasti paham artinya tilik. Yaitu menjenguk orang sakit.
Jadi film pendek berjudul Tilik ini berkisah tentang orang desa yang menjenguk bu Lurah di rumah sakit. Perjalanannya unik loh. Naik truk bak terbuka. Bisa dibayangin ya, bagaimana serunya naik truk ramai-ramai. Ini dari desa masuk ke kota loh. Pasti ada apa-apanya nih di jalan.
Sebagai orang awam, pasti kita bisa mengira apa saja yang akan terjadi selama perjalanan. Sebut saja satu per satu. Misal saling bergunjing di atas truk, ada yang muntah karena mabok perjalanan, ban truk pecah, truk mogok, dicegat polisi, kebelet pipis sehingga truk terpaksa mencari pemberhentian sementara. Hmm… apalagi hayooo…
Nah, di film TILIK ini semua praduga saudara-saudara banyak benarnya loh. Kecuali ban truk pecah dan mogok di tengah jalan. Mungkin karena sejak keberangkatan dari desa, supir truknya sudah menyiapkan performa truknya dengan baik. Bensinnya sudah penuh dan bannya sudah oke. Jadi tidak sampai terjadi insiden itu.
www.wahyuindah.com
Kondisi truk oke, tak jadi masalah. Tapi kejadian tak terduga selama perjalanan seperti tiba-tiba kebelet pipis, muntah karena mabok perjalanan, atau tiba-tiba dicegat pak polisi karena masuk perkotaan pakai truk. Kan gak boleh ya, truk masuk kota. Nah, semua kemungkinan itu ada loh di TILIK. Pas banget kan.
Cerita TILIK memang sangat nyambung dengan kehidupan sehari-hari kita. Adegannya hampir sama, bahkan mungkin sama dengan kejadian nyata. Seolah kita bisa bilang, kalau kita menjenguk orang sakit ke perkotaan naik truk, ya bakalan kayak gini kejadiannya. Nah kan.
FAKTA SEPUTAR FILM TILIK
Pernah terpikir tidak sih, kenapa belakangan ini banyak yang bicara soal Tilik. Terutama sosok Bu Tejo yang viral itu. Saya sendiri baru melihat film fenomenal ini beberapa hari yang lalu loh. Ketika teman satu group whatsapp membicarakannya.
Berawal dari rasa penasaran, saya pun langsung jatuh cinta sama film ini. Kenapa?
KARAKTER TOKOHNYA KUAT

Karakter tokoh memang menjadi salah satu hal penting yang jadi sorotan. Itu karena tokoh memainkan peranan penting dalam keberhasilan suatu tayangan.
Jadi misalnya ceritanya datar, tapi dimainkan dengan senatural mungkin dan acting yang bagus, pasti akan menarik. Ceritanya menjadi hidup dan diterima penonton.
Inilah yang terjadi pada Tilik. Karakter Bu Tejo dan Yu Ning menjadi sorotan public. Itu karena keduanya berseteru membicarakan satu orang, yaitu Dian. Kembang desa yang tak kunjung menikah di usianya yang sudah matang.
Tokoh lainnya seperti Bu Tri atau pak polisi juga kuat. Meskipun hanya sebatas cameo, tapi keberadaan mereka penting loh. Cerita jadi makin hidup.
SCRIPTNYA GILA . KEREN BANGET

Saya salut sama penulis naskahnya. Gila, keren banget. Gimmicknya natural dan plot twishnya bikin saya langsung standing appllous. Gak terduga banget.
Gimmicknya sebenarnya biasa saja. Tapi pembawaannya yang bikin terkesan. Misal, ibu-ibu yang tiba-tiba muntah di truk. Muntahnya karena mabuk perjalanan. Ini biasa saja kan. Tapi adegan bu Tejo yang nyolot dengan kesaksiannya tentang Dian, membuat suasana biasa tadi berubah panas.
Pemicunya ya karena melihat ibu muntah tadi. Jadi ingat lihat Dian yang muntah dan blab bla bla. Ada saja yang keluar dari mulut bu Tejo. Lagi-lagi membicarakan soal Dian. Tektok dialognya nyambung dan ngena banget.
Apakah cerita melulu soal Dian? Bakalan boring dong.

Tenang, penulisnya membelokkan perhatian penonton lewat adegan bu Tejo kebelet pipis. Akibatnya, harus cari tempat pemberhentian sementara. Pindah setting, biar adegan tidak di atas truk terus. Keren. Pemilihan jatuh di depan masjid.
Lalu pembicaraan apakah masih seputar Dian?
Jawabannya iya, tapi alur bergerak maju. Sekarang bukan hanya Dian yang kabarnya punya pekerjaan tidak benar. Berhubungan dengan Fikri, anaknya Bu Lurah. Tapi ada kabar lain. Soal bu Tejo sendiri. Yaitu mengenai kabar kalau pak Tejo akan mencalonkan diri sebagai calon Lurah. Pengganti Bu Lurah yang sakit.
Informasi baru. Cerita bergerak maju. (maaf ya sedikit spoiler. Hehe)
Pokoknya setiap pergerakan tempat, selalu ada informasi baru yang disuguhkan kepada penonton. Sehingga kita akan selalu penasaran dengan adegan selanjutnya.
www.wahyuindah.com
Yakin deh, harus nonton sampai ending kalau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Dian. Ada Plot Twish di akhir cerita yang bakalan bikin kita geleng-geleng kepala. Kalau saya sih langsung tepuk tangan.
KEKUATAN DIALOG MENDOMINASI JALANNYA CERITA

Film pendek kebanyakan identik dengan pergerakan gambar. Sedikit dialog. Artinya gambar yang berbicara. Berbeda dengan tayangan televisi yang mengedepankan kekuatan dialog para pemainnya.
Namun menonton Tilik membuat saya mengubah paradigma saya. Bahwa film pendek juga bisa keren dengan mengandalkan kekuatan dialog. Gambar memang tetap menjadi penunjang, tapi bukan yang utama lagi.
Lihat saja Bu Tejo yang harus nyerocos terus sepanjang perjalanan.Tanpa henti dan dengan informasi komplit soal Dian. Dialognya panjang dan sarat informasi baru. Dari dialog inilah kita bisa tahu apa yang terjadi dalam cerita ini.
Uniknya, tokoh yang dibicarakan tidak ada di tempat. Cerita soal Dian diceritakan dengan apik oleh bu Tejo. Diannya sendiri baru muncul di ending cerita. Keren kan. Hanya dari dialog bu Tejo loh, kita sebagai penonton jadi tahu persoalan mengenai Dian. Hebat gak tuh. Yang hebat kekuatan ghibahnya bu Tejo ya. Hehe..
KEKUATAN GAMBAR KEREN

Gambar dalam film pendek sangat diperhitungkan. Itu terjadi juga pada film Tilik. Gambarnya bersih, ada pemandangan pedesaan dimana truk gotrek melaju. Tetap sedap dipandang mata.
Baca juga : Review film Korea Strannger From Hell
Sudut pandang pengambilan gambar juga oke banget. Dari depan, jarak jauh, dari atas, pokoknya kameramennya pandai menempatkan posisi deh.
Seperti suasana di dalam truk. Pasti sumpek kan unyel unyelan banyak orang begitu. Tapi dengan sudut pengambilan gambar yang pas. Apalagi posisi bu Tejo di tengah, sehingga suaranya bisa terdengar oleh ibu yang lain. Sangat berpengaruh pada jalannya cerita.
Gambar perkotaan juga muncul. Yaitu rumah sakit tempat Bu Lurah dirawat. Tapi hanya di bagian parkirannya saja. Tenang, gambarnya juga masih keren kok. Pokoknya setting masih okelah. Nilainya 7 dari saya. Hehe.
KERJASAMA TIM YANG LUAR BIASA

Ini soal siapa dibalik layar pembuatan film Tilik. Antara sutradara, produser, kru bahkan para pemain semuanya kompak. Sekitar 25 ibu-ibu yang berdiri di atas truk juga maksimal aktingnya. Semuanya natural.
Ini yang membuat hasil terlihat nyata. Karena kerja tim yang solid. Produsernya mbak Elen, bahkan ikut ke lokasi syuting loh. Dan meluk semua ibu-ibu yang ikut syuting. Pada nangis sambil mengucapkan terima kasih. Jadi ikut terharu kan.
Sebagai informasi saja nih. Film pendek yang berdurasi 34 menitan ini, diproduksi oleh Ravacana Films bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogyakarta. Diproduksi tahun 2018. Makanya gak ada yang pakai masker kan. Karena belum ada si mbak corona waktu itu. Jadi masih aman kumpul-kumpul.

Melalui tangan dingin seorang wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara film dan Elena Rosmeisara sebagai produser, Film Tilik berhasil mencuri perhatian masyarakat luas. Banyak pujian didaratkan untuk film ini.
Dicaci sekaligus dipuji lebih tepatnya. Dicaci karena sosok bu Tejo ya Naudzubillahimindzalik… dipuji karena emang keren ceritanya. Duplikat kehidupan nyata.
Tilik juga berhasil menyabet beberapa penghargaan di bidang perfilman loh. Seperti Film Pendek Terpilih di Piala Maya 2018, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival tahun 2018 dan Official Selection World Cinema Amsterdam tahun 2019. Waaah.
(sumber : www.lifestyle.kontan.co.id)
Hebatnya lagi, penikmat film TILIK bertambah dari hari ke hari. Terbukti sejak diupload di youtube oleh sang sutradara tanggal 17 Agustus 2020 kemaren, jumlah viewernya sudah 2,4 juta. Dan bertambah menjadi 2.947.648 penonton hari jumat kemaren (21 Agustus 2020).
Bisa dibayangkan kan berapa penambahan viewer di hari-hari mendatang. Semuanya tak luput dari kontroversi seorang bu Tejo. Ibu-ibu yang suka nyinyir dengan gaya bercerita yang nyebelin. Dibawakan dengan acting natural lagi oleh seorang Siti Fauziah. Sukses membuat para nitizen geregetan. Di twitter juga masih menjadi tranding topic loh. Keren deh pokoknya.
MEMAHAMI KARAKTER ORANG DARI FILM TILIK

Siapa saja yang sudah menonton TILIK, pasti setuju jika bu Tejo merupakan sosok yang sebenarnya ada di lingkungan sehari-hari kita. Coba perhatikan sekeliling deh. Ada gak tetangga kita yang suka nyinyir, yang suka ngomongin orang. Atau jangan-jangan kita yang lagi diomongin. Haduh, pokoknya jangan sampai kita yang justru ikutan ghibah ya.
Lain Bu Tejo, lain lagi Yu NIng. Lawan Bu Tejo yang selalu membantah setiap tudingan Bu Tejo.Kelihatan sekali membela Dian, mengingatkan Bu Tejo untuk tidak percaya begitu saja dengan internet. Dan informasi yang diberikan belum tentu benar. Karena belum ada buktinya.
Kira-kira, penonton simpati tidak ya sama sosok Yu Ning. Saya sih sedikit. Karena perhatian saya tersedot pada gaya bicaranya Bu Tejo. Tak teralihkan ke yang lain.
Pertanyaannya, bagaimana seharusnya sikap kita. Seandainya kita berada di antara ibu-ibu dalam truk Gotrek itu. Atau justru kita yang menjadi buah bibir mereka.
Tenang, beberapa sikap berikut ini mungkin bisa dijadikan pilihan bijak. Tentunya agar kita tidak terjebak dalam dosa ghibah ya man teman.
PENDENGAR YANG BAIK
Jika ada berita yang sampai ke telinga kita, dan kita tahu siapa orang yang dibicarakan. Alangkah lebih baiknya kita diam dulu. Perihal ada banyak yang membicarakannya, jangan terpancing untuk ikut berkomentar. Apalagi ikut ghibah. Ayahab itu alias bahaya. Bisa jadi fitnah.
Karena itulah, cukup jadi pendengar yang baik saja. Lalu berhenti di kamu saja. Jangan menyebarluaskan berita yang senada kepada orang lain. Biar tidak semakin meluas kabar beritanya. Belajar untuk tutup mulut itu kadang baik loh. Yee kan.
PENYARING INFORMASI YANG BAIK
Internet itu buatan orang pintar. Begitu kata bu Tejo. Artinya apa yang diberitakan di internet sudah pasti benar. Begitukah? Keliru bu…
Justru karena semakin bebasnya kita menyuarakan apapun dalam pikiran kita ke internet, maka semakin tipis peluang kebenarannya. Internet hanya wadah untuk menyambung informasi. Kebenarannya masih butuh dicari. Makanya dalam hal ini jangan percaya bu Tejo ya.
Saring dulu informasi yang kita dapat. Jangan langsung dipercaya. Dalam hal ini saya sepakat sama Yu Ning. Belum tentu internet itu benar. Harus dibuktikan dulu.
Nah, bagaimana dengan saksi mata. Berita yang menyebutkan melihat Dian jalan sama laki-laki di mall, juga bukti bahwa Dian sudah bisa beli motor, hp di awal kerja. Darimana uangnya kalau bukan dari pekerjaan yang gak bener.
Tidak punya jawaban seperti Yu Ning? Tenang. Jika mengalami hal semacam ini, tetap diam saja. Kumpulkan saja semua informasinya. Saring yang benar. Tapi tetap jangan disebarluaskan. Sebelum terlihat kebenarannya. Kalau perlu, tanyakan kepada yang jadi bahan pembicaraan. Agar tidak terjadi fitnah.
BERPRASANGKA BAIK
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan orang lain, sampai kita melihat sendiri kebenarannya. Masalahnya apa yang dibicarakan bu Tejo belum tentu benar. Karena infomasinya pun tidak didapat dari Dian langsung. Melainkan dari omongan orang, dari saksi mata, bahkan dari berita di internet.
Maka kita pun tidak boleh berburuk sangka pada orang yang kita bicarakan. Tetaplah berprasangka baik. Karena belum tentu orang yang dinilai buruk itu, adalah orang yang buruk. Siapa tahu semuanya keliru. Kalaupun benar, kita tidak boleh menghakiminya.
Jadi tetap khusnudzon ya. Karena nasib seseorang itu tergantung prasangka hamba-Nya loh.
BERSIKAP BAIK
Bagaimana kalau orang yang diperbicangkan memang buruk tingkah lakunya. Bagaimana kalau berita ghibah itu ternyata benar?.
Tetap bersikap baik ya. Jangan ikut menghakimi. Karena yakin deh, setiap perbuatan kita itu akan kembali kepada kita. Kalau sekarang kita buruk sama orang, siapa tahu besok giliran orang lain yang bersikap buruk sama kita. Kalau kita sekarang ghibahin orang, besok giliran kita yang dighibahin. Mau? Saya ih ogah.
Tapi bagaimana kalau kita sudah bersikap baik, tapi tetap saja ada yang ghibahin kita?
Jawabannya simple saudara-saudara. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Alias biarin aja. Karena dosa ditanggung mereka sendiri kan. Jangan sampai kita ikutan nyumbang dosa. Karena kalau kita marah, dosa mereka bisa berpindah ke kita loh. Sayang kan, kita ngumpulin pahala, hilang dan berpindah kepada mereka yang dzolim sama kita.
Gimana? Banyak pelajaran kan yang bisa diambil dari film TILIK. Saya masih terbawa suasana loh, ketika menulis ini. Masih tak habis pikir sama endingnya Tilik yang di luar perkiraan saya. Sumpah deh, teman-teman yang belum nonton, wajib nonton. Lalu kita bisa saling sharing tentang keseruannya.
Biar gak penasaran, ini saya kasih link youtubenya. Selamat menonton.
Sumber referensi :


54 Comments. Leave new
Kak Indah,
saya suka dengan reviewnya, apalagi mengambil sudut pandang dari yang suka bikin naskah. Buat saya yang awam dan penikmat film ada yang ngga terpikirkan.
Buat saya pribadi, saya memilih netral saja, didengerin dan disaring kaya yang mbak Indah tulis diatas. Kalau kita yang dighibahin, ngga usah diladeni,, yang kaya gitu biasanya senang kalau kita kepancing emosi. Belum lagi melihat kalau yang ghibah selalu ada dimana aja, di kantor, di lingkungan rumah, pertemanan, dll. Kita ngga bisa terus-terusan lari menghindari, jadi ya harus dihadapi.
nah, bener banget. biarin aja. jangan kepancing. semoga kita selalu menjadi pribadi yang baik ya.agar dikumpulkan sama orang-orang yang baik juga. Aamiin
aku suka bgt nih alur ceritanya….ditambah sosok bu tejo yg hadir sebagai penyegar di film ini,
sama kak. aku juga suka ceritanya. hehe
Film ini fenomenal banget dan mengena. Seperti menggambarkan kondisi saat ini dengan apik. Nggak heran kalau bu tedjo langsung naik daun.
actingnya yang bagus mbak. dan sebenarnya banyak karakter bu tejo di sekitar kita. jadi ngena deh.
Kekuatan film Tilik yaitu pada cerita yg sederhana namun sangat relate dengan kehidupan kita sehari2. Ditambah dengan akting para pemain yg natural, membuat penonton juga ngga merasa bosan.
Salut buat semua yg terlibat dalam film ini
sama kak. aku juga salut. semoga bisa bikin film sekeren tilik ya. Aamiin
Saya belum pernah lihat film ini. Tapi saya ikut terhanyut cerita film ini dengan membacanya. Review film pendek yang cukup detail dan sangat membuat penasaran untuk menonton, walaupun banyak yang pro dan kontra.
tonton kak. pasti langsung komentar. hehe
Indonesia banget ya drama “Tilik ” ini, termasuk sosok seperti Bu Tejo
Sosok yang ngga bisa dibantah. Kalo ada yang membantah, makin menjadi
kita banget. kehidupan sehari hari kita. tenngok kiri kanan, pasti ada yang sama kayak bu tejo. hehe
Berbagai macam karakter manusia disekitar kita terkadang bikin senang, jengkel, dan sebagainya. Melihat karakter bu tejo yang suka ghibah terkadang membuat jengkel rasanya ingin nonjok tuh mulut biar diam tapi apa boleh buat itu merupakan contoh dari kehidupan wanita jaman sekarang.
bener banget koh. banyak karakter manusia yang bisa dijadikan pelajaran. dan sebenarnya apa yang ada di film mencontoh kehidupan nyata. biar kita tahu kalau begini loh sebenarnya karakter orang yang ada di sekitar kita.
Emang sih ceritanya ada di kehidupan sehari-hari. Walaupun kalo ada deket-deket aku, aku lebih banyak pendengar aja. Soalnya pasti kalah suara ama dominasi orang model bu Tejo. Btw…aku masih belum ngeh, yg jadi Lurah itu ibunya Fikri atau bapaknya Fikri? Biasanya sebutan Bu Lurah, suaminya engga ikutan jadi Pak Lurah sih…Engga disebutin sih ya di akhir film. Kita aja yg lalu nyebut dia Pak Lurah. Lah, cuma muncul sekian detik…
Tanya sama bu Tejo aja mbak.hehe,atau sama si Dian. eh nanti yang jawab malah Yu Ning. hihihi….
Salut sama orang-orang yang berada di balik layar. Tentu saja sesuatu yang disuguhkan di depan layar adalah hasil kerja keras bersama. Film Tilik ini sangat bagus dan mengenai sasaran dengan tepat.
bener banget. keringat di balik layar lebih dasyat dibandingkan didepan kamera. sama sama capeknya mereka. lebih malah.
Aku jatuh cinta sama karakter Bu Tejo, untuk film Tilik nya juga menurutku sangat out of the box, alur cerita nya yang sangat related dengan kehidupan sekitar kita. Keren lah pokona mah 😉
tos dulu bang Adhe. aku juga jatuh cinta. eh ada anak lanang juga loh yang kalah keren filmnya. rumah produksinya sama. yuk nonton dan siap siap jatuh cinta lagi. hehe
Saya baca hingga tuntas ini Mba, gak saya lewatkan buat belajar dari review seorang penulis skenario dari film ini 😀
Soal penulisan skenario yang apik dan mampu menarik perhatian publik.
Makin pengin belajar nulis skenario nih Mba Indah hehehe.
Baru semalam saya nonton film ini hahaha kocak ibu2 ini.
hayok teh, belajar nulis naskah skenario. hehe… tilik kocak emang. bikin ngeselin. sampai sekarang masih terngiang mulut dasyatnya bu Tejo. hehe
Saya udah nahan dari kemarin-kemarin buat ga nonton filmnya, kaya nunggu saat yang pas aja gitu, tapi gara-gara ini jadi bocor pertahanan saya. Akhirnya saya nonton wkwk.
Tapi bagus banget emang. aklau namanya film yang digarap serius hasilnya juga pasti ga main-main ya. Keren banget sampai jadi viral begitu. Keren lah Tilik
jangan ditahan kak. nanti bocor beneran. hehehe…
Aku suka peran bu tejo totalitas banget dan emang menjiwai banget yah mba
cucok. bentar lagi jadi artis sinetron tuh. hahaha
Habis nonton tilik akhirnya saya jadi suka nontonin film pendek 15 menitan. Bener banget ini karakter tokohnya di Tilik kuat bangett sampai banyak yang kepengaruh
sama kak. sekarang jadi berburu pengen melahap habis semua film pendek. dan mau bikin film pendek juga. hihihihi
Masih tentang TILIK dan selalu mendapat sebuah pandangan baru yang menarik. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari film pendek, terutama TILIK yang saat ini santer dibahas. Sebuah kualitas yang ga perlu diragukan.
Oiya sedikit koreksi, Mba. Mungkin maksudnya ‘standing applause’ ya alias tepuk tangan berdiri? Heheh
Oh iya, salah tulis saya. makasih mbak dikoreksi. aku perbaiki. hehe.
Aslik waktu nonton Tilik aku bisa ngakak lepas banget, liat ekspresi monyong dan dialog bu Tejo. pas ending agak kecewa sih, pengen ada lanjutannya. tapi ya namanya film pendek hihihihi
Nanti aku bikinin lanjutannya kak. hehe
belum nonton sampai hbs, baru sampai orang2 desa singgah di masjid utk pipis. Tp dr awal saya udah mikir, keren juga ini film pendek tp setting alurnya dibuat bergerak maju, secara mereka di perjalanan naik truk. Keren sih, akting ibu2nya juga juara, bisa kalah kayaknya pemain2 sinetron sekarang hahaha *ups
bu Tejo habis ini ditarik jadi artis sinetron tuh. hehe
kebetulan ini aku tuh belum sama sekali nonton film Tilik mba, beneran pengen nonton yg tenang agar dapetin makna yg dalam. Selintas emang bagus ini tuh film Tilik, padahal di produksi dari tahun 2018 dan baru viral tahun ini
viral bisa kapan saja ya kak. yang penting berkarya dulu. berikan yang terbaik
AKU SUKA FILM TILIK INI!
hehe pas Tilik ini tranding di twitter aku langsung cari filmnya di youtube, eh bener pas nonton filmnya natural banget dan Bu Tejo emang aktingnya dapet banget. Duh pas banget deh jadi bukibuk tulang ngomporin gibah hahah …
tos mbak. sukanya sama filmya aja ya. jangan sama ghibahnya bu Tejo. hehe
TILIK ini film 2018 kah, mbak? tapi baru booming sekarang apa karena baru diunggah ke Youtube?
filmnya memang ibu-ibu banget yang kalo ngumpul jadi ghibah *eh
jawabannya misteri ilahi. hehe. kita gak tau kapan karya kita viral atau gak. bisa jadi bikinnya 10 tahun yang lalu, baru viralnya tahun ini. atau bikin hari ini, eh baru seminggu udah viral aja. bismillah aja mbak. Allah yang ngatur. kita manusia mah berusaha yang terbaik aja.
Yogya memang daebak lah urusan bikin film dan teater. Yang aku heran kenapa baru viral sekarang ya? Padahal udah dibikin sejak 2018. Dan karakter bu Tejo itu kuat banget sih, ternyata udah main di Bumi Manusia juga. Tapi aktor2 Yogya memang luar biasa kok, jadi kangen nonton teater di Yogya nih.
mau dong diajakin ke yogya. hehe. saya juga jadi kepengen lihat teater juga.
Aku udah nonton film Tilik. Emang keren sih, ini. Cuma sebel sama endingnya huhu. Kebetulan ada sosok Bu Tejo di tetanggaku dan harus sabar ngadepinnya hiks
terapin tips dari aku mbak buat hadapi bu Tejo. hehe…
Sebenernya seluruh karakter TILIK itu bisa ada di sekitar kita. bahkan bisa jadi saya ini seorang Bu tejo. hehehe. Tapi yang paling bikin WOW adalah pemeran Bu tejo ini bisa mendadak terkenal loh
bukan mendadak terkenal mbak. tapi lewat proses. kan produksi filmnya tahun 2018. baru terkenalnya tahun 2020. berarti bukan mendadak itu. tapi emang keren bu Tejo. menjiwai banget. artis pendatang baru perlu belajar dari bu tejo nih soal penjiwaan karakter.
Sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari membuat tilik jadi viral ya kak, Gemes lihat akting bu Tejo.
pengen jitak ya mbak. hahahaha…. podo
semua itu memang baik, namun jika di praktekkan ke dalam kehidupan sepertinya butuh proses jadi pendengar baik, pembicara baik, prangsanka baik juga hehe
bisa karena terbiasa kak. Kalau dipraktekkan setiap hari, insyaAllah bisa. semuanya balik ke diri masing-masing.
Ulasan yang keren soal karakter sebagai metafora masyarakat kak
Aku sula film tilik ini.terutama bagian attahiyat
makasih mas udah mampir. tilik menggelitik ya. hehe
sama ya kayak kehidupan. semua orang punya perannya masing2. ada yang baik ada yang jahat. aku awalnya nonton film ini ga ngeh lho apasih maksdnya, ternyata dalam bgt maknanya
bener kak. karena sejatinya film itu memvisualkan apa yang terjadi di sekitar kita. jadi bisa dalem banget maknanya. apalagi real story kayak tilik